Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bersama Aldo, Ketua Campus Ministry for Christ (CMC) Unika Soegijapranata dan Jose, Koordinator Interreligius CMC serta Mario dan Yudha, saya meluncur menuju Unwahas (Universitas Wahid Hasyim) Semarang (Kamis, 8/11/2018). Untuk apa? Inilah jawabannya.

Referensi pihak ketiga

Saya diundang untuk menjadi pemantik dalam acara “Ngaji Gus Dur” oleh rekan-rekan Gusdurian Unwahas Semarang. Saya merasa mendapat kehormatan yang istimewa mendapat mandat untuk menjadi pemantik “Ngaji Gus Dur” dengan tema “Persaudaraan”. Lalu apa yang saya bagikan kepada para hadirin yang sebagian besar adalah kaum muda mahasiswa baik dari Islam maupun Katolik tersebut? Inilah yang saya sampaikan, sesudah Pak Zudi yang menjadi moderator memberikan kesempatan kepada saya.

Pertama, dengan rasa syukur atas kesempatan yang indah ini, saya mengajak para hadirin untuk sejenak mengenang sosok Gus Dur yang menjiwai persaudaraan secara luar biasa istimewa. Belajar dari Gus Dur yang “Oke”, maka, saya menjawab “Oke” saat pengurus Gusdurian Unwahas memintaku melalui pesan WA untuk menjadi pemantik dalam Ngaji Gus Dur ini. Saya jawab “Oke” tapi tapi “OC” (hadirin tertawa). “Oke” adalah sikap dan spirit dasar persaudaraan yang dihayati oleh Gus Dur. Gus Dur selalu “Oke” dengan siapa saja. Dalam teori psikologis spiritual, “Oke” itu penting dalam rangka kedewasaan personal. Orang yang dewasa secara personal akan selalu “Oke” dengan siapa saja. “Aku Oke, kamu Oke!” bukan “Aku Oke, kamu tidak Oke” atau “Aku tidak Oke, kamu Oke!” Persaudaraan Gus Dur dibangun dalam sikap Oke dengan siapa saja, bahkan dengan orang-orang yang memusuhi beliau. Inilah spirit pertama persaudaraan yang saya timba dari Gus Dur.

Referensi pihak ketiga

Kedua, persaudaraan yang dikembangkan oleh Gus Dur adalah persaudaraan yang tanpa diskriminasi dan dijiwai dengan nafas keindahan bahkan sens of humor yang tinggi dan cerdas. Gambaran persaudaraan itu secara simbolik saya alami dan hayati melalui satu alat musik yakni saksofon. Saksofon itu terdiri dari berbagai unsur yang berbeda dalam keberagaman, ada yang besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Namun semua harus berpadu dalam satu kesatuan dan oleh hembusan nafas, mengalunlah nada-nada indah. Nafas dari kata Ibrani “nephes” yang setara dengan kata “ruach” atau roh dalam arti yang sama yang menjadi sumber kehidupan dan segala keindahan. Persaudaraan yang jiwai oleh nafas rahmatan lil alamin akan menghadirkan kehidupan dan keindahan dalam keberagaman. Saya pun lantas mengajak para hadirin untuk bernyanyi lagu “Syiir Tanpo Waton” dan saya mengiringi dengan alunan saksofon. Inilah praksis simbolik nafas persaudaraan yang dijiwai Gus Dur.

Ketiga, sebagai pemantik, saya berbagi pengalaman perjumpaan dengan Gus Dur sebagai Guru Bangsa dan saya sebagai anggap saja santri beliau. Namun, perhatian Gus Dur luar biasa istimewa. Salah satu ungkapan keistimewaan yang luar biasa adalah pertanyaan beliau saat dalam suatu perjumpaan, “Romo nulis apa lagi?” Pertanyaan itu muncul sebagai bentuk perhatian beliau sebagai seorang cendekiawan dan Guru Bangsa yang ternyata peduli dan membaca bahkan sekadar tulisan saya ketika saya masih aktif menulis di hariann Kompas pada kolom opini halaman 4 (kala itu!). Tulisan saya selalu bertema kebangsaan, kerukunan, pluralisme dan persaudaraan dalam keberagaman. Inilah detil kecil namun sangat istimewa dari perhatian dan kepeduliaan sosok Gus Dur yang saya alami secara personal. Baru sesudah Gus Dur wafat, saya mempunyai banyak pengalaman relasional dengan keluarga besar Gus Dur di Ciganjur.

