Bersama Bapak Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Agama RI dan Gus Lukman di Masjid Baitul Hidayah Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Ketileng Semarang. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada hari Ahad Pahing (Minggu, 11/2/2018), saya mendapat kesempatan berjumpa lagi dengan Pak Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saefuddin untuk ketiga kalinya. Ya, dalam tiga hari berturut-turut perjumpaan itu terjadi. Loh, kok bisa? Lalu apa maknanya? Ini jawabannya.

Perjumpaan pertama dengan Pak Menteri Agama terjadi di Grand Sahid Jaya Hotel di Jakarta, hari Jumat (9/2/2018) dalam rangka Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa. Sharing pengalaman tentang perjumpaan ini sudah saya narasikan di UC Web Media dalam artikel berjudul “Inspirasi Kerendahan Hati Pak Mentri” (tz.ucweb.com, 2018/02/10 00:32).

Perjumpaan pertama di Hari Jumat (9/2/2018). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Perjumpaan kedua terjadi di Istana Presiden dalam kesempatan penutupan Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa. Sebagai Menteri Agama RI beliau mendampingi Presiden Joko Widodo yang menerima silaturhami dengan para peserta Musyawarah di Istana Presiden di Bogor (Sabtu, 10/2/2018).

Perjumpaan ketiga terjadi di Hari Minggu (11/2/2018) di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Salafiyah AZ-Zuhri di Ketileng, Semarang. Kami sama-sama mendapat undangan dalam rangka Khaul Abah Syeikh dan Ganti Luwur V.

Perjumpaan kedua (Sabtu, 9/2/2018) di Istana Presiden RI di Bogor. Kepalaku tanda lingkaran merah, sedangkan centang merah pada baju adalah Bapak Menteri Agama RI yang berdiri di samping kanan Presiden Joko Widodo. Repro dari Kementrian Sekneg. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Apa makna perjumpaan itu? Bagi saya sendiri, perjumpaan itu mempunyai makna penting dalam rangka kerukunan umat dan bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan konstitusi UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Itu yang pertama.

Yang kedua, perjumpaanku dengan Pak Menteri Agama di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk kesekian kalinya (namun tiga perjumpaan terakhir menjadi istimewa sebab terjadi dalam tiga hari berturut-turut di tempat yang berbeda) selalu membuat saya sendiri belajar untuk terus membuka mata terhadap pihak lain yang berbeda dalam semangat cinta kasih kebangsaan. Dengan terus belajar dan belajar, saya yang sudah sepuluh tahun terakhir (sejak 1 Mei 2008) melayani di Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), diperkaya dengan berbagai hal yang baik dan berguna untuk merajut kerukunan bagi bangsa kita.

Perjumpaan ketiga di Masjid Baitul Hidayah Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Semarang. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ketiga, tentu, saya yang terus belajar dan belajar ini, merasa diteguhkan berkat perjumpaan itu. Dari sisi tugas pelayanan, kami sama-sama memberi perhatian terkait dengan kemartabatan hidup keagamaan dalam sikap menghargai dan menghormati keberagaman beragama di Indonesia. Tentu dan pasti, tugas beliau sebagai Menteri Agama untuk semua agama dan seluas Nusantara ini sangatlah berat. Dan itu membuat diriku merasa diteguhkan dengan tugas pelayanan saya yang tidak seberapa dibandingkan tugas beliau yang luar biasa dahsyat, namun tetap dihayati dengan penuh semangat dan kerendahan hati.

Keempat, perjumpaan tiga kali bertutur-turut dalam tiga hari ini dengan Pak Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin, membuat saya juga semakin mengerti keprihatinan dan harapan yang terus beliau wartakan. Misalnya, selalu diulang dan ditegaskan bahwa di Indonesia, hidup beragama berarti pula menopang hidup berbangsa. Menjadi beragama secara benar, mestinya mendorong kita juga menjadi orang Indonesia secara benar dengan segala hak dan kewajiban kita. Hidup beragama tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan.

Santap malam bersama di Masjid Baitul Hidayah bersama Gus Novi saudara Gus Lukman, Pak Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dan Prof Fathur Rokhman, Rektor UNNES. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kelima, hal terpenting yang hari-hari ini dan untuk seterusnya perlu terus dikembangkan, diperjuangkan dan dibela adalah sikap saling menghormati dan menghargai dalam keberagaman. Semakin mendalam hidup keberimanan kita, semakin terbuka pula cara hidup keberagamaan kita. Semakin mendalam iman seseorang, semakin dia mampu pula menghayati jatidiri sebagai warga bangsa dan membela semangat kebangsaan di Indonesia dalam sikap hormat dan santun baik dalam tutur kata, komentar, ucapan dan tindakan terhadap sesama yang berbeda. Hujat, kata-kata olokan, apalagi menista sesama yang berbeda agama tidak akan pernah mengalir dari hati orang yang sungguh beriman mendalam, apa pun agamanya.

Itulah refleksi sederhana atas perjumpaanku tiga kali berturut-turut dengan Bapak Lukma Hakim Saefuddin, Menteri Agama Republik Indonesia di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Perjumpaan beruntun itu semakin meneguhkan komitmen bersama untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermatabat, dan beriman – apa pun agamanya – demi kerukunan hidup berbangsa di Indonesia tercinta. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati.***

Sumber: pengalaman pribadi.

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/c67511fa6fbf4e9f8dce8af98b0ef25f?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=955278241301741