Inspiration

Kreativitas Kontekstual Rakyat Wonosari Gunung Kidul

Dalam perjalanan pulang kampung pada hari Rabu (01/11/2017) yang lalu, di daerah Wonosari, Gunung Kidul, saya melihat sejumlah penjual walang (belalang) goreng. Di beberapa ruas tepian jalan, para penjual walang goreng menjajakan karya kreativitas mereka. Itulah yang kumaksudkan dengan kreativitas rakyat yang kontekstual.

Di daerah Wonosari, Gunung Kidul, masih kita jumpai adanya banyak belalang. Mereka secara kreatif “membudidayakan” belalang sebagai bahan makanan. Sebuah kreativitas yang menurutku sangat kontekstual, yakni sesuai dengan konteks keadaan sosial dan natural.

Saat menyaksikan beberapa penjual walang goreng dengan segala kreativitas yang ada, terus terang saya merasa kagum kepada mereka. Ada yang menjajakan dengan tulisan “Walang Goreng Segar”. Yang lain dengan tulisan promosi “Walang Goreng Fresh”. Yang lain lagi menawarkan dengan tulisan “Walang Goreng Gurih”.

Saya memang tidak sempat berhenti untuk membeli di salah satu warung tiban di tepi jalan itu. Itu disebabkan oleh keadaan, yakni oleh karena saya nginthil (mengikuti) rombongan mobil lain. Kalau saya berhenti, bisa-bisa saya tertinggal dan kehilangan jejak perjalanan.

Salah satu menu yang dihidangkan di salah satu warung tempat kami makan siang pada hari Rabu (01/11/2017) di Wonosari, Gunung Kidul. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Syukur kepada Allah, saat kami berhenti untuk makan siang di salah satu warung makan nasi merah, ternyata, di situ juga dihidangkan menu walang goreng, terbungkus plastik. Kami hanya menikmati satu bungkus plastik untuk dimakan berempat (Romo Purwatma, Romo Ratma, Romo Edy dan saya sendiri). Satu bungkus plastik walang goreng itu habis kami makan berempat. Saya sendiri tidak berani makan terlalu banyak, sebab bisa membuat tubuh gatal-gatal alias biduren (bahasa Jawa).

Begitulah, beberapa warga masyarakat (rakyat) Wonosari, Gunung Kidul, bersikap kreatif sesuai konteks sosial dan natural mereka. Secara alamiah, ada banyak belalang di daerah itu. Belalang itu dimanfaatkan secara kreatif, diolah, dibumbui, dan dijajakan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Tinggallah para pembeli memilih, mau membeli yang rasa asin, pedas, gurih, atau masih, silahkan! Yang penting, makanlah secukupnya, jangan terlalu banyak, sebab kadar protein yang terkandung dalam belalang bisa membuat kita menjadi biduren, bila daya tahan tubuh kita sedang lemah atau tidak siap mengkonsumi walang goreng, apa pun rasanya!***

Gambar sampul: Salah satu menu walang goreng yang dihidangkan saat kami makan siang di salah satu warung nasi di Wonosari, Gunung Kidul. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3066116652604225?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.