Inspiration

Lesung Ini Saksi Bisu Perjuangan Pahlawan Pegunungan Kendeng Lestari

Lesung ini

adalah saksi bisu bagi para ibu petani

yang berjuang demi pegunungan Kendeng lestari.

Lesung itu kini

berada di depan rumah mendiang Yu Patmi.

Yang bagi para pejuang pegunungan Kendeng lestari

sudah laksana pahlawan,

sebab Yu Patmi berjuang

demi keutuhan Gunung Kendeng lestari

hingga ia mati

dan kembali ke pangkuan Ibu Bumi Pertiwi.

Bagi para ibu petani kawasan pegunungan Kendeng, lesung ini sangat berarti. Di masa lalu, ia menjadi alat untuk menumbuk padi. Padi diubah menjadi beras sebelum ditanak menjadi nasi.

Meski di banyak tempat, lesung tak lagi berfungsi, sebab tergeser perannya oleh mesin selep penggiling padi. Namun, lesung yang masih tersimpan di depan rumah keluarga mendiang Yu Patmi itu masih tetap sangat berarti. Sekurang-kurangnya, pada lesung itu tersimpan sejuta memori. Kenangan para petani di kawasan pegunungan Kendeng dalam berjuang demi keletarian lingkungan dan keutuhan ciptaan. Bagi mereka, Yu Patmi laksana pahlawan yang berjuang demi pegunungan Kendeng lestari hingga kematiannya.

Pemilik hak cipta

Pada saat saya datang ke rumah keluarga mendiang Yu Patmi (Rabu, 08/11/2017), Mas Gunretno mengisahkan, lesung itu turut berjuang hingga Jakarta. Bersama para ibu petani warga kawasan pegunungan Kendeng, lesung itu ikut naik kendaraan. DI atas lesung itu di dalam kendaraan, sebagian dari para ibu duduk dalam perjalanan dari Pati menuju kota metropolitan Jakarta. Di sana, lesung itu pun menjadi saksi perjuangan mereka yang menuntut keadilan demi kelestarian lingkungan dan keutuhan ciptaan, dalam aksi tolak pabrik semen di depan Istana Negara Presiden.

Saat kuberada di rumah mendiang Yu Patmi, kuajarkan kepada beberapa ibu di sana untuk memanfaatkan lesung itu sebagai alat musik sederhana. Kupegang alu, lalu kumainkan alu itu bukan untuk menumbuk padi, melainkan untuk mengiringi para ibu bernyanyi. Dan ketika, alunan nada bergema, perpaduan antara alu dan lesung itu, beberapa ibu pun mulai menyanyi, melantunkan tembang perjuangan yang selama ini selalu mereka serukan.

Pemilik hak cipta

Saat kami memainkan alu dan lesung itu, Mas Agung dari Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan memotret kami dengan perangkat ponselku. Tampak dalam foto itu, saat aku menabung lesung dengan alu. Tampak pula sejumlah ibu, ada Yu Tatik, Yu Parni, dan Yu Ginem. Mereka pun mulai mengalunkan lagu. Lagu perjuangan yang sendu, yang menyayat bagai sembilu.

Ibu bumi wis maringi,

ibu bumi dilarani,

ibu bumi kang ngadili….

Ibu Bumi Pertiwi telah memberi,

Ibu BUmi Pertiwi disakit,

Ibu Bumi Pertiwi yang akan mengadili….

Begitulah lesung itu tak lagi menjadi saksi bisu perjuangan para ibu. Ia bertalu dan bertalu menjadi nada-nada perkusif repetitif mengiringi nyanyian perjuangan tolak pabrik semen demi kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan: Gunung Kendeng lestari!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3974486543123094?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.