Inspiration

Merawat Seni Budaya Ketoprak

Beberapa waktu lalu, Paguyuban Seni Ketoprak Unika Soegijapranata Semarang memainkan lakon “Setya Ing Ubaya” (Setia pada Janji). Dalam lakon itu, sutradara mempercayai diriku berperan sebagai Tumenggung Adyaksa.

Tumenggung Adyaksa adalah salah satu tumengguh yang membantu Adipati Tirta dari Kadipaten Argabenda. Tumenggung Adyaksa sudah tua dan siap pensiun bersama Sang Adipati.

Saat daku berperan sebagai Tumenggung Adyaksa dalam merawat seni budaya ketoprak bersama Unika Seogijapranata Semarang. Pemilik hak cipta. Sumber: Dok pribadi.

Karena berperan sebagai tumenggung yang sudah tua dan siap pensiun, maka saya pun dirias sebegitu rupa dengan wajah berjenggot dan berkumis serba putih pertanda sudah beruban hingga kumis dan jenggot pula. Untung ada seniman tamu yang menonton ketoprak itu, yang juga sahabatku, yakni Soetikno MA yang membawa tongkat. Maka, spontan tongkat itu saya pinjam untuk membantu saat diriku harus berjalan jongkok.

Soal berjalan jongkok, itu memang berat kebetulan bukan karena saya berperan sebagai tumenggung tua, melainkan karena penyakit bawaan yang kuderita sudah puluhan tahun silam, yakni penyakit boyok (pinggang). Itu gara-gara musibah yang menimpaku, yakni pernah jatuh terduduk dari pohon cemara setinggi hampir lima meter, saat daku masih kanak-kanak.

Kemarin siang, tiba-tiba, saya mendapat kiriman foto yang menjadi gambar sampul dan ilustrasi untuk artikel ini. Foto itu dikirimkan dari salah satu pemeran lain yang sempat-sempatnya memotret, ketika diriku sedang susah payah mau berdiri untuk suatu adegan memanggil dua pangeran muda yang akan dipilih untuk menggantikan Adipati Tirta. Ya ampuuuuun…. ternyata, wajah Tumenggung Adyaksa yang tampak dari foto itu memang begitu tua renta.

Betapa pun, syukur kepada Allah, telah boleh turut memainkan peran dalam seni ketoprak tersebut. Kapan lagi ya bisa memainkan seni ketoprak dengan lakon yang berbeda, tentu saja. Semoga Unika Seogijapranata Semarang tetap setia merawat seni budaya, yang antara lain ditampilkan melalui seni ketoprak. Kita tunggu tanggal mainnya, terutama kepada Val Suroto yang menulis naskah dan menjadi asisten sutradara. Kapan Bro…, ketoprakan lagi?***

Gambar sampul: Saat daku berperan sebagai Tumenggung Adyaksa dalam merawat seni ketoprak di Unika Soegijapranata Sermarang. Sumber: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3511550003385681?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.