Inspiration

Persiapan Rekoleksi Maria Bintang Kejora, Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Saya diundang oleh Pak Prayoga atas pendelegasian Romo E. Puspo Yuwono, MSC, Pastor Paroki Maria Bintang Kejora, Luwuk, Sulawesi Tengah. Secara Gerejawi, Luwuk masuk Keuskupan Manado. Pak Ferry T memberikan failitas yang diperlukan umat dan masyarakat. Berikut persiapan sederhana saya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam Gereja Katolik, ada banyak gelar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Gelar-gelar itu ada yang bersifat dogmatik, dan ada yang bersifat devosional sebagaimana tampak dalam Doa Litani Santa Perawan Maria. Sejak abad ketigabelas, di Gereja Loreto, Italia, sudah dikenal gelar pujian kepada Santa Maria yang dipergunakan dalam perayaan-perayaan Gereja Katolik. Dalam rangka menggairahkan devosi kepada Bunda Maria, St. Petrus Kanisius mempopulerkan Litani Santa Perawan pada tahun 1558. Maka, sejak sekitar pertengahan abad ke-16, gelar-gelar Maria mulai dikenal dan dipergunakan dalam rangka devosi kepada Bunda Maria.

Di antara banyak gelar itu, salah satunya, Bunda Maria disebut sebagai Bintang Kejora. Gelar ini dalam bahasa Latin “Stella Matutina”, dalam bahasa Inggris “The Morning Star”. Gelar Bintang Kejora bagi Ibu Maria adalah salah satu dari tiga gelar yang disepadankan dengan Bintang. Dua lainnya adalah Bintang Timur dan Bintang Samodera.

Bunda Maria disebut Bintang Kejora (Stella Matutina). Mengapa? Dalam tata alam semesta, Bintang Kejora sama dengan Bintang Pagi. Bintang Pagi adalah bintang paling terang yang tetap bertahan sepanjang malam hingga menjelang Matahari terbit. Bahkan, Bintang Pagi yang selalu berjaga sepanjang malam itu tetap bersinar terang menjelang fajar justru untuk mengumumkan kepada dunia bahwa sebentar lagi Matahari akan terbit.

Karena itu, Bintang Kejora memanifestasikan kemenangan terang atas kegelapan. Begitulah, gelar itu dipersembahkan kepada Bunda Maria oleh sebab Bunda Maria sungguh-sungguh Sang Bintang yang selalu membimbing kita dengan harapan baru melampaui kegelapan dosa menuju terang kehidupan yang dihadirkan oleh Sang Putra, Sang Cahaya: Yesus Kristus!

Menarik sekali mencermati salah satu ikon Maria Bintang Kejora yang menampilkan suatu adegan yang menceritakan tentang pertarungan antara terang dan gelap. Terang mengalahkan kegelapan sebagaimana Matahari menghalau kegelapan malam hingga akhirnya datanglah pagi hari yang cerah. Pagi yang cerah ditandai sukacita kicau burung, udara segar, ayam jantan berkokok seakan mengumumkan bahwa Matahari telah terbit. Datangnya cahaya terang menghalau kegelapan hingga singa yang mengaum pun segera berlalu dan kelelawar serta naga yang menakutkan menyingkir dalam persembunyian mereka. Memanfaatkan cahaya pertama hari, sebuah kapal meninggalkan pelabuhan dan siap berlayar mengarungi samudera dengan aman.

Dengan gelar Bintang Kejora, Bunda Maria menjadi lambang pengharapan yang besar. Tentang ini, para Bapa Konsili Vatikan II menyatakan dalam Lumen Gentium 68: “Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan.” Menurut para Bapa Konsili Vatikan II, pertama-tama, Kristuslah Terang bangsa-bangsa (Lumen Gentium 1). Lalu Bunda Maria mempersiapkan terbitnya Sang Terang itu bagi dunia (Lumen Gentium 68).

Dengan tampil di dunia dan dipilih menjadi Bunda yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Maria menjadi Bintang Kejora, yakni fajar keselamatan Allah. Sebagaimana Bintang Kejora muncul di ufuk Timur mendahului terbitnya matahari; begitulah Bunda Maria disebut Bintang Kejora karena tampilnya mendahului terbitnya “Sang Matahari” keselamatan, yaitu Yesus Kristus, yang akan tampil berkarya di dunia, melaksanakan karya penebusan dan keselamatan Allah Bapa.

Bintang Kejora tak pernah terbit di Barat melainkan di ufuk Timur. Maka, acuan alkitabiah tentang gelar Bunda Maria sebagai Bintang Kejora merujuk pada gelar serupa yakni Maria sebagai Bintang Timur. Baik dalam gelar Bintang Kejora maupun Bintang Timur, Bunda Maria menjadi lambang umat yang menang karena bertekun dalam iman, harapan dan kasih hingga beroleh bagian dalam kuasa Kristus yang menyelamatkan dan menang atas kuasa kegelapan yaitu dosa dan maut. Konteks dan sebutan Bintang Timur mempunyai landasan alkitabiah dalam Kitab Wahyu, Kitab Kidung Agung dan Maleakhi. Dalam Kitab Wahyu 2:26-28 diwartakan, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk – sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku – dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.” Bandingkan pula dalam kutipan ini: “Aku adalah tunas dan keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang” (Wahyu 22:16). Dia adalah yang dijanjikan yang dilihat oleh nabi Bileam. “Sebuah bintang akan maju dari Yakub.” Maria Binta Kejora menunjukkan dan mengumumkan terbitnya matahari keadilan, yakni Yesus Kristus (Maleakhi 4: 3). Kemuliaan cahayanya hanyalah cahaya dari cahaya abadi, dan pujian akan cahaya cinta Tuhan yang tak berkesudahan bagi kita.

Sedang dalam Kitab Kidung Agung 6:10 terdapat ungkapan, “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya…” sama seperti cemerlangnya terang menghalau kegelapan fajar, Maria memaklumkan kedatangan Putranya, yang adalah Terang Dunia (bdk Yoh 1:5-10, 3:19).

Bunda Maria disebut Bintang Kejora justru karena ketaatan dan kesetiaannya kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam mengembang perutusannya sejak menerima kabar sukacita hingga diangkat ke surge dan menjadi Ratu serta Bunda bagi kita semua. Maka, kita pun diundang untuk meneladan ketaatan dan kesetiaannya dalam mengimani dan mengasihi Tritunggal Maha Kudus dari fiat hinggat exaltat.

Mari kita berikan salam kasih kita kepada Bunda Maria Bintang Kejora. Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah Buah Tubuhmu, Yesus. Santa Maria Bunda (Putra) Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.***

Referensi pihak ketiga

Luwuk, 30/8/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan ajaran Gereja Katolik

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/712960559927012?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.