Inspiration

Sekuntum Adeneum Tiga Bunga

Kupetik sekuntum Adenium 

berisi tiga bunga

warna merah semburat putih

dengan tanganku

lalu kutaruh di pusara makam Ibuku

tanda hormat dan cinta

meski Ibu telah Tiada

Tangan kiriku memetik tangkai bunga Adeneum dan kufoto dengan tangan kananku. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Saat tiba di rumahku di desaku yang kucinta tempat daku belajar hidup rukun dengan siapa saja meski berbeda sejak masa kecilku; aku beristirahat sejenak memulihkan tenaga sesudah stir mobil dari Muntilan ke Gambiranom, Baturetno (Rabu sore, 01/11/2017). Saatku bangun sesudah barang setengah jam terlelap di lantai, telah terhidang secangkir teh manis panas oleh adik iparku, Erna.

Lalu, sesudah meminum habis teh manis panas itu, kumelangkah ke luar rumah. Kulihat sejumlah Adeneum sedang mekar. Kupetik setangkai berisi tiga bunga. “Loh, kenapa dipetik seperti itu?” Tanya Sarjito, adik bungsuku, suami Erna, yang selama ini merawat Adeneum-Adeneum itu.

“Akan kuberikan Ibu di makam!” Jawabku lalu melaju hanya dalam lima menit, aku sudah tiba di pusara Ibuku yang dibaringkan di makam umum desa kami, sehari sesudaj wafatnya, 19 November 2004 yang lalu.Kutancapkan bunga Adeneum itu di pusara makam ibuku. Pemilik hak cipta. Sumber: Dok pribadi.

Bersama senja yang rebah bersama lelah, kuletakkan setangkai Adeneum tiga bunga warna meraj semburat putih itu di pusara makam Ibuku. Ah, tak hanya kuletakkan melainkan kutancamkan lalu kusiram dengan sebotol air mineral. Lalu kuberdoa.

“Ibu, selamat hari arwah sedunia, 2 November, beristirahatlah dalam damai di kebahagiaan surga! Doankanlah aku yang masih berziarah di dunia ini.” Itulah isi doa singkatki lalu kulanjut dengan doa resmi Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan dan Terpujilah. 

Sesudah itu, kusempatkan selfie dengan bunga Adeneum yang sudah tertancap di pusara makam Ibuku. Kubayangkan dan kurasakan Ibuku hadir bersamaku meski tak tampak secara fisik, seakan berbisik, “Nggaya, pakai selfie segala….” Foto itulah yang menjadi gambar sampul dan ilustrasi tulisan ini.

Selfie di makam Ibuku dengan bunga Adeneum untuknya. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Dalam hening setengah jam lalu kumelangkah ke pusara lain, tempat Petrus Sri Winanto, adikku nomor tiga, yang meninggal dunia 25 Juni 2001, tiga tahun sebelum Ibu. Kupetik saja Semboja putih di makam itu, lalu kuletakkan di pusaranya, sambil berkata, “Dik, selamat istirahat dalam damai abadi di surga. Doakan daku juga dari surgamu yang semoga menjadi surgaku pula!”

Bunga Semboja buat adikku. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Lalu aku kembali ke rumah. Sesudah mencuci tangan dan kaki, aku berpamitan dengan ayahku, dan adikku. Pada pukul 18.00 kumeluncur menuju Ungaran, sesudah ayahku menyematkan berkat di dahiku.

Puji Tuhan, selamat sampai tujuan sesudah tiga setengah jam perjalanan. Syukur kepada Allah, ku boleh menancapkan Adeneum merah tiga bunga untuk Ibu tercinta dan bunga Semboja putih untul adikku.

Sesungguhnya,

bunga-bunga itu juga

merupakan ungkapan doa

bagi orang-orang yang kita cinta.***

Gambar sampul: Selfieku dengan bunga Adeneum di pusara makam Ibuku. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/908780401486647?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.