Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Lelaki pemburu peradaban kasih itu termangu dalam syukur dan haru. Betapa tidak dan mengapa? Inilah jawabannya

Di tengah ketegangan si blorok yang tak jadi ngendhog itu, rangkaian pameran dan pentas seni Perdamaian Palestina Kerukunan Kita tetap berjalan semarak! Hari demi hari sejak pembukaan hingga penutupan, selama lima hari – lima hari… bayangin!, segalanya berlangsung baik tak ada satu pun yang berkekurangan! Termasuk dalam hal memberi makan sehari tiga kali buat ratusan yang terlibat setiap saat, belum makanan kecil dan minuman serta uba rampe lainnya! Semuanya tersedia tak hanya cukup melainkan berlimpah. Belum lagi untuk akomodasi berbagai kelompok yang terlibat dalam pentas seni silih berganti tiap hari dari pagi hingga sore!

Prinsipnya, mata memandang lukisan dan tarian, telinga mendengar musik dan lagu pujian maupun kebangsaan, mulut mencecap nikmat hidangan dan hidung menghirup aroma keindahan bagi jiwa kehidupan peradaban kasih dalam jalur seni dan budaya. Alangkah dahsyatnya!

“Tak ada yang mustahil bagi yang percaya dan mengandalkan kekuatan-Nya, apa pun agama dan kepercayaannya!” Seru lelaki itu di tengah gemuruh suara alunan rebana yang dikumandangkan oleh PMII Gus Dur UIN Walisongo Semarang.

Lelaki itu kian termangu saat menyaksikan rekan-rekannya, para seniman dan budayawan yang datang dari Salatiga, Semarang, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Magelang, Yogyakarta, Ungaran, Ambarawa, Surakarta, Boyolali, Probolinggo dan lainnya. Mereka berdatangan bersama karya mereka. Mereka berkoordinasi dengan Mas Tik pemilik Sanggar Seni Tosan Aji Gedongsongo Ungaran dan juga dengan teman-teman dari Omah Seni Mbah Semar Ambawara.

Lukisan yang mereka kirimkan beragam, dari sisi bahan, media maupun karya, mulai dari cat minyak, akrilik, hingga kopi. Atau bahkan coretan pinsil pada batu kali. Semua kreativitas sangat berarti dan bermakna bagi Perdamaian Palestina Kerukunan Kita.

“Kerukunan itu mahal harga. Perdamaian lebih mahal dan harus tersedia dalam kehidupan!” Jelas Kiai Sentet saat diwawancari salag satu stasiub tivi.

“Edukasi dengan lukisan itu bersifat abadi! Bisa terus dipandang dan memiliki makna yang selalu baru!” Jelas seorang Bhikku dari Sangha Buddha Teravada.

“Om shanti, Om Swastiastu! Shanti… Dalam setiap karya seni ada Sang Hyang Suci yang dekat dengan setiap pribadi. Hanya butuh nurani peka menangkap kehadiranNya!” Jelas lagi seorang penganut agama Hindu.

“Wei de tong Thien! Salam kebaijkan! Dalam setiap karya seni, kebajikan hadir mencerahkan jiwa kita! Semoga kita semua bijak dan bajik mewujudkan perdamaian dan kerukunan!” Itulah kesan dari seorang pengunjung beragama Konghucu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Semua hadir dalam kerukunan mendoakan demi terwujudnya perdamaian Palestina di Pastoran Katolik JoharT Wurlirang.

Itulah yang mengharukan lelaki pemburu peradaban kasih itu. Bahkan, ini yang sugguh mengharukan. Sebanyak 30 sketser dari Komunitas arsiSKETur Semarang turut menyemarakkan rangkaian pameran itu dengan membuat instalasi perdamaian Palestina. Dengan kotak-kotak yang mereka lukisi secara sketsa dan secara merdeka, mereka bersinergi menghadirkan instalasi membangun perdamaian Palestina.

Sesudah kotak-kotak itu coret dengan sketsa lalu kotak-kotak itu ditata menjadi bangunan kota Palestina dengan pesan perdamaian melalui lukisan sketsa. Warna-warni tema sketsa yang dibuat tanpa pola kecuali dalam satu tema perdamaian Palestina itu menghasilkan bangunan yang indah seluas 1,5 meter persegi. Unik dan menarik.

Mereka menata satu per satu sesuai nomor yang sudah dipersiapkan. Kotak-kotak tersebut lantas disusun secara tampak depan menjadi bangun indah. Goresan pertama yang dibuat lelaki itu diteruskan dan disempurnakan oleh Yuven menjadi wajah Jokowi yang memiliki andil besar di PBB dalam membela Palestina melawan Amerika.

Selebihnya, semua ditata menjadi satu instalasi perdamaian Palestina dan kerukunan di antara kita. Juddi yang menjadi koordinator komunitas ArsiSKETur Semarang merasa puas dengan ekspresi spontan itu namun juga berterima kasih sebab dilibatkan dalam proses peradaban kasih oleh lelaki itu.

Rasa syukur membuncah bersama malam yang berubah menjadi kian malam menuju tengah malam meninggalkan malam yang satu menuju malam berikutnya sebagai hari yang baru di tahun yang baru! (bersambung)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

JoharT Wurlirang, 10/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/267003759773319?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal