Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah kisah narasi lelaki pemburu peradaban kasih yang diwujudkan melalui pameran lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita. Terlaksanalah rangkaian peradaban kasih itu dalam pameran lukisan yang bahkan dilaksanakan selama lima hari, 21-25 Maret 2018. Inilah yang dengan begitu gamblang terbentang dalam keheningan kaledoskopik lelaki pemburu peradaban kasih di peralihan 2018 ke 2019.

Adalah Soetikno MA, yang selama ini dikenal sebagai seorang pelukis dan pematung. Ia juga seorang seniman dan budayawan Tosan Aji melalui Sanggar Seni Tosan Aji Gedongsongo di Ungaran. Dialah yang menjadi Ketua Panitia Pameran Lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita.

Sudah sejak sekitar 27 tahun silam lelaki pemburu peradaban kasih itu berkenalan dan bersahabat dengan Soetikno MA serta keluarganya. Bahkan anak-anak Soetikno MA dan Yustina Ng itu sejak masih kanak-kanak sudah akrab dengan lelaki pemburu peradaban kasih itu. Khususnya, dua anak pertama dari ketiga anak laki-laki Soetikno MA-Yustina Ng, dua puluh tujuh tahun silam. Namanya Lucky dan Krisna. Sejak kecil sudah kelihatan bahwa Krisna inilah yang mewarisi darah seni budaya bapaknya. Sementara si bungsu Gandang dan si sulung Lucky tidak terlalu. Si bungsu agak mending meski masih malu-malu mungkin karena bungsu walau badannya paling besar dan kekar. Anehnya bahwa ia malah hobi fotografi meski itu adalah hak merdeka pilihannya.

Lelaki itu sangat banyak belajar dalam merajut peradaban kasih melalui jalur seni budaya dari Soetikno MA. Pribadi yang kalem, sopan dan lembut namun jiwanya tegas dan merdeka penuh hormat kepada siapa saja dan selalu berpikiran positif kepada siapa saja.

Makanya saat tiba-tiba terjadi hambatan dalam rencana pameran lukisan itu, Seniman Budayawan Berambut Panjang namun berhati lembut, Mas Tik, begitu akrab disapa, tetaplah tersenyum. Itulah yang juga menguatkan hati lelaki pemburu peradaban kasih itu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Apa pun halangannya, pasti teratasi. Apalagi dengan spirit yang Romo sampaikan itu: let go, let God. Semua sudah tepat! Pasti selamat rahayu seger waras!” Kata Mas Tik kepada lelaki itu di hadapan semua tim yang lain. Ada Mas Hartono, ada Pakde Basuki, ada pula Kang Daniel. Semua optimis dalam pengharapan sesuai iman dalam agama masing-masing dan kasih bersama demi peradaban.

Di Pastoran Johannes Maria Tinjomoyo Dhuwur Kaligarang atau biasa disingkat JoharT Wurlirang itu, pameran lukisan Perdamaian Palestina Kerukunan Kita terselenggara dengan aman sentosa. Sedikitnya ada 50 pelukis dari berbagai kota se-Indonesia dan 100 karya bisa dipamerkan sesuai tema.

Dahsyat! Tak hanya pameran lukisan tetapi juga berbagai atraksi seni dan budaya baik yang berbasis religi maupun teritori Nusantara, semua bisa dikemas dalam sajian peradaban kasih. Pada hari pembukaan, ratusan peserta terlibat sesuai kapasitas masing-masing. Sebagai seniman, pelukis, pematung, penari, penyanyi, pengiring, penonton, dan penikmat serta penggembira, apa saja, semua bahagia. Mulai dari anak-anak dari TK Theresia Ungaran, SDK Kurmasari, Remaja SMA YPAK St Louis, Orang Muda Katolik, para penari Sufi, para mahasiswa, umat dewasa lintas agama semua, ya semua hampir 600 orang turut serta menghidangkan peradaban kasih dalam opening ceremony dari hakaman Pastoran JoharT Wurlirang hingga halaman kampus ungu Unika Soegijapranata Semarang. Termasuk di dalamnya adalah para penari Jaran Soreng yang berpadu dengan marching band SDK Kurmasari dan marching band Theresia Ungaran. Indah, indah, indah!

