Inspiration

Meski Tak Seberapa, Tetaplah Kubangga Bahagia

Aku hanyalah setetes embun

di selaksa daun-daun

dan laksana sebutir pasir

di hamparan samudera beliau-beliau

yang akan kusebutkan ini,

meski tak seberapa namun tetaplah kubangga dan bahagia!

Kebahagiaan itu sederhana! Menikmati karya dengan cinta kendati kadang terluka. Itulah tiba-tiba yang kupikirkan dan kurasakan sesaat sebelum berangkat menuju Kota Solo untuk berjumpa guru dan sahabat. Dalam ajang pentas baca dan musikalisasi puisi bersama Mas Yudhistira ANM Massardi pada segmen “Perjalanan 63 Cinta”, aku mengalami berlimpah rahmat dan berkat. Meski tak seberapa diriku di hadapan guru dan sahabat, tetaplah kubangga dan bahagia!

Lalu, tiba-tiba aku tergoda untuk menyandingkan dua karya, yang satu dari Sang Penyair, dan lainnya adalah yang baru rindu lahir menjadi penyair. Kusandingkan karyaku “Rinduku Lahir Menjadi Penyair” (NSPIRASI: Semarang, 2015) dengan “Perjalanan 63 Cinta” (KPG: Jakarta, 2017) karya Mas Yudhistira ANM Massardi, meski tak seberapa tetaplah kubangga bahagia.

Pemilik hak cipta

Di sanalah jiwa kami saling berjumpa di kedalaman lautan cinta yang sesekali tertusuk karang membawa luka, namun menghadirkan kebahagiaan. Dan dalam “ketakseberapaanku” sekaligus kebanggaan-bahagiaku, aku teringat pada para guru dan sahabat-sahabat lain yang membidaniku saat lahir sebagai penyair.

Pertama-tama adalah K.H. A. Mustofa Bisri atau akrab di panggil Gus Mus. Beliau adalah ulama, kiai, penyair, pelukis dan budayawan. Pada sampul belakang buku “Kurindu Lahir Menjadi Penyair”-ku, Gus Mus menulis, “Romo Aloys Budi Purnomo Pr, tidak hanya agamawan, tapi juga seniman dan budayawan. Khotbahnya tidak hanya dengan lisa, tapi juga tindakan dan musik. … Kini beliau ‘lahir menjadi penyair’ sebagaimana didambakannya waktu kanak-kanak dan sebenarnya sudah pernah dibuktikannya sejak masih di seminari. Kini, saatnya kita menyambut kelahiran Sang Penyair dengan kejawaraan puisi-puisinya.”

Tiba-tiba saya merasa sangat kecil tak seberapa membaca ulang kalimat-kalimat Gus Mus bagiku, namun tetap kubangga bahagia, meski aku tak seberapa dan bukan apa-apa.

Pemilik hak cipta

Lalu kuingat Romo GP Sindhunata SJ, wartawan dan budayawan yang turut merawat keberadaanku dalam mengarungi samodera sastra, seni dan budaya bersama Mustofa W. Hasyim, cerpenis, penyair dan novelis dari Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak ketinggalan penyair Timur Sinar Suprabana dan budayawan Prie GS, yang meneguhkan dan menyambut kehadiranku dalam dunia mereka yang bertabur kata-kata bermakna dan jiwa puisi bagi siapa saja.

Matur sembah nuwun Gus Mus, Romo Sindhu, Pak Mustofa, Kangmas Timur dan Kang Prie GS atas pendampingan dan perawatan dalam menumbuhkan benih-benih sastra, seni dan budaya sebagai sebentuk buah peradaban kasih. Terima kasih Mas Yudhis yang menyirami pohon cinta yang bertumbuh itu, agar subur dan berbuah kasih dalam kehidupan kita bersama.

Aku hanyalah setetes embun

di selaksa daun-daun

dan laksana sebutir pasir

di hamparan samudera beliau-beliau

yang telah kusebutkan itu,

meski tak seberapa namun tetaplah kubangga dan bahagia!***

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/694665483395440?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.