Inspiration

Praksis Peradaban Kasih Ekologis, Melalui Pendidikan dalam Keluarga, Seperti Apakah? (18)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Mari kita lanjutkan proses pembacaan kita terhadap Laudato Si’ (LS) yang disampaikan oleh Paus Fransiskus. Kita membaca LS dalam perspektif peradaban kasih ekologis sebagai buah pertobatan ekologis.

Referensi pihak ketiga

Dalam LS 213, Paus Fransiskus menulis tentang pendidikan ekologis. Mari kita baca teks selengkapnya.

“Pendidikan ekologis dapat terjadi dalam berbagai konteks: sekolah, keluarga, media komunikasi, katekese, dan lain-lain. Pendidikan yang baik di sekolah sejak usia dini menaburkan benih yang dapat menghasilkan buah sepanjang hidup. Namun di sini saya ingin menekankan pentingnya dan peran sentral keluarga, karena “di situlah kehidupan sebagai kurnia Allah, dapat disambut sebagaimana layaknya, dan dilindungi terhadap sekian banyak serangan yang menghadangnya, pun mampu bertumbuh, memenuhi persyaratan perkembangan manusiawi yang sejati. Menghadapi apa yang disebut budaya maut, keluarga merupakan sanggar budaya kehidupan”. Dalam keluarga, dikembangkan kebiasaan awal untuk mencintai dan melestarikan hidup, seperti penggunaan barang secara tepat, ketertiban dan kebersihan, menghormati ekosistem lokal, dan merawat semua makhluk ciptaan. Keluarga adalah tempat pembinaan integral, di mana pematangan pribadi dikembangkan dalam pelbagai aspeknya yang saling berhubungan. Dalam keluarga, kita belajar untuk meminta izin tanpa menuntut, untuk mengatakan “terima kasih” sebagai ungkapan penghargaan atas apa yang telah diterima, mengendalikan agresi atau keserakahan, dan meminta maaf ketika telah menyebabkan kerugian. Tindakan sopan santun yang sederhana dan tulus ini membantu membangun budaya kehidupan bersama dan rasa hormat demi lingkungan kita.” (LS 213)

Menurut Paus Fransiskus, pendidikan ekologis bisa dilakukan di mana saja dan dalam berbagai kesempatan. Namun, keluarga mempunyai tanggung jawab utama dan penting dalam rangka pendidikan ekologis.

Bagi Paus Fransiskus keluarga mempunyai peran penting dan peran sentral. Dalam keluarga, kehidupan sebagai kurnia Allah, dapat disambut sebagaimana layaknya, dan dilindungi terhadap sekian banyak serangan yang menghadangnya, pun mampu bertumbuh, memenuhi persyaratan perkembangan manusiawi yang sejati. 

Bahkan berhadapan dengan budaya maut, keluarga merupakan sanggar budaya kehidupan. Dalam keluarga, dikembangkan kebiasaan awal untuk mencintai dan melestarikan hidup. Anggota keluarga dilatih menggunakan barang secara tepat, memperhatikan ketertiban dan kebersihan, menghormati ekosistem lokal, dan merawat semua makhluk ciptaan. 

Akhirnya, keluarga juga merupakan tempat pembinaan integral. Di dalam keluarga, pematangan pribadi dikembangkan. Paus Fransiskus menyebut hal yang konkret misalnya: dalam keluarga, kita belajar untuk meminta izin tanpa menuntut, untuk mengatakan “terima kasih” sebagai ungkapan penghargaan atas apa yang telah diterima, mengendalikan agresi atau keserakahan, dan meminta maaf ketika telah menyebabkan kerugian. Tindakan sopan santun yang sederhana dan tulus ini membantu membangun budaya kehidupan bersama dan rasa hormat demi lingkungan kita. 

Menurut hemat saya, persis di situlah, praksis peradaban kasih ekologis dirintis, ditanamkan, dipupuk dan dikembangkan dalam keluarga!

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih ekologis.***

JoharT Wurlirang, 4/7/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Laudato Si artikel 213

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4123326714549032?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.