Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sebagai salah seorang pribadi yang berkomitmen berjuang demi kehidupan yang rukun dan bersaudara dalam rangka mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman – apa pun agamanya – di negeri ini, tentu saya sangat sedih, berduka, menangis dan prihatin. Mengapa?

Saya sedih. berduka, menangis dan prihatin saat membaca peristiwa di Jawa Barat, bahwa terjadi penganiayaan terhadap pemuka umat HR Prawoto dan KH Emon Umar Basri. Kemudian, di Tengerang, seorang biksu mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari warga setempat. Dan yang terbaru, kekerasan juga menimpa Romo Karl Edmun Prier SJ yang sedang mempersembahkan Perayaan Ekaristi bersama umat di Gereja Katolik Gedog, Sleman, Yogyakarta.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Lengkap sudah kedukaan, kesedihan, keprihatinan dan air mataku membaca, mendengar dan menyaksikan semua itu. Namun, hal ini tidak membuatku lantas kendor dan surut untuk tetap merajut kerukunan dan persaudaraan dengan siapa saja. Ibarat lagu Life Must Go On, begitulah, upaya untuk terus merajut kehidupan yang rukun harus berjalan terus.

Itulah sebabnya, tanpa mengurangi rasa hormat dan belarasa bagi rekan-rekanku di PELITA (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang yang menyelenggarakan aksi solidaritas untuk peristiwa Minggu Kelam di Yogyakarta (11/2/2018), pada saat yang sama, saya lebih memilih untuk menghadiri undangan Keluarga Besar Gus Lukman yang nimbali saya dalam rangka Khaul Abah Syeikh dan Ganti Luwur V di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri Ketileng, Semarang. Alasan saya positif: bukan hanya karena bahwa undangan itu sudah terlebih dahulu kuterima jauh hari sebelumnya, melainkan terutama demi terus membangun kerukunan yang nyata kendati dalam situasi yang penuh duka dan derita bahkan dengan tetesan air mata dan darah yang tercurah.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dengan cara itu, saya hanya ingin belajar hidup dalam keseimbangan, tidak bersikap reaktif melainkan positif responsif. Dan yang lebih penting adalah, mengedepankan sikap rekonsiliatif, mengampuni, dan menyatakan kerahiman Tuhan serta menyingkirkan sikap balas dendam dan kebencian. Tentu, biarlah pihak aparat keamanan dan pengadilan yang memberikan perhatian dan penanganan secara tegas, jujur, benar dan adil atas kasus-kasus yang terjadi.

Saya pun sepakat dan setuju, usut tuntas setiap peristiwa yang terjadi dalam semangat cinta kasih dan kerahiman. Di sini benar, negara harus selalu hadir dalam koridor kebenaran, keadilan dan kesejahteraan. Jangan biarkan kasus-kasus kekerasan menjadi beku oleh pembiaran dan sikap kompromistik.

Namun sekali lagi, apa pun yang terjadi, mari kita berhenti mengeluh. Mari kita berhenti saling mengkritik. Jangan mudah terprovokasi dan diadu domba oleh segelintir oknum yang ingin merusak bangunan kerukunan yang selama berabad-abad kokoh di akar rumput.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah juga yang kusampaikan kepada Gus Novi dan Kang Prie GS saat kami saling berjumpa dalam rangka kerukunan di tengah mendung keprihatinan yang menimpa langit persaudaraan hidup bersama. Di sanalah, kami belajar untuk saling mengasihi bukan saling menghakimi. Di sanalah kami belajar untuk saling meneguhkan, bukan saling menghancurkan!

Demikian, semoga refleksi atas beberapa kasus kekerasan yang baru-baru ini terjadi bermanfaat bagi kita semua. Apa pun yang terjadi, ibarat lagu Life Must Go on, demikian pula kerja, kerja, dan kerja demi hidup rukun harus tetap jalan terus; bahkan ketika aku sendiri harus mampus!

Mohon maaf. Tuhan memberkati.***

Sumber: refleksi pribadi.

Foto-foto itu adalah bersama Gus Novi dan Kang Prie GS di Masjid Baitul Hidayah Ketileng Semarang (Minggu malam, 11/2/2018) dari pukul 19.00 – 24.00 WIB

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/f642d7e1a24d4daeb79b4bc73ccb68cd?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=464471367980227