Inspiration

Catatan Perjalanan Rangkaian Memperingati Hari Sumpah Pemuda 2017

Kutuliskan pada kesempatan ini, catatan perjalanan rangkaian suasana memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89 yang kualami, dari Semarang, Ungaran hingga Muntilan. Sebagaimana sudah kutuliskan di UC We-Media ini dan diterbitkan melalui laman http://tz.ucweb.com/10_2Rhiq (Jumat, 27/10/2017), bersama Pelita dan sejumlah komunitas lain, kami selenggarakan Peringatan Hari Sumpah Pemuda Lintas Agama pada hari Kamis malam (26/10/2017).

Masih terkait dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2017, pada hari Jumat malam (27/10/2017), sesudah rangkaian kegiatanan pelayanan di Semarang usai, sekitar pukul 22.00 WIB saya berangkat ke Muntilan bersama Mas Agung. Sebelum berangkat, kusapa terlebih dahulu beberapa orang muda Katolik Paroki Ungaran (antara lain Ucup, Bolang, Rizal, Bimo, dan Gandang). 

Sebagian peserta Apel Kebangsaan dalam rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Lapangan Pemda/Kauman Muntilan. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Mereka sedang mempersiapkan dekorasi di halaman pastoran dan gereja Ungaran untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda. Mereka merancang acara pada hari Sabtu (28/10/2017) sore hingga malam. Jauh hari saat mereka menghubungiku, aku sudah mengatakan bahwa ku tak bisa bergabung berhubung sejak Jumat hingga Minggu (27-29/10/2017), aku berada di Muntilan untuk intensi yang sama, memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89. Dengan berat hati dan tanpa mengurangi rasa hormat, daku memohon maaf oleh sebab tidak bisa terlibat. Itulah alasan mengapa daku menyapa mereka, menyalami satu per satu, sebelum berangkat ke Muntilan.

Pelan tapi pasti kami berdua melaju menuju Muntilan. Kami tiba di Pastoran Sanjaya Muntilan pukul 01.00 WIB. Hujan mengguyur, membuat diri nyenyak tidur. Pagi hari bangun. Doa sendiri seperti biasa. Menyelesaikan renungan harian dan mengirimkannya seperti biasa kepada umat dan para sahabat, meski terkirim terlambat.

Sesudah itu, kami berdua meluncur ke Musium Misi untuk menikmati sarapan pagi. Segelas kopi hitam, sepiring nasi putih bahkan dua oleh sebab nambah meski hanya berlaukkan sambal bawang dan kerupuk. Mbak Ujik berbaik hati menggorengkan telur ceplok, habis sekali emplok. Nikmat dalam kesederhanaan dan kebahagiaan.

Trio hitam – begitu Romo Kristiono menyebut hasil foto yang kuambil dengan androidku ini saat kutunjukkan padanya. Camat Muntilan, saya (tengah) dan Romo Kristiono SJ. Pemilik hak cipta. SUmber foto: Dok pribadi.

Sesudah sarapan, kumelangkah menuju pastoran Muntilan. Camat Muntilan, Agus Purgunanto sudah menunggu di teras pastoran Muntilan bersama Romo A. Kristiono Purwadi SJ. Sesaat kemudian, bersama Seno dan panitia lain, kami melangkah menuju Lapangan Pemda-Kauman Muntilan diiringi drum-band SMP Kanisius Muntilan. Suasana semarak.

Di lapangan, hampir seribuan siswi-siswa dari TK, SD, SLTP dan SLTA sudah menunggu. Begitu rombongan kami tiba, Apel Kebangsaan pun dimulai. Semua peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mengucapkan Sumpah Pemuda, mendengarkan amanat dari Camat, dan menyanyikan beberapa lagu kebangsaan. 

Sesudah apel.kebangsaan, acara dilanjutkan dengan pentas seni pelajar se-Muntilan. Camat dengan didampingi oleh Ketuan Panitia, Kapolsek, Romo Paroki Muntilan, dan saya sendiri, membuka rangkaian pentas seni pelajar. Dipukulnya gong, tanda bahwa pentas seni pelajar dibuka.

Tujuh belas sekolah siap memeriahkan pentas seni pelajar. Terdaftar ada 5 TK, 5 SD, 4 SMP, dan 3 SMA yang berada di Muntilan yang siap menampilkan berbagai bentuk pentas seni mulai dari berbagai macam tarian tradisional, karawitan, ansamble musik, band hingga musikalisasi puisi dan geguritan.

Camat Muntilan siap membukan Gelar Budaya 2017 sesudah memimpin apel kebangsaan disaksikan panitia setempat. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 dengan apel kebangsaan itu dilanjutkan dengan pentas seni pelajar se-Muntilan hingga sore (menurut jadwal hingga pukul 17.00). Selain pentas seni pelajar juga diselenggarakan ekspo pendidikan di lapangan yang sama. Acara ini diselenggarakan dan didukung oleh sinergi anatara Karya Misioner Muntilan, Musium Misi Muntilan, OMK Paroki Muntilan, Sekolah-Sekolah serta Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. 

Rangkaian acara untuk memeringati Hari Sumpah Pemuda ini dibingkai dalam rangkaian Gelar Budaya 2017. Yang kusampaiakan dalam catatan ini merupakan salah satu bagian dari Gelar Budaya 2017 tersebut dalam segmen Apel Kebangsaan, Ekspo Pendidikan dan Pentas Seni Pelajar. Semoga membangkitkan semangat nasionalisme dalam diri anak-anak, remaja dan orang muda serta kecintaan pada budaya lokal tradisional di tengah tantangan arus global. Lebih dari semua itu semoga kian pula terbangun semangat srawung, hidup rukun dan bersaudara dalam keberagaman demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.***

Gambar sampul: Camat Muntilan, saya dan Romo Kristiono SJ sesudah mengikuti apel kebangsaan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89 dan Gelar Budaya 2017. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1645545774577052?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.