“Pemirsa, pembukaan pameran lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita di Pastoran Johannes Maria Tinjomoyo berlangsung meriah dan indah! Berbagai lapisan dilibatkan dan semua dalam rangka peradaban kasih…” begitulah eMSho seorang penyiar televisi memberitakan dalam tayangannya.

Peradaban kasih memang mempersatukan dan membahagiakan semua pihak. Pameran lukisan pun dihadiri dan dibuka oleh para tokoh penting. Hadir Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang dan sejumlah tokoh lintas agama. Hadir pula Kapolda Jateng, Condro Kirono. Bahkan hadir pula seorang kolektor karya seni lukisan dengan museum besar dari Magelang, Om OHD atau Oei Hong Djien. Pameran lukisan dalam warna seni budaya audio-visual itu berjalan dengan aman, tertib dan terkendali. Dan lebih dari segalanya, peradaban kasih terhayati secara indah dan damai.

Selama lima hari, peradaban kasih dalam pameran lukisan itu berlangsung sedemikian menawan melalui berbagai kreasi. Donny Danardono sebagai kurator muda memberikan apresiasi positif berbagai karya dan proses dinamis pameran yang tak seperti biasanya itu.

Meski tak sedetil realitasnya, namun pernik-pernik kenangan kaledoskopik peradaban kasih di bulan Maret itu membuat lelaki pemburu peradaban kasih itu terharu biru oleh rasa syukur. Sambil membiarkan setiap potret kenangan berjalan, lelaki itu mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengukir satu sisi bentangan peradaban kasih itu. Sejumlah nama disebutnya dalam doa sebagai rasa syukur selain yang sudah disebut dalam narasi ini masih ada Kang Awi, Bu Lena, Mas Devi, Mbak Helen, Cik Tyas dan Cik Yen, Pak Sapto Sango, Mbokde Maria, Si Kembar Wijaya dan Koh Indra dan Alfons-Yo plus tiga malaikat kecilnya Rafa, Gabi dan Mika yang turut aktif menghadirkan keberhasilan peradaban kasih itu. Tak ketinggalan disebut pula sang guru TK lelaki itu yakni Sr. Athan AK yang selalu serba siap mengutus anak-anak TK Theresia turut serta dalam setiap gerakan peradaban kasih yang digagas dan dikreasi lelaki pemburu peradaban kasih itu.

“Ampuni aku Tuhan, bila tak mampu menyebut satu per satu pada kesempatan ini, semua nama dan pribadi yang aktif mendukung peradaban kasih dalam pameran lukisan itu. Berkatilah mereka semua dan selalu di mana pun berada…..” begitulah lelaki itu berdesis dalam doa malam itu di peralihan 2018 ke 2019 tetap aman sentosa damai sejahtera!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ya, meski semuanya terjadi di saat dia sendiri meski tak sendirian sebab ada banyak kenangan dan pribadi yang terhadirkan dalam refleksi kaledoskopik peradaban kasih itu. Yang menarik dan terpenting adalah bahwa Pameran Lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita itu sekaligus menjadi momen perdana seluruh rsngkan Pra-Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama di Kevikepan Semarang. Romo Adi MSF bersama dengan tim Komkep Kevikepan Semarang pun rerlibat secara aktif tak hanya sebagai penggembira melainkan sebagai pelaksana dan itu sungguh luar biasa! Mereka begitu antusias memberi inspirasi perdana Pra-Srawung itu. Itulah yang nantinya menjadi pernik-pernik peradaban kasih yang diburu dan direngkuh lelaki itu sebagai jalan menuju harmoni, kerukunan dan perdamaian.

Suara kembang api masih terdengar. Pendaran-pendaran warna-warninya masih berkelebat di balik remang-remang gorden warna ungu yang membingkai kamarnya. Dan pastinya tanpa pula iringan Auld Lang Syne… (bersambung)

JoharT Wurlirang, 9/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2215234941331755?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal