Inspiration

Bersiap Bersyair Bersama Sang Penyair

Beberapa hari ini

di sela-sela tugas pelayananku

kubersiap bersyair bersama Sang Penyair.

Inilah Yudhistira ANM Massardi. Pemilik hak cipta

Aku menyebutnya Sang Penyair. Dalam pengantarnya pada buku “Perjanalan 63 Cinta – Kumpulan Puisi Biografis”, [KPG: Jakarta, 2017] karya Mas Yudhis ini, Agus Darmawan T menyebut beliau sebagai “penyair yang lahir di tengah mazhab Yogyakarta 1970-an” (h. xvii) dan “semakin menjadi-jadi ketika ia pindah ke Jakarta, tempat ia menjadi moncer dan sejahtera. Di kota ini ia bergabung dengan komunitas kebudayaan dan kesenian metropolitan yang begitu progresif… Tetapi jiwa syahdu Yudhis tidak tergeser!” (h. xviii). Mas Yudhis adalah Sang Penyair yang “tetap mampu berjalan tenang dan pelan seraya berburu bulan, mencari cahaya, mencegat matahari, memandang pohon-pohon, menghormati oksigen, menyusuri jalan sungai bening ke muara, memperhatikan alang-alang”. Ia masih bisa melihat “rembulan, hujan, camar, mawar, burung, laron dan embun…” (h. xviii). Tak salah bila kusebut dia sebagai Sang Penyair.

Dan aku pun terharu biru oleh kepercayaannya yang ditaruh lembut di pundakku. Sahabat dan guruku, Kangmas Yudhistira ANM Massardi mengundangku dalam pembacaan puisinya “Perjalanan 63 Cinta” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Jl. Ir. Sutami 57 Kentingan, Solo. Hari Selasa, 21 November 2017, menjadi hari yang istimewa bagiku, bukan karena pentas, melainkan karena membangun relasi yang semakin luas lintas batas bersama jiwa-jiwa yang bebas meretas segala batas.

Relasi itu bagian dari yang disebut srawung. Dalam bahasa Jawa dan bagi orang Jawa Tengah, kata srawung berarti begaul terlibat tanpa sekat! Tujuannya hanya satu, yakni untuk menjadi saling dekat dan saling berbagi berkat di antara umat dan masyarakat. Maka dan karenanya, tak ada lagi tempat bagi segala hojat apalagi laknat juga khianat!

Relasi dibangun melalui jalur budaya dan seni. Budaya dan seni melalui puisi. Puisi mengolah nurani. Nurani yang tak terbelenggu oleh egoisme pribadi, melainkan mengembangkan sikap peduli. Sikap peduli mengubah sungai-sungai yang mengalirkan air menjadi lautan kerahiman Sang Ilahi, sebab di sana ada tekad untuk saling berkorban dengan rasa cinta sejati!

Itulah yang kutangkap saat daku bersiap melatih diri membaca dan membacakan dua puisi yang dipercayakan kepadaku oleh Mas Yudhis dalam acara yang menebarkan aroma sedap. Aku diminta membaca puisi “Cinta Itu” dan “Oktober”. Terutama pada puisi pertama, “Cinta Itu”, kutangkap aroma takwa kepada Sang Pencipta yang membuat jiwaku tertunduk taat lalu tak bisa tidak kuharus sujud kepada-Nya.

“Cinta Itu”, itulah judul puisi pertama yang akan kubaca. Dan di sana aroma takwa kurasakan semerbak melumuri jiwa. Aku sungguh menikmatinya. Maka, nikmatilah pula puisi itu, agarpanjenengan pun mendapat rahmat mencecap dan mereguk manisnya takwa! Inilah puisi itu, “Cinta Itu”, karya Mas Yudhis yang akan kubaca dengan jiwa membara penuh cinta jua.

Yudhistira ANM Massardi dan saya. Pemilik hak cipta

Cinta itu

Magma yang membangun gunung

: gunung kerinduan, gunung kesabaran

Di dada Hajar, di dada Sarah

(Ketika umur mengeringkan rahim

Ketika waktu memanjangkan harapan)

Cinta itu

Iman yang membangun takwa

: kepada kehadiran, kepada kekuasaan-Nya

Di dada Ibrahim, di dada Ismail

(Ketika mimpi memberikan isyarat

Ketika isyarat meminta jiwa taat)

Cinta itu

Darah dan daging menyapa kaum papa

: bahagia peduli, bahagia berbagi

Di Jantung lapar di jantung ummat

(Ketika kekayaan merisaukan orang

Ketika jarak melebarkan jurang)

Cinta itu, Sayangku

Ketika kamu menajamkan pisaumu

Agar lukaku tidak terasa

“Tapi aku tak kuasa melihat darah,” katamu

“Pejamkan saja matamu

Sang Maha Cinta akan menyelesaikan untuk kita.”

“Seperti di bukit batu itu?”

“Ya, ketika domba datang menukarkan lehernya.”

Cinta itu, Sayangku

Bertukar mimpi dengan iman

Bertukar domba dengan kita

Bertukar kita dengan mereka

Bertukar Arafah dengan Allah!

Itulah “Cinta Itu” karya Yudhistira ANM Massardi yang dipercayakan padaku untuk kubaca dalam bersyair bersama Sang Penyair. Puisi yang dibuat di Bekasi, pada bulan September tahun 2016 termuat dalam “Perjalanan 63 Cinta – Kumpulan Puisi Biografis” karya Yudhistira ANM Massardi. Itulah puisi yang melumuri jiwaku dengan iman dan takwa.

Dengan menuliskan catatan reflektif ini, aku pun kian belajar mengerti dan menangkap makna puisi ini. Ini juga merupakan bagian dari upayaku bersiap bersyair bersama Sang Penyair.

Kuharap

aku tidak salah menangkap

sehingga bisa membacakannya dengan cakap

terlebih menghidangkannya sebagai sajian yang sedap!***

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2492296340121073?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.