Inspiration

Ngabuburit Meruwat Negeri Pancasila, Mengapa dan Bagaima

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ada banyak cara memeringati Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni. Presiden H. Ir. Joko “Jokowi” Widodo menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari libur secara nasional. Syukurlah, ini menjadi penanda kebangsaa.

Referensi pihak ketiga

Saya mempunyai pengalaman unik. Tahun lalu, kami bersama para seniman perupa mengadakan Panorama Mural Pamcasila di kompleks Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata. Tahun ini, bekerjasama dengan Pelita (Persaudaraan Lintas Agama yang dikoornir Setyawan Budy), Gusdurian Semarang (yang dikoordijir Mas Ajid) serta Campus Ministry Unika Soegijapranata dan Karya Kerasulan Jurnalistik INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan (saya sebagai penanggungjawab dua terakhir), kami menyelenggarakan “Ngabuburit Meruwat Negeri Pancasila”.

Menjelang acara, kepada para jurnalis, saya membuat press release sebagai berikut. Saya tampilkan selengkapnya.

“Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita mempunyai Pancasila sebagai dasar dan jiwa bernegara dan berbangsa. Pancasila melandasi dan menjiwai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam spirit Bhinneka Tunggal Ika dengan konstitusi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Itulah PBNU kita bersama. Namun secara puitis kurenungkan realitas ini. Dengarkanlah.

‘Kawan,

KNegeri kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang dirasuki sukerta.

Sukerta mencabuti bulu-bulu Garuda Pancasila sebagai landasan dan jiwa hidup bangsa.

Sukerta haus kuasa menghalalkan segala cara dengan tipuan murahan namun laris manis disantap siapa saja yang terbuai rayuannya hingga dari mulutnya muntahlah kata-kata benci dan permusuhan kepada pihak lain yang berbeda; dari matanya melesat dendam kesumat kepada siapa saja yang dianggap menghambat kekuasaan bagai syahwat; dari tangannya terlontar batu-batu kekerasan bahkan diangkut dengan ambulan!

Sukerta merusak Pancasila, menghancurkan NKRI, merobek-robek Bhinneka Tunggal Ika dan melawan UUD 1945. Negeri Pancasila sedang dirasuki sukerta yang merusak tatanan etika sosial politik dengan repetisi kebohongan dan provokasi kekerasan! 

Tak ada ritual kultural Nusantara khususnya Jawa selain Meruwat! Meruwat demi membuang dan menghancurkan sukerta bukan dengan aksi kekerasan melainkan aksi kearifan._ 

Mungkin sukerta itu menyusup dalam diriku atau dirimu atau diri mereka atau diri siapa saja yang lupa bahwa Kita adalah Pancasila dan Pancasila adalah Kita!”

( Johart Wurlirang, 29/5/2019:

Aloys Budi Purnomo Pr)

Seiring dengan puisi itu, kuundang para Sahabatku: Bergabunglah dalam peristiwa ritual kultural Nusantara: “Ngabuburit Meruwat Negeri Pancasila” dalam rangka Kelahiran Pancasila 1 Juni 2019. Bertempat di Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata Gg. Kampung Asri Semarang. Hari Sabtu, 1 Juni 2019, pukul 16.00 – 21.00.

Referensi pihak ketiga

Begitulah akhirnya, “Ngabuburit Meruwat Negeri Pancasila” akan dapat kami laksanakan dengan baik. Disemarakkan oleh Penyair Teatrikal Sosiawan Leak, Doa untuk Indonesia serta Ritual Ruwatan secara Lintasagama oleh para pemuka lintasagama (Haji Taslim Syahlan, Pdt Sediyoko, Pandita Wahyudi, Tokoh Hindu Eko Pujianto, dan para tokoh lain hadir.

Luar biasa istimewa, saya merasa tersahormat sebab Wali Kota Semarang Hendrar “Hendi” Prihadi juga hadir dan memberi “Ular-ular Kebangsaan”. Hendi bahkan hadir paling pertama di antara semua yang lain, sehingga kami bisa bicara serius tentang banyak hal soal kemanusiaan dan pembangunan hampir satu jam. Termasuk pembicaraan tentang masalah Tambakrejo dan masa depan sejahtera bagi mereka.

Referensi pihak ketiga

Begitulah Ritual Ruwatan Negeri Pancasila pun kami mulai tepat pukul 16.30 WIB. Dipandu Hesti dan Ajid sebagai “MC” acara diaeali dengan menyanyikan Indonesia Raya, mengheningkan cipta diiringi Pancasila Rumah Kita, pembacaan bersama Pancasila, dan sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Setyawan Budy koordinator Pelita. Sambutan kedua oleh saya sebagai tuan rumah. Sambutan puncak adalah sbutan kebangsaan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar “Hendi” Prihadi.

Sesudah sambutan, giliran Sosiawan Leak, penyair teatrikal asal Solo membawakan dua puisinya. Seperti biasa, ia selalu memukau hadirin, siapa pun dengan gaya kepenyairannya yang penuh humor, teatrikal dan penuh kritik sosial.

Sesudah itu Haji Taslim Syahlan sebagai Ketua FKUB Jateng memberikan tausiyah dan memimpin doa Buka Puasa. Sesufah buka bersama, para hadirin yang beragama Islam mengadakan sholat berjamaah di ruang doa saya di pastoran lalu lanjut lagi dengan ritual ruwatan.

Saya sendiri didaulat memandu jalannya ritual ini. Disaksikan dan didukung oleh Seniman Budayawan Tosan Aji Gedongsongo Ungaran, saya mempersilagkan Ki Dalang Cilik Danang Lawu yang membawakan suluk Sotasoma disambung Kidung Macapat Ki Broto Siwakul dan saya dalam Dandanggula dan Maskumambang. Sesudah itu. Para tokoh lintas agama melangitkan doa sesuai agama masing-masing. Puncak ruwatan adalah memecah Kelapa Wulung dan menaburkan bunga harum dan air kelapa manis simbol harum manis yakni hidup harmonis dalam kerukunan dan persaudaraan yang harmonis.

Ritual ini diiringi lagu-lagu kebangsaan yang dikumandangkan Tim Campus Ministry. Eksi bertindak sebagai pemimpin lantunan lagu kebangsaan ini.

Referensi pihak ketiga

Terima kasih atas perhatian, kehadiran dan kerja sama yang baik selama ini kepada semua Sahabatku. Ada Mas Yunantyo Adi dan Niken istrinya, ada Magdalena Sindajanty, ada Lukas Awi dan Beneddetus Agung, Maria, dan masih banyak Sahabat lain, termasuk Kak Hernowo Budi Luhur dan Kak Lita Widyo, Pendeta Andy, dan masih banyak yang lain. Salam Pancasila! Salam peradaban kasih.***

Johart Wurlirang, 01/6/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3056515507287982?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.