Inspiration

Budaya Teknologi Itu Anugerah, Gunakanlah dengan Hati dan Budi untuk Kemanusiaan!

Kamis (05/10/2017), pada pukul 21.41 WIB menurut jam di perangkat saya, seseorang yang nomornya belum tersimpan di perangkatku mengirim pesan melalui WhatsAppbegini. “Selamat malam Romo, nama saya Munir. Badhe tanglet kalih panjenengan, menurut panjenengan budaya niku nopo? (Mau tanya pada Romo, budya itu apa?) Kenapa budaya harus dilestarikan? Suwun (Terima kasih).” (Simbol tangan menyembah tiga kali).

Saya baru membaca pesan tersebut dan segera menjawabnya pada pukul 21:56 WIB. Inilah jawabanku, “Munir yang terkasih, menurut saya, kebudayaan adalah anugerah Allah dan hasil karya manusia mengenai segala hal yang baik, indah, suci dan berguna bagi kehidupan umat manusia. Itulah sebabnya, kebudayaan harus disyukuri, dijaga dilestarikan dan diperkembangkan demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.”

Atas jawabanku itu, Mas Munir membalas. “Tapi ini Romo, keresahan saya sebagai pemuda. Adanya sebuah teknologi yang canggih yang memudahkan manusia dalam mengerjakan setiap kegiatan, dari segi keuntungan memang menguntungkan manusia. Tap dari situ ketika saya mengamati malah seakan memecah belah kebudayaan. Berawal dari manusia yang dikatakan sebagai makhluk sosial dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, karena adanya teknologi mereka sudah tidak membutuhkan bantuan orang lain dan mmpu mengerjakan sendiri. Kemudian dari situ karena setiap manusia mampu mengerjakan kebutuhan sendiri menjadikan tidak adany prkumpulan dan sedikit demi sedikit menjadikan lunturnya budaya yang ada. Kados ngoten pripun Romo?

Begitulah dialog melalui WA itu terus berlangsung hingga pukul 23.31 WIB. Selanjutnya, beginilah kami berdialog melalui WA. Saya gunakan RB sebagai diriku, Romo Budi, dan MM sebagai dirinya, Mas Munir.

Saya (mengenakan surjan dan blankon warna putih) sedang memberikan pencerahan dan doa dalam acara Merti Budaya Serasi dalam Budaya Community di Pendhopo Kabupaten Semarang. Pemilik hak cipta (Sumber: Dok Pribadi).

RB: “Sebagai sebuah hasil karya manusia, teknologi pasti memiliki sisi positif dan bermanfaat. Teknologi membawa kemajuan dan kemudahan. Komunikasi diperlancar. Dunia yang luas dan jauh menjadi sempit dan dekat seperti desa kecil. Yang menimbulkan kesedihan dan keprihatinan bukan hasil teknologi dan kemajuannya, melainkan oknum manusianya yang menyalahgunakan teknologi untuk kepentingan sendiri dan sesaat. Teknologi yang mestinya mendekatkan satu sama lain justru memisahkan dan menjauhkan satu sama lain sebab oknum manusia menyalahgunakannya. Tentu tidak bisa digeneralisir bahwa manusia menyalahgunakan teknologi maka saya sebut oknum manusia. Yang penting adalah sikap ugahari dan menggunakan hati dalam teknologi. Itulah keunggulan manusia yakni dianugerahi hati dan budi untuk bijaksana menggunakan teknologi sebagai salah satu buah kebudayaan.”

MMNgoten nggih Romo (Begitu ya Romo).

RBLah nggih ta Mas. Contoh paling mudah. Dengan teknologi kita bisa komunikasi saat ini. Ndak tahu panjenengan dapat nomor saya dari mana hehe, tapi kita bisa saling berbagi gagasan. Itu contoh sederhana dampak teknologi yang positif. Tetapi, penyalahgunaan teknologi oleh oknum manusia bisa membuat kita terpecah belah oleh hoax, hate speech dan sejenisnya. Oknum manusia menggunakan teknologi secara hedonistik, egoistik, dan kapitalistik. Akibatnya oknum manusia kehilangan hati dan budi yang peduli, yang mengasihi dan yang seharusnya saling menghargai.”

MM: Saya ikut Pelita (Persaudaraan Lintas Agama), Gusdurian, dan juga Budaya Community Romo [Kebetulan saya pribadi terlibat di dalam komunitas-komunitas tersebut.]. Saya juga sering ikut acara-acara itu, maka saya tahu panjenengan, tapi belum pernah ngobrol dengan panjenengan. Hehehe. Terima kasih sudah diberi pandangan Romo. Kapan-kapan saya bertanya lagi ya… Hehehe

RB: O gitu njih. Baguslah Mas Munir. Terima kasih juga sudah dipercaya untuk ngobrol hehe. Selamat beristirahat. Barokallah. Gusti paring berkah. (Tuhan memberkati.)

MM: Aamiin. Aamiin. Saya ingin bisa membangkitkan semangat pemuda di desa, Romo.

RB: Bagus Mas. Harus diwujudkan! Nanti bisa kerjasama dengan banyak pihak. Kapan-kapan bisa diobrolkan lagi ya hehe. Sekarang istirahat dulu hehe.

MM: Baik Romo, terima kasih banyak pencerahannya Romo.

Begitulah, kami mengakhiri percakapan online kami melalui WA. Semoga dialog kami itu juga bisa mencerahkan siapa saja yang gelisah karena arus kemajuan teknologi. Yang jelas, kita bersyukur bahwa ada kemajuan teknologi, namun kita harus menggunakan teknologi kita dengan hati dan budi yang cerdas, jangan sampai teknologi kita salahgunakan untuk kepentingan diri kita sendiri tanpa manfaat bagi sesama dan semesta!***

Gambar sampul: Saat saya (berblangkon putih) memberi pencerahan dalam acara Budaya Community Kabupaten Semarang. (Sumber: Dok Pribadi).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/134933599816305?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.