Inspiration

Hidup dalam Batin Menguatkan Semangat Berbagi Pelayan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pada hari Sabtu, 27/7/2019, saya diminta memberi permenungan Komunitas Temu Kebatinan Keuskupan Agung Semarang (Tebat KAS) di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA). Selama sebelas tahun, saat bertugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Kom HAK KAS) Maret 2008-Maret 2019, saya memang mendampingi komunitas ini. Inilah bahan yang saya sampaikan tetkait tema: Hidup dalam Batin Menguatkan Semangat Berbagi Pelayanan

Referensi pihak ketiga

Manusia hidup dalam ruang batin yang hening agar selalu bening. Bening dan jernih dalam rasa, karsa da karya. Bening dan bersih dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Bening dan suci dalam hati, jiwa dan raga.

Keheningan menjadi ruang perjumpaan personal dengan Tuhan, menjadi daya perjumpaan dengan sesama, menjadi gerak dalam bertindak. Tuhan ditemukan bukan dalam gelombang badai dan guntur melainkan dalam angin sepoi-sepoi basah yang penuh berkah dan anugerah. Itulah pengalaman Elia.

Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Lalu firmanNya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (1Raja-Raja 19:9-14)

Nabi Elia istimewa. Hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi, Nabi Elia menjadi utusan Tuhan yang tahan banting dalam mengolah hidup batin yang hening demi berbagi dalam perutusan dan pelayanan.

Dari pengalaman iman, harapan dan cinta Nabi Elia, kita belajar bahwa Tuhan kerap kali memberi kejutan yang menyentak kita. Dalam rutinitas dan aktivitas hidup, karya, doa dan ibadah kita, terkadang Tuhan terasa jauh bahkan ketika kita berusaha untuk mencari dan mendekati-Nya.

Nabi Elia mengalami tantangan berat bahkan mempertaruhkan nyawanya. Sendirian dalam penderitaan dan bahkan lari bersembunyi. Seluruh pekerjaannya terasa sia-sia!

Referensi pihak ketiga

Namun Tuhan menyapa dalam keheningan terdalam! Nabi Elia bahkan menyangka bahwa ia telah bekerja keras untuk Tuhan. Ia memandang dirinya sudah berjerih lelah dan berkorban untuk kepentingan Tuhan. Dan karena itu, ia memang benar-benar lelah lalu menyerah! 

Tapi lihatlah! Ternyata Tuhan peduli! Tuhan memberikan dua kejutan. Perhatian Tuhan tak hanya dalam hal-hal rohani tetapi juga jasmani. Ia diberi makan dan saat istirahat. Saat istirahat itulah saat hening, saat teduh, saat masuk ke dalam batin terdalam. Untuk apa? Untuk mengembalikan dan memulihkan energi pengharapan iman dan cinta. 

Itulah sebabnya Tuhan hadir di tengah keheningan. Panggung itu menguras habis energi Elia, tetapi di tengah keheningan dan kesendirian Elia Tuhan menjumpai dia, memulihkan energinya, sebelum mengutusnya kembali untuk berbagi dalam pelayanan dan perutusan.

Bagaimana kita mengolah hidup batin dan lalu menimba energi rohani berupa pengharapan, iman dan cinta bagi pelayanan untuk sesama dan semesta? Selamat menikmati keheningan batin agar dikobarkan dalam semangat pelayanan!

Referensi pihak ketiga

Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.

Gua Maria Kerep Ambarawa, 27/7/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Refleksi pribadi berdasarkan 1Raja-Raja 19:9-14

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1481574501855540?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.