Inspiration

Makan Brutu Agar Melupakan Masa Lalu

Ini kisah kecil makan nasi kucing pada hari Rabu malam (01/11/2017), sepulang dari kampung halaman. Setelah menempuh perjalanan yang panjang Baturetno-Ungaran, sejak pukul 18.00 – 22.00 WIB, saya merasa lapar. Begitu masuk di halaman pastoran Ungaran, saya segera memarkir kendaraan. Lalu, saya berjalan kaki menuju warung sega kucing Dodok yang berada di depan gereja Ungaran.

Mas Dodok, penjual nasi kucing itu langsung bertanya, “Minumnya seperti biasa Romo?” Sambil tersenyum kujawab, “So pasti ta!” Dengan sigap, Mas Dodok pun segera meramu “pisuhe” alias “kopi susu jahe”.

Sementara Mas Dodok meramu “pisuhe”, saya mengambil dan membuka “sicing” alias “nasi kucing”. Bungkus pertama adalah “sicing” sambal teri. Secepat kilat, ludes habis! Kuambillah bungkus berikutnya yakni “sicing” kering tempe. Saat itulah, penjual nasi kucing asal Klaten itu menawarkan padaku sate kerang. Sebelum kujawab, dia sudah mengambil tiga tusuk sate kerang lalu memanggangnya pada arang yang membara. Jos gandos!

Terangsang oleh sate kerang panggang, saya pun menambah lagi dengan bungkus ketiga. Kali ini kupilih “sicing” sambel pindang. “Tambah brutu (= bahasa Jawa untuk – maaf seribu maaf – pantat unggas) Mo?” Tanpa menunggu jawabanku, Mas Dodok langsung memanggang tiga tusuk brutu ayam. Ya ampun! Aku tak tega menolaknya!

Inilah nasi kucing yang kunikmati di warung sego kucing Dodok di depan gereja Ungaran. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Kuterima saja dengan taat semua yang ditawarkannya, sejauh halal! Namun, saya sempat berkata kepadanya, “Mas, makan brutu bisa membuat kita menjadi pelupa loh!” Dengan romantis nan cerdas, Dodok menyahut, “Bagus ta Mo, bisa melupakan segala masa lalu demi menatap masa depan!” Kami pun tertawa terkekeh-kekeh, sementara mulutku mulai panas oleh sambal yang menempel.

Sambil mengusap mulutku, saya pun membalas, “Masa lalu jangan dilupakan Mas, tetapi disembuhkan! Dengan demikian kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri, dengan sesama, bahkan dengan Tuhan melalui pengampunan!’

“Oh gitu ya Mo!” sahutnya.

“Iya lah. Tapi jangan sampai gara-gara makan brutu, salah lupa makan apa saja yang tadi saya ambil ya? Atau malah lupa untuk membayar?” candaku padanya.

“Romo lupa tidak apa-apa, saya tetap ingat apa saja yang Romo makan kok!” sergahnya.

Ternyata dia tak hanya bicara tentang hal itu, melainkan juga membuktikannya. Saat aku hendak beranjak, dan bertanya berapa total harga dari segala yang kumakan malam itu, dia langsung ingat. “Mendoan satu, sate kerang tiga, sate brutu tiga, nasi tiga, kopi susu jahe satu…, total dua puluh ribu rupiah saja Mo!” jawabnya sigap.

“Tidak keliru hitungannya? Jangan sampai kurang ya!” sahutku. “Nggak Mo, pas itu! Dua puluh ribu rupiah saja!” jawabnya.

Segeralah kubayar lunas seraya berterima kasih kepadanya atas segala menu yang ditawarkan dan dihidangkannya. Saya pun melangkah ke pastoran untuk mandi dan mempersiapkan segala sesuatu yang harus kupersiapkan untuk esok harinya; lalu beristirahat dengan damai!***

Gambar sampul: Inilah nasi kucing yang kunikmati di warung sego kucing Dodok di depan gereja Ungaran, (Rabu, 01/11/2017). Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3067402983692420?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.