Inspiration

Rangkuman Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Miskin Sedunia I

Referensi pihak ketiga dari www.bbc.co.uk

Paus Fransiskus menetapkan Hari Minggu XXXIII menurut penanggalan liturgi Gereja Katolik Roma, 19 November 2017, sebagai Hari Orang Miskin Sedunia untuk pertama kalinya. Penetapan sudah dilakukan pada tanggal 13 Juni 2017 yang lalu di Vatikan seraya menerbitkan pesan yang saya rangkum ini. Pertama-tama, pesan asli ditulis dalam bahasa Italia. Saya merangkum pesan tersebut berdasarkan edisi bahasa Inggris yang termuat dalam https://w2.vatican.va/content/francesco/en/messages/poveri/documents/papa-francesco_20170613_messaggio-i-giornatamondiale-poveri-2017.html. Selain itu, saya juga menggunakan terjemahan lengkap dalam bahasa Indonesia yang dilbuat oleh Romo Benny Hari Juliawan SJ yang dapat diakses dalam berbagai laman, antara lain http://bongsariparoki.blogspot.co.id/2017/11/pesan-bapa-suci-paus-fransiskus-untuk.html?m=1. Kedua laman tersebut menjadi sumber dan acuan saya dalam membuat rangkuman atas pesan Paus Fransiskus dalam rangka Hari Orang Miskin Sedunia I ini. Semoga menambah wawasan kita dan menjadi inspirasi untuk melayani orang miskin di sekitar kita

Saat penetapan, Paus Fransiskus menulis pesan yang cukup panjang dengan judul “Marilah kita mengasihi, bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan!” Judul tersebut diangkat dari 1 Yohanes 3:18, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”. Menurut Paus Fransiskus kata-kata Rasul Yohanes ini menyuarakan sebuah perintah yang tidak dapat diabaikan oleh siapapun, terutama umat kristiani. Siapa pun, dipanggil melakukan belas kasihan dan karya-karya kerahiman untuk kepentingan saudara dan saudari kita yang membutuhkan.

Paus Fransiskus mengingatkan panggilan kita untuk membela dan memperhatikan orang miskin bukan hanya dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan. Kita tidak boleh menghina orang miskin. Syukur kepada Allah, dalam sejarah, telah muncul banyak orang mengabdikan hidup mereka untuk melayani orang miskin. Selama dua ribu tahun ini, berapa banyak halaman sejarah telah ditulis oleh orang-orang kristiani yang, dengan kesederhanaan dan kerendahan hati yang terungkapkan, dan dengan cinta kasih yang berlimpah dan mencipta, telah melayani saudara dan saudari