Inspiration

Menyatu Sebagai Bangsa, Menyatu dalam Rasa: Pancasila!

Pada hari Kamis (18/10/2017) siang-sore, sejumlah orang muda dan dewasa serta beberapa guru berkumpul di ruang rapat Museum Misi Muntilan untuk mengadakan persiapan mematangkan rencana gelar budaya dan srawung kebangsaan yang akan dilaksanakan di Muntilan pada tanggal 20-29 Oktober2017. Pertemuan dibuka oleh Pak Daruna dan Romo Nugroho Tri sebagai panitia Muntilan. Selanjutnya, rapat dipandu oleh Pak Sutikno, sebagai ketua panitia.

Disampaikan bahwa tema dirumuskan dalam bahasa Jawa, “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila” (Menyatu Sebagai Bangsa, Menyatu dalam Rasa: Pancasila). Dengan tema itu diharapkan para pelajar, orang muda dan masyarakat setempat dapat kian merasakan hidup rukun sebagai bangsa yang bersatu dalam solidaritas (rasa) berdasarkan Pancasila. Pancasila menjadi bingkai untuk gelar budaya, pentas seni dan ekspo ini.

Berikut adalah foto wajah-wajah sebagian peserta rapat yang sempat kupotret dengan menggunakan perangkat androidku dan menjadi gambar sampul serta ilustrasi untuk tulisan ini. Mereka sedemikian bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan peristiwa budaya dalam rangka kebangsaan tersebut.

Para peserta rapat persiapan gelar budaya “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila”. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Rangkaian gelar budaya lintas agama dan kebangsaan ini terbagi menjadi beberapa tahapan. Pertama, mulai tanggal 20 Oktober diilakukan kegiatan festival film pendek “Pancasila”. Kedua, pada hari Sabtu (21/10/2017) dilaksanakan seminar sehari tentang Pancasila, dimulai pukul 08.00 – 14.00 WIB. Ketiga, pada hari Rabu (24/10/2017), pukul 17.00-19.00, pelatihan membuat film pendek.

Puncaknya adalah pada hari Sabtu (28/10/2017) dilaksanakan beberapa kegiatan yakni apel kebangsaan (pukul 08.00-09.00 WIB), expo pendidikan dan pentas seni pelajar (pukul 09.00-17.00 WIB) serta srawung kebangsaan (pukul 19.00-21.00 WIB). Pada hari Minggu (29/10/2017) dilaksanakan tiga kegiatan utama yakni refleksi budaya (pukul 09.00-10.00 WIB), expo pendidikan (pukul 09.00-15.00 WIB), dan pentas seni tradisional (pukul 10.00-15.00 WIB).

Dalam kaitannya dengan penguatan Pancasila, panitia juga melibatkan para pejabat dan aparat setempat sebagai narasumber. Dalam kaitannya dengan keberagaman, panitia melibatkan komunitas-komunitas lintas agama yang ada. Dalam kaitannya dengan budaya, kawan-kawan melibatkan para pelaku seni dan budaya setempat.

Kegiatan ini melibatkan para pelajar dari SD, SLTP, SLTA dari sisi pendidikan formal, dan orang muda dari sisi informal dan teritorial se-Muntilan dan sekitarnya. Orang Muda Katolik bersama dengan komunitas-komunitas lintas agama. Sebagaimana dilaporkan panitia, sedikitnya sudah ada 128 peserta yang akan terlibat dalam pentas seni dari lima belas penampil. Jumlah penampil dan peserta masih terbuka untuk penambahan hingga empat hari sebelum puncak acara. Sementara itu, delapan sekolahan juga siap untuk mengikuti stand expo.

Pak Daruno, Romo Nugroho Tri dan saya dalam rapat persiapan gelar budaya “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila”. Pemilik hak cipta. Sumber: Dok pribadi.

Peristiwa budaya yang akan dilaksanakan juga dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober ini digagas dan dilaksanakan oleh sinergi antara Museum Misi Muntilan, Karya Misioner, Sekolah-Sekolah dan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Terima kasih kepada Romo Nugroho Tri, Pak Daruna, Pak Sutikno, Mas Seno, Bu Linda, Bu Christ, para ibu, rekan-rekan muda dan semua saja yang terlibat dalam persiapan ini. Puncak-puncak kegiatan dalam srawung kebangsaan, refleksi budaya dan festival budaya tradisional akan melibatkan ribuan massa setempat.

Kepada panatia, saya menggarisbawahi pentingnya kerjasama dengan semua pihak dalam semangat persaudaraan demi terwujudnya kerukunan dan damai-sejahtera. Para pelaku seni dan budaya setempat, kekayaan-kekayaan seni budaya lokal, dan siapa saja yang bersemangat membangun persaudaraan perlu dilibatkan, diberi ruang dan ditampilkan dalam keakraban dan kebersamaan dalam kebegaraman. Yang terpenting bukan pentasnya, melainkan kebersamaan dan kehadiran dalam semangat srawung penuh persaudaraan sesuai tema yang dirumuskan.

Semoga menjadi berkat bagi umat dan masyarakat dalam membangun peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman – apa pun agamanya. Peradaban kasih dibangun dalam semangat hidup rukun sebagai bangsa (nunggal bangsa), dalam rasa persatuan bersama (nunggal rasa), atas dasar Pancasila!***

Gambar sampul: Pak Daruno, Romo Nugroho Tri dan saya dalam rapat persiapan gelar budaya, srawung kebangsaan dan refleksi budaya di Muntilan. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1960098464002?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.