Inspiration

Praksis Peradaban Kasih Ekologis, Buah Pertobatan Ekologis dalam Pendidikan Ekologis (16)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Berikut ini adalah kelanjutan pembacaan kita terhadap Laudato Si’ (LS) dalam rangka menemukan satu paradigma baru yang disebut praksis peradaban kasih ekologis sebagai buah pertobatan ekologis melalui pendidikan ekologis. Apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam LS? Mari kita baca LS 211.

Referensi pihak ketiga

“Namun, pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan suatu ‘kewarganegaraan ekologis’, kadang-kadang sebatas memberi informasi, dan gagal untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Adanya undang-undang dan aturan tidaklah cukup dalam jangka panjang untuk mengurangi perilaku buruk, bahkan ketika kontrol yang efektif pun ada. Agar peraturan hukum menghasilkan efek jangka panjang yang signifikan, maka sebagian besar anggota masyarakat perlu menerimanya dengan motivasi yang tepat, dan menanggapinya berdasarkan suatu perubahan pribadi. Hanya dengan mengembangkan kebajikan kukuh, pemberian diri dalam suatu komitmen ekologis menjadi mungkin. Orang yang mempunyai kebiasaan mengenakan pakaian yang lebih hangat daripada segera menyalakan alat pemanas rumah, meskipun situasi keuangannya memungkinkan dia untuk mengkonsumsi dan membelanjakan lebih banyak, menunjukkan keutuhan keyakinan dan kepekaan pada pelestarian lingkungan. Sangatlah mulia bila kewajiban untuk memelihara ciptaan dilakukan melalui tindakan kecil sehari-hari, dan sangat indah bila pendidikan lingkungan mampu mendorong orang untuk menjadikannya suatu gaya hidup. Pendidikan dalam tanggung jawab ekologis dapat mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, pemilahan sampah, memasak secukupnya saja untuk kita makan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu. Semuanya itu adalah bagian dari suatu kreativitas yang layak dan murah hati, yang mengungkapkan hal terbaik dari manusia. Menggunakan kembali sesuatu daripada segera membuangnya, karena terdorong oleh motivasi mendalam, dapat menjadi tindakan Kasih yang mengungkapkan martabat kita.” (LS 211)

DIsebutkan satu hal penting bahwa pendidikan ekologis itu untuk menciptakan kewarganegaraan ekologis. Tak cukup hal ini dilakukan secara informatif saja, melainkan harus membentuk sikap dan perilaku kebiasaan (habitus) yang baik. Bahkan informasi terkait dengan undang-undang dan peraturan pun tidak cukup. Lebih dari itu, harus ditumbuhkan motivasi personal dan komitmen ekologis sebagai bentuk perubahan diri.

Referensi pihak ketiga

Motivasi personal dan komitmen ekologis itu diungkapkan dalam tindakan nyata. Misalnya, Biasakanlah mengenakan pakaian yang lebih hangat daripada segera menyalakan alat pemanas rumah (untuk warga bangsa yang mengalami musim dingin); bersikaplah hemat dan tidak boros meskipun situasi keuangannya memungkinkan dia untuk mengkonsumsi dan membelanjakan lebih banyak; tunjukkanlah keutuhan keyakinan dan kepekaan pada pelestarian lingkungan. 

Komitmen ekolgis merupakan tindakan yang sangat mulia bila kewajiban untuk memelihara ciptaan dilakukan melalui tindakan kecil sehari-hari. Pendidikan ekologis pun menjadi sangat indah bila mampu mendorong orang untuk menjadikan komitmen menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup menjadi suatu gaya hidup.

Pendidikan ekologis ditopang oleh tanggung jawab ekologis berbuah dalam berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan. Contoh yang disebutkan sebagai hal yang konkret adalah “menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, pemilahan sampah, memasak secukupnya saja untuk kita makan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu.” Menurut Paus Fransiskus, semuanya itu adalah bagian dari suatu kreativitas yang layak dan murah hati, yang mengungkapkan hal terbaik dari manusia. Menggunakan kembali sesuatu daripada segera membuangnya, karena terdorong oleh motivasi mendalam, dapat menjadi tindakan Kasih yang mengungkapkan martabat kita.

Persis itulah yang dalam pandangan saya bisa disebut sebagai praksis peradaban kasih ekologis. Contoh-contoh nyata antara lain seperti yang disebutkan dalam LS 211 tersebut.

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih ekologis.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 21/6/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Laudato Si artikel 211

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/954885950517504?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.