Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, kabar meninggalnya Fisikawan Stephen William Hawking mengejutkan dunia, termasuk saya yang belum pernah berjumpa secara langsung dengan dirinya. Hidupnya luar biasa istimewa. Stephen William Hawking, meski cacat namun hidupnya membawa banyak berkat bagi masyarakat.

Referensi pihak ketiga

Dari banyak hal yang dikatakan dan dilakukannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, hanya ada dua kalimat yang pernah ditulisnya yang membuat saya bersyukur dan mencoba pula untum menghayatinya.

Dalam bukunya yang berjudul My Brief History (Gramedia: Jakarta, 2013), Hawking menulis,

“Mimpi lain yang saya dapat berkali-kali adalah saya mengorbankan jiwa untuk menyelamatkan orang lain. Bagaimanapun, jika saya akan mati, mendingan berbuat baik dulu.” (h. 61)

Dua kalimat dalam satu nafas itu dahsyat! Apalagi kalimat itu ditulis oleh sosok pribadi yang berjuang dengan keadaan dirinya sebagai seorang yang disebut disabel atau difabel.

Sebagaimana kita mengenal Hawking, ia menderita penyakit yakni melemahnya sistem otot yang membuat dirinya lumpuh secara perlahan. Namun itu tidak membuatnya terbelenggu keputusasaan.

Memang, pada awalnya ia sempat dihantui keputusasaan itu. Namun, kemauan dan tekadnya untuk berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan; membuatnya mampu bertahan. Ia bertahan bukan sekadar bertahan, melainkan bertahan dengan keistimewaan.

Tubuh yang lumpuh tidak menghambat dirinya untuk terus berkarya. Terutama ia sedemikian penuh perhatian menganalisa keadaan alam semesta ini. Analisa dan tulisannya tentang alam semesta penuh canda dalam kecerdasan yang tak melulu intelektual melainkan juga spiritual hingga orang salah sangka seakan-akan Hawking tak percaya kepada Tuhan.

Menurut hemat saya, dua kalimat yang saya kutip pada awal tulisan ini, menjadi kunci untuk memahami sisi baik kehidupannya sebagai ciptaan Tuhan.

“Mimpi lain yang saya dapat berkali-kali adalah saya mengorbankan jiwa untuk menyelamatkan orang lain. Bagaimanapun, jika saya akan mati, mendingan berbuat baik dulu.”

Kalimat-kalimat itu harusnya menginspirasi siapa saja, apa pun agama dan kepercayaannya. Dengan kalimat itu Hawking telah membuktikan kepada kita bahwa kendati cacat, namun ia telah menjadi banyak berkat bagi masyarakat.

Paling tidak dalam dunia ilmu pengetahuan, sumbangan intelektual darinya tak diragukan lagi. Dari sisi kemanusiaan, Hawking telah menjadi teladan sebuah pengharapan bahwa keadaan diri yang sakit dan disabel tak berarti tak bisa memberikan kontribusi maksimal bagi kehidupan ini. Itulah pula bagian dari amal.

Selamat jalan Stephen William Hawking, memasuki kehidupan baru dalam persatuan dengan Alam Semesta dan tentunya Sang Pencipta Alam Semesta merengkuhmu dalam damai sejahtera. RIP.***

Katedral Randusari Semarang, 14/3/2018

Sumber: refleksi pribadi atas berita meninggalnya Stephen William Hawking dalam abcNews.

Sumber https://c.uctalks.ucweb.com/detail/479ea3925444409aaba4052d95dbcca4?lang=indonesian&uc_param_str=dnnivebichfrmintcpgieiwidsudsvssnwpflamt&stat_entry=personal&entry1=shareback1&entry2=page_share_btn&comment_stat=1&uc_news_item_id=372175893722930