Kita bersyukur mewarisi kegigihan semangat hidup. Namun tulisan ini tidak meluli tentang kegigihan melainkan juga tentang kewaspadaan diri. Ini merupakan refleksi atas fakta yang kulihat dalam diri seorang anak kelas empat SD. Seperti apa kisahnya?

Kisah ini terjadi masih di kawasan Jl Gunung Sahari Raya Jakarta saat kami makan di tepi jalan di warung makan tenda kaki lima (Rabu malam, 06/12/2017). Sementara para pengamen silih berganti menyanyi, ada yang lagu rohani ada yang lagu pop, ada seorang gadis remaja yang menjajakan makanan kecil. Mengenai pengamen yang menyanyikan lagu rohani sudah kutulis dan diterbitkan di UC We-Media pada laman http://tz.ucweb.com/12_2lji0 dan http://tz.ucweb.com/12_2nZgx lengkap dengan cuplikan videonya.

Berikut kisah kegigihan dan kewaspadaan diri gadis remaja itu. Dari warna kulit dan wajahnya, saya menyimpulkan bahwa dia berasal dari etnis tertentu. Yang jelas bukan dari suku Jawa atau Batak atau Papua. Pasti dia juga bukan orang Flores. Dia seorang gadis remaja kecil. Rambutnya panjang, lurus. Kulitnya putih bersih. Namun yang terpenting bahwa dia berjiwa gigih.

Dia menawarkan makanan kecil yang sudah dikemas sedemikian rupa kepada siapa saja yang sedang makan di warung makan tenda kaki lima. Tawaran juga diberikan kepadaku. Dia menawarkan dari belakangku, sehingga aku tak sempat memperhatikannya. Namun, sesudah dia bergerak ke samping kananku, aku bisa melihat dia dengan jelas.

Ketika ada seseorang yang membeli satu barang dagangannya, dia membuat catatan di buku kecilnya. Dengan serius dia mencatat, entah apa yang ditulisnya. Salah seorang dari rombongan kami bertanya kepadanya, “Kamu kelas berapa?” Dia menjawab, “Kelas empat SD.” “Sudah makan belum?” “Belum,” jawabnya. “Mau makan nggak?” “Tidak.” “Kenapa?” “Nanti saya kemalaman!”

Mendengar dialog itu, saya merasa trenyuh, terharu-biru. Maka saya memberi isyarat agar barang dagangannya yang masih tersisa itu dibeli semua saja. Masih ada tiga paket yang bisa dibeli. Total ketiganya seharga Rp. 45.000.00. Ketika dia sedang asyik menuliskan barang-barang yang kami beli, dan uang kami serahkan, dia bilang, “Nanti saja uangnya, kalau catatannya sudah selesai. Nanti uangnya malah hilang loh.” Saat menerima selembar Rp. 50.000,00 untuk membayar makanan yang kami beli itu dia berkata, “Maaf, tidak ada uang lima ribuan untuk kembalian.” Kami pun bilang, “Ndak apa-apa, dibawa saja, buat kamu.” Sekali lagi, dia menuliskan sesuatu di dalam buku kecilnya.

Saya sungguh mengagumi kegigihan anak ini. Selain gigih, dia juga memiliki kewaspadaan diri. Misalnya, dia tidak mau makan ketika kami menawarkan makan kepadanya. Alasannya, nanti kemalaman. Dia mengantisipasi agar bisa pulang tepat waktu, tidak kemalaman. Itulah bentuk sederhana kewaspadaan diri. Dia berhitung dengan waktu untuk dirinya.

Semoga kegigihan dan kewaspadaan dirinya menjadi bekal kehidupannya di masa depan yang berhasil dengan segala berkat yang berlimpah. Semoga kita pun bisa belajar menghayati sikap gigih dan memiliki kewaspadaan diri dalam mengarungi kehidupan kita. Itulah yang dapat kita timba sebagai pelajaran hidup dari kegigihan dan kewaspadaan gadis remaja kelas tiga SD itu.

[Sengaja, tulisan ini tidak saya beri foto, sebab saya juga secara etika tidak boleh memotret anak tersebut untuk ilustrasi tulisan ini. Namun, sekalipun tanpa foto, saya yakin, Anda bisa dengan cerdas membayangkan sendiri keadaan dan situasi yang kutuliskan ini.]

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/cba866b8f7f84e6d90bb0ad65077a4b8?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=4045593069662764