Referensi pihak ketiga

Keempat, spirit persaudaraan Gus Dur justru berkembang meluas dan dahsyat sesudah Gus Dur wafat. Lautaan jutaan umat manusia ngalap berkah dari Gus Dur sesudah wafatnya. Bahkan puluhan juta umat manusia di seluruh dunia. Umat lintas agama dan para tokohnya merasa kehilangan sosok Gus Dur dan kemudian serentak tanpa komando mendoakan beliau, bahkan ritual malam tahun baru pada saat beliau wafat, menjadi ritual jutaan lilin yang menyala untuk tidak hanya mendaoakannya, melainkan juga untuk belajar agar spirit persaudaraan yang dibangun dan diwariskan Gus Dur tetap hidup bagi bangsa ini.

Referensi pihak ketiga

Kelima, saya bersyukur bahwa pada hari ke-49 sesudah Gus Dur wafat, saya boleh membacakan deklarasi bersama putri sulung Gus Dur yakni Mbak Alissa Wahid dan kerabat Gus Dur yakni Gus Umar didampingi para tokoh lintas agama, yakni deklarasi yang memuat tekad mewarisi semangat Gus Dur dan mengembangkannya dalam kehidupan bersama dalam keberagaman. Deklarasi itu kami buat di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, 49 hari sesudah Gus Dur wafat. Ini dahsyat. Langsung maupun tidak langsung, ini menjadi bagian dari cikal bakal awal deklarasi yang di kemudian hari oleh Mbak Alissa digemakan sebagai Gusdurian. Bersama Mbak Alissa, saya berdialog, berdiskusi tentang gagasan lanjutan ini di Kopi Lotus Semarang agar spirit Gus Dur dapat dikembangkan secara kultural oleh kaum muda khususnya mahasiswa melalui Gusdurian. Bahkan, para aktivitas yang bertekad melanjutkan dan mewarisi semangat Gus Dur melalui gerakan kultural Gusdurian, berkumpul dan mengadakan week-end di aula Gua Maria Kerep Ambarawa yang diikuti rekan-rekan aktivitas Jateng, Jabar dan Jatim; kala itu. Mbak Alissa juga hadir pada kesempatan tersebut. Ini bagian kecil dari sejarah Gusdurian yang di dalamnya, saya boleh terlibat secara aktif pada awal mulanya. Maka, kalau sekarang, Gusdurian berkembang seluas Nusantara, ini sungguh luar biasa istimewa dan mengharukan serta membanggakan buat saya pribadi. Gus Dur tak bisa digantikan oleh satu orang. Dibutuhkan jutaan pribadi untuk melanjutkan spirit Gus Dur, juga dalam rangka persaudaraan dalam keberagaman.

Referensi pihak ketiga

Itulah lima hal yang saya sampaikan sebagai pemantik pembicaraan, diskusi dan dialog dalam rangka “Ngaji Gus Dur” bersama Gusdurian Unwahas Semarang. Selanjutnya, acara dipandu oleh Mas Zudi secara cair, mengalir, penuh humor dan persaudaraan. Bahkan, atas pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendalam yang membuat diskusi menjadi dialog teologis pula.

Acara selesai sekitar pukul 00.00 sesudah menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Hujan pun turun deras membuat kami tetap ngobrol dengan ikhlas. Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 9/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber:

1. Refleksi pribadi atas pengalaman menjadi pemantik “Ngaji Gus Dur” bersama Gusdurian Unwahas Semarang (8/11/2018)

2. https: //m.facebook.com/story.php?story_fbid=114526706217391&id=100029801855399

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/677790110121400?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1