Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah kisah inspirasi tentang cara hidup beragama yang mestinya tahu berterima kasih dan bersyukur dalam perspektif Kristiani. Namun, kisahnya ini disampaikan dengan cara yang dramatis. Maka, jangan ditiru! Bukannya berterima kasih, mereka justru dikuasai sikap serakah dan amarah. Seperti apa kisahnya? Mari kita simak.

Referensi pihak ketiga

“Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya, “Adalah seorang membuka kebun anggur dan memasang pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur, dan mendirikan menara jaga. Kemudian disewakannya kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap, lalu ia berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musim panen, ia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun. Tetapi hamba itu ditangkap dan dipukuli oleh para penggarap lalu disuruh pergi dengan tangan hampa. Kemudian pemilik kebun anggur itu menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang itu mereka pukuli sampai luka kepalanya, dan sangat mereka permalukan. Lalu pemilik itu menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul, dan ada yang mereka bunuh. Kini tinggal satu orang, yakni puteranya yang kekasih. Dialah yang akhirnya diutus kepada mereka, sebab pikirnya: Puteraku pasti akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Dia itulah ahli waris! Mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkap dan membunuh dia, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggurnya kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca ayat ini: Batu yang dibuang oleh para tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Itulah tindakan Tuhan, suatu hal yang ajaib dalam pandangan kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Maka mereka pergi dan membiarkan Yesus.” (Markus 12:1-12)

Referensi pihak ketiga

Kisah itu hendak mengajarkan kepada siapa saja untuk memiliki rasa terima kasih dan syukur karena sudah mendapatkan banyak barokah. Namun, karena sikap serakah, alih-alih berterima kasih dan bersyukur, mereka justru ingin menguasai segala-galanya bahwa menghabisi sang ahli waris pemilik kebun anggur itu. Karena itu, jangan ditiru sikap itu. Lebih baik kita selalu bersyukur atas nikmat dan berkat yang selalu dicurahkan setiap saat kepada kita. Kehidupan zaman now menuntut kita untuk memiliki rasa syukur dan terima kasih atas segala berkat yang dicurahkan kepada kita. Semoga kita semua dianugerahi rasa terima kasih dan bersyukur sehingga kita pun tak hanya menerima dan menikmati berkat tetpi juga berbagi berkat bagi umat dan masyarakat. Demikian, salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Unika Soegijapranata, 4/6/2018

Sumber: refleksi pribadi inspirasi dari teks Markus 12:1-12

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3663493307031646?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1