Inspiration

Hidup Sekedar Singgah untuk Minum, Lalu Harus Bagaimana?

Saat tiba di rumah Mas Gunretno (Rabu, 08/11/2017), saya mencari kendi yang biasanya tersedia di situ. Setelah menemukannya, saya mengangkatnya, dan sambil menengadah, saya menenggak air segar yang tersimpan di dalamnya. Mas Agung dari Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan memotretku. Seperti tampak dalam foto yang menjadi gambar sampul dan ilustrasi untuk tulisan ini, begitulah cara meminum air dari kendi. Nikmat!

Pemilik hak cipta

Seraya meminum air kendi itu, terlintas di pikiranku, ungkapan dalam bahasa Jawa: Urip mung sadrema mampir ngombe (hidup itu hanyalah sekedar singgah untuk minum). Bila direnungkan secara lebih cermat, ternyata, ungkapan itu memiliki konteks sosio-kultural yang sangat luas dan mendalam.

Di masa kecil saya, saya melihat dan mengalami, di depan rumah kami dan rumah penduduk kampung kami selalu tersedia kendi. Kendi adalah tempat minum seperti ceret, terbuat dari tanah liat. Sebagai anak sulung, salah satu tugas saya adalah mengisi kendi dengan air yang sudah direbus hingga mendidih. Tentu, air yang telah mendidih itu dibiarkan dingin terlebih dahulu. Baru kemudian, dimasukkan ke dalam kendi. Air pun menjadi segar dan sejuk, apalagi kalau sudah melewati malam dan diminum pada hari berikutnya. Suegeeeer!

Kendi berisi air yang ditaruh di depan rumah menjadi kendi yang merdeka. Artinya, siapa pun boleh singgah sejenak di kala rasa haus menyerang. Lalu menengadah dan menenggak air kendi itu tanpa harus menggunakan gelas atau cangkir. Namun, syarat utamanya, kita tidak boleh meminum dengan cara mencucupnya. Mulut kita tak boleh menyentuh ujung samping kendi, sebab kendi akan dipergunakan oleh siapa pun yang akan meminum air dari dalam kendi itu. Dalam bahasa Jawa disebut “dilenggak” (ditenggak) dan untuk itu, kita harus menengadah ke langit.

Di sinilah, makan sosio kultural kendi bisa dicermati. Pertama, ia melambangkan kesementaraan hidup di dunia. Kedua. kendi yang ditaruh di depan rumah menjadi simbol kemurahan hati dan ketersediaan untuk membantu siapa pun yang kehausan. Ketiga, cara minum dengan menengadah mengajarkan kepada kita filosofi untuk selalu ingat yang di atas, yang tak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi tujuan hidup kita secara paripurna.

Itulah sebabnya, dari peristiwa sosial itu terlahirlah ungkapan, urip iku mung sadrema mampir ngombe. Hidup itu hanyalah sementara saja, perjalanan peziarahan kita adalah bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa, apa pun agama kita. Oleh sebab itu, mari kita selalu bersikap murah hati, ingat akan sesama kita, hidup dalam kebersamaan yang ditandai kasih dan kerahiman, dan selalu ingat akan yang di atas, Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan hidup seperti itu, maka kita akan selalu disegarkan dari rasa haus akan kebenaran, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan bersama. Hidup di dunia ini hanyalah sementara, mari kita syukuri dengan selalu mengembangkan semangat berbagi kepada mereka yang membutuhkan perhatian kita.

Terima kasih Mas Gunretno dan rekan-rekan sedulur sikep yang masih mempertahankan budaya ini. Terima kasih saya boleh mereguk air kendi itu sambil merenungkan kehidupan yang serba sementara ini, agar selalu tergerak untuk berbuat baik dalam kemurahan hati dan memuji Tuhan serta mensyukuri nikmat dan berkat kasih karunia-Nya. Rahayu, rahayu, rahayu. Tuhan memberkati!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2442559945950730?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.