Referensi pihak ketiga Komsos KAS

Mohon maaf, tulisan ini secara khusus saya tujukan untuk pembaca yang beragama Katolik. Umat Katolik di seluruh dunia mengawali dan memasuki Masa Prapaskah mulai Hari Rabu (14/2/2018) hingga Sabtu (31/3/2018). Selama Masa Prapaskah itu Umat Katolik di seluruh dunia menjalankan pula Ibadah Puasa dan Pantang. Seperti apakah dan bagaimana caranya?

Orisinil

Video itu dengan sederhana dipersiapkan oleh Tim Komsos Keuskupan Agung Semarang untuk menerangkan seperti apa dan bagaimana cara puasa Umat Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik. Maka sifatnya yuridis namun tetap humanis.

Selain yang bersifat yuridis dan humanis itu, ada banyak cara untuk menjalankan Ibadah Puasa dalam tradisi Agama dan Gereja Katolik.

Salah satu yang menarik dan bisa dicoba adalah nasihat Bapa Suci Fransiskus. Bapa Suci Fransiskus memberikan nasihat cara puasa yang bisa dipraktikkan oleh Umat Katolik.

Puasa tak hanya terkait dengan hal makan dan minum, melainkan juga dengan menata sikap hidup. Menurut Bapa Suci Fransiskus, ada sebelas cara yang bisa dihayati untuk menjalankan Ibadah Puasa. Apa saja?

Referensi pihak ketiga. CNA

Pertama, kita bisa berpuasa dengan cara tidak mengeluarkan kata-kata yang menyerang. Sebaliknya, ucapkanlah kata-kata yang manis dan lembut.

Kedua, kita bisa puasa dari rasa kecewa dan tidak puas dan memenuhi diri kita dengan rasa syukur. Ketiga, puasa dari amarah dan memenuhi diri dengan sikap taat dan sabar.

Keempat, puasa pesimis. Artinya, jangan pesimis tetapi penuhilah dirimu dengan sikap optimis. Kelima, kita bisa puasa dari rasa khawatir dan memenuhi diri kita dengan sikap percaya pada dan mengandalkan Tuhan.

Keenam, mari puasa meratap dan mengeluh. Nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan dengan penuh syukur. Seiring dengan itu, mari puasa stress dan depresi serta memenuhi diri kita dengan doa dan penyerahan kepada Allah.

Kedelapan, yuk kita puasa dari kesedihan dan kepahitan. Biarlah hati kita dipenuhi sukacita dan kegembiraan. Kesembilan, kita puasa egois. Kita kembangkan sikap bela rasa pada sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD).

Kesepuluh, kita bisa puasa dari sikap tidak bisa mengampuni dan dari sikap balas dendam. Kita ganti dengan rekonsiliasi dan pengampunan.

Akhirnya, yang kesebelas, kita bisa menjalankan Ibadah Puasa dengan cara tidak banyak ngomong atau ngomong banyak. Mari kita hayati Ibadah Puasa kita dalam dan dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan sesama kita.

Semoga bermanfaat. Selamat memasuki Masa Prapaskah dan menjalankan Ibadah Puasa dengan penuh sukacita. Tuhan memberkati.***

Sumber: Komsos KAS dan www.catholicnewsagency.com

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/5f0488ef65e141b1a55b23ed998eadc4?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=902122530155526