Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, tahukah Anda bahwa hari ini, 8 Maret adalah Hari Perempuan Internasional? Syukurlah bila Anda sudah mengetahuinya. Sebagai seorang pria dan pastor Katolik, saya ingin menghaturkan sangat banyak terima kasih dan ucapan selamat kepada para perempuan atas hari ini. Apa hubungannya antara Hari Perempuan Internasional dengan hidup saya sebagai pria dan pastor Katolik dalam konteks peradaban kasih? Para perempuan menginspirasi saya dalam merawat, mengasuh, dan mengasihi. Ini fakta bukan teori. Inilah penjelasan selengkapnya.

Dokumentasi pribadi bersama para Ibu dan Suster saat persiapan Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama (9/3/2016). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Hari Perempuan Internasional ini mengingatkan saya pada satu peristiwa yang tak pernah bisa saya lupakan. Saya terlibat intensif di dalamnya, bersama Sr. Yulia PI yang menjadi Ketua Panitia kala itu dan bersama para Ibu dari agama Islam untuk sebuah acara “Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama”. Dari peristiwa itu, saya mengalami bahwa inspirasi perempuan dalam merawat, mengasuh, dan mengasihi bukanlah suatu teori melainkan fakta. Sebagai pria dan pastor Katolik yang bertugas melayani umat di mana pun berada karena penugasan bukan karena pilihan pribadi, saya banyak belajar merawat, mengasuh dan mengasihi justru dari para perempuan. Perempuan menginspirasiku dalam merawat, mengasuh dan mengasihi dalam rangka kerukunan di tengah keberagaman.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, dalam melayani sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), saya sangat banyak terbantu oleh kehadiran dan peran kaum perempuan. Mereka sedemikian penuh semangat, dedikasi dan partisipasi dalam gerakan-gerakan untuk membangun peradaban kasih, kerukunan dan persaudaraan melalui jalur seni dan budaya. Semangat, dedikasi dan partisipasi itu menjadi bagian dari ciri perempuan yang merawat, mengasuh dan mengasihi.

Kolaborasi antara para Ibu beragama Islam dan para Suster Biarawati yang pernah saya fasilitasi dalam persiapan acara “Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama” (9/3/2016). Saat mereka sedang berlatih menyanyi dan menari, saya mengabadikannya dengan memvideo mereka. Video ini sudah saya unggah dalam youtube saya pada tanggal 4 Maret 2016. Orisinil – Dokumentasi pribadi

Seperti sudah saya sebutkan tadi, salah satu hal yang selalu saya syukuri adalah ketika kami boleh bekerjasama dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional pada tahun 2016. Meski sudah dua tahun lalu terjadi, namun peristiwa itu sangat indah untuk dikenang dan memberi semangat untuk membangun peradaban kasih, kerukunan dan persaudaraan bersama kaum perempuan bagi masyarakat. Peristiwanya terjadi di halaman Gereja Kristus Raja Ungaran, namun juga ditandai dengan silaturahmi di Masjid Jamii Istiqomah Ungaran, yang letaknya persis berhadapan dengan Gereja Kristus Raja Ungaran.

Foto ini merupakan dokumentasi pribadi atas peristiwa yang kuselenggarakan pada tanggal 9 Maret 2016 dalam tajuk “Jumpa Hati Perempuan LIntas Agama” yang kala itu sempat menjadi viral, Saya bersama Kiai Budi Hardjono dari Al Islah dan Haji Ahmad Thoha salah satu pengurus Masjid Istiqomah mempertemukan para Suster Biarawati, Para Ibu Katolik dan Kristen bersama para Ibu beragama Islam di Masjid Istiqomah Ungaran. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kala itu, pada tanggal 9 Maret 2016, Kom HAK KAS bekerjasama dengan para perempuan lintas agama. Saya memberi judul peristiwa itu “Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama”. Ada yang beragama Islam, Kristen, dan Katolik. Minimal dari tiga agama itu. Yang unik adalah bahwa yang Katolik sebagian besar adalah para Suster Biarawati. Mereka bahkan terlibat sejak awal, bekerjasama dengan para perempuan yang beragama Islam dan para ibu paroki Ungaran. Hasilnya adalah, pertemuan yang penuh dengan rasa damai, rukun, bersatu, dalam sikap hormat dan kegembiraan.

Orisinil Video ini merupakan dokumen pribadi rekaman saya atas tayangan yang dilakukan oleh RTV dalam Lensa Indonesia Sore (9/3/2016), yang sudah saya unggah di youtube (12 Maret 2016). Dokumentasi ini meyakinkan saya bahwa inspirasi perempuan dalam merawat, mengasuh dan mengasihi itu sangat nyata, bukan teori tetapi fakta.

Saat itu, sebagai penggagas untuk peristiwa ini, saya mengatakan, bahwa saya melibatkan para perempuan lintas agama dalam rangka membangun peradaban kasih, kerukunan dan persaudaraan, oleh sebab, para perempuanlah yang memiliki kekuatan utama dalam merawat, mengasuh dan mengasihi. Dari kaum perempuanlah, terutama dari para ibu, anak-anak bisa belajar merawat, mengasuh dan mengasihi. Apalagi, secara kuantitas, jumlah kaum perempuan itu lebih banyak dari kaum pria. Maka, kalau yang lebih banyak secara kuantitas ini bisa memberi warna dalam hal merawat, mengasuh dan mengasihi, secara kualitatif, kehidupan kita ini akan sungguh terjaga dalam damai, kerukunan, dan persaudaraan. Kalau demikian, hidup kita pun akan semakin menjadi tanda damai sejahtera bagi semakin banyak orang.

Begitulah, pada Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018 ini, saya mengenang kembali akan peristiwa indah itu. Kuhadirkan kembali peristiwa itu agar turut memberi warna dalam rangka membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia dan dunia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 8/3/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/a5cc3dc655094b1693f2e22cd09c3614?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=2498409259800667