Inspiration

Refleksi Sederhana Ucapanku di Hari Santri

Pada Hari Santri Nasional (Minggu, 22 Oktober 2017), kukirimkan ucapan selamat kepada para sahabat. Ucapan kusampaikan melalui akun facebook saya, Aloys Purnomo, dan saya tag ke akun saya di Aloys Purnomo II, dan Aloys Purnomo III sebagaimana tampak dalam screenshot yang menjadi ilustrasi tulisan ini.

Screenshot ucapan selamat Hari Santri Nasional dari akun facebook saya Aloys Purnomo. Pemilik hak cipta. Sumber: Dok pribadi.

Ucapan itu juga ku-tag-kan ke beberapa sahabat yang berkawan pula di facebook saya, antara lain Kiai Budi (Pengasuh Ponpes Al-Islah Tembalang), Mas Prie Ge Es (budayawan), Mas Timur Suprabana (facebooker dan penyair), Kang Syukron (jurnalis), Gus Tedi Kholiludin (sahabat lama), dan sejumlah sahabat lain dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) yakni Khoirul Anwar, Munif Ibnu Bams, Luqman Hakim, Ulfah Hakim, Ahmad Muqsith, Abdul Ghoffar, Ali Suryaning Alam dan Nuruddin Udien Hidayat. Mereka adalah sahabat-sahabat yang berjiwa santri nasionalis.

Dari antara beberapa tanggapan, ada yang menarik dan “nyleneh” namun inklusif. Tanggapan itu diberikan oleh Gus Tedi Kholiludin, seorang sahabat yang kukenal sejak masih kuliah S-1 di IAIN Wali Songo (sekarang UIN) hingga sudah menjadi seorang Doktor saat ini. Wajah kami berdua pernah terpotret sebagaimana menjadi ilustrasi dan gambar sampul tulisan ini yang masih tersimpan di file saya. Beliau memberi komentar begini, “Karena njenengan Romo, maka saya adalah santrinya.”

Persahabatan kami, Gus Tedi dan saya. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Bagiku, komentar ini menarik. Warnanya sejuk, teduh, dan iklusif, tetapi juga inovatif dan transformatif. Gus Tedi menghubungkan antara ke-romo-an dengan ke-santri-an. Dan itu dinyatakan dalam konteks romo pastor katolik dengan santri dalam arti yang sebenarnya, sebab Gus Tedi ini kukenal sangat saleh dan tekun dalam membangun persaudaraan dan peradaban kasih dengan siapa saja dalam konteks visi keberagaman dan kebangsaan.

Dari situlah refleksiku ini terlahir. Salah satu sisi upaya-upaya untuk membangun persaudaraan dan persahabatan dengan siapa saja demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya. Terima kasih atas Hari Santri Nasional. Terima kasih atas persahabatan berbasis perjumpaan akar rumput untuk menghadirkan kerukunan dan persaudaraan yang sejati dalam kehidupan bersama.***

Gambar sampul: Tedi Kholiludin dan saya, Romo Budi. Sumber: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4035891105688013?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.