Inspiration

Kesalahan Lebih Menarik dari Kebenaran?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Orang bilang, kita hidup dalam era post-truth, yakni era ketika kebohongan itu diulang-ulang, akan diterima sebagai kebenaran. Pada suatu hari, Paul Joseph Goebels bilang, “A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Tampaknya, kalimat yang pernah diucapkan Paul Joseph Goebels yang menjadi Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Jerman 1933-1945 itu, bisa merasuki siapa saja. Akibatnya, kita lebih mudah terjebak pada paradigma bahwa kesalahan itu lebih menarik dari kebenaran. Semoga saya salah dalam hal ini dan saya senang bila salah hehe. Itulah sebabnya, judul tulisan ini saya beri tanda tanya (?).

Nah, ini juga yang saya alami pada hari Senin, 29/4/2019. Ketika saya hendak membagi renungan siang kepada para sahabatku melalui WAG, ternyata, saya salah pencet yang harus saya share. Bukannya renungan yang terkirim, tetapi kalimat pujian dari Bapak Uskup kepada Panitia Karnaval Paskah Kota Semarang. Kontan saja, begitu terkirim, saya seketika mendapatkan aneka ragam jawaban yang intinya menyatakan saya salah kirim. Dan itu benar.

Bahkan, yang selama ini tidak pernah merespon kiriman renungan saya pun jadi merespon kiriman saya yang salkir alias salah kirim itu dengan aneka warna sesuai dengan keunikan pribadi masing-masing hahaha. Tentu, saya sangat berterima kasih bahwa mendapat respon, entah sebagai koreksi maupun pertanyaan. Semua saya syukuri.

Hanya, saya jadi teringat kalimat Paus Fransiskus. Suatu hari Beliau bilang begini, kurang lebihnya. “Kalau segala sesuatunya normal dalam pelayanan, tak seorang pun berterima kasih. Namun, begitu terjadi kesalahan, semua bereaksi, bahkan ada yang menghakimi. Lihatlah, saat pesawat terbang itu teroperasikan secara normal, baik, onschedule, semua diam tanpa rasa terima kasih. Namun begitu terjadi keterlambatan, penundaan atau kecelakaan, semua bereaksi sedemikian rupa….”

Saya pun lantar berpikir spontan, jangan-jangan memang benar bahwa kesalahan lebih menarik dari kebenaran. Itulah sebabnya, kita bisa mudah terjerat dalam kabar bohong di era post-truth ini dari pada percaya pada kebenaran. Atau kita lebih mudah menghakimi dari pada mengampuni. Jangan-jangan ini hanyalah salah satu dampak dari kehidupan di era post-truth yang memang tidak mudah ini.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga refleksi spontan dan singkat ini bermanfaat. Mohon maaf. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 29/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi. Informasi tentang post-truth dan Paul Joseph Goebels saya peroleh dariĀ https: //www.antaranews.com/berita/716876/literasi-anti-hoax-mengingatkan-kembali-bahaya-post-truth

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4408610950471965?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.