Inspiration

Menjadi Gereja Inklusif, Inovatif, dan Transformatif

Pada hari Rabu, (04/10/2017) di Pastoran Sanjaya Muntilan, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberikan peneguhan kepada Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS) yang terdiri dari para Ketua Komisi dan Tim anggotanya dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) atas karya-karya yang dijalankan sejak Januari hingga September 2017. Pada kesempatan itu, Bapak Uskup Agung Semarang yang ditahbiskan sebagai Uskup pada tanggal 19 Mei 2017 itu, Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang mengajak umatnya untuk bersikap inklusif, inovatif, dan transformatif dalam kerjasama dan sinergi dengan semua orang untuk mewujudkan kesejahteraan.

Bersama para anggota DKP, saya (berpakaian hitam) mendengarkan dan memperhatikan peneguhan Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Pemilik hak cipta (Sumber: Dok Pribadi)

Apa artinya menjadi Gereja yang inklusif, inovatif, dan transformatif? Berikut ini beberapa butir yang bisa saya catat dan bagikan untuk bisa memahami arti Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif.

Pertama, menurut Mgr. Robertus, Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif harus memiliki sikap “open” (Bahasa Jawa). Dalam Bahasa Jawa “open” berarti sikap merawat. Yang “diopeni” biasanya adalah barang-barang yang kurang baik, yang jelek atau disebut “rongsokan”. Sikap “open” ini, menurut Mgr. Robertus sesuai dengan motto tahbisan Beliau sebagai Uskup, “Quaerere et Salvum Facere (Mencari dan Menyelamatkan)”.

Kedua, Gereja juga harus mengembangkan sikap “srawung“, yakni bergaul dan berjumpa dengan siapa saja. Ada gerak ke luar, tidak ke dalam. Sikap “srawung” hanya bisa terjadi bila kita mau mengalami perjumpaan dengan siap saja yang ada di sekitar kita. Dalam kerjasama dengan banyak pihak apa pun agamanya. Gerakan bisa dilakukan melalui jalur kesenian dan kebudayaan.

Ketiga, kita juga harus semakin peduli bagi mereka yang kurang beruntung, Peduli kepada kaum papa miskin dan duafa. Perhatian kepada kaum papa miskin harus dilakukan bersama dengan semua orang.

Keempat, Gereja harus peduli untuk menjaga keutuhan ciptaan dan lingkungan. Contoh yang disebut adalah gerakan menjaga udara bersih dan air segar dengan cara banyak menanam pohon yang berjangka panjang, misalnya beringin, pule, dan sejenisnya.

Kelima, Gereja harus memberi ruang bagi orang muda untuk bergerak dalam keterlibatan di tengah masyarakat. Gerakan membangun persaudaraan sejati melalui Kongres Persaudaraan Sejati perlu melibatkan orang muda dan semakin banyak orang.

Dengan cara-cara seperti itu, diharapkan Gereja Katolik sungguh hadir sebagai Gereja yang inklusif (merangkul), inovatif (terus membaharui diri) dan transformatif (memiliki daya ubah) dalam kehidupan bersama. Semoga demikianlah yang terjadi, sehingga peranan kehadiran Gereja Katolik di tengah masyarakat sungguh semakin dirayakan dalam konteks hidup bersama sebagai bangsa.***

Gambar sampul: Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberikan peneguhan dalam Monev DKP KAS di PSM. Sumber: Dok Pribadi.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4004028946661395?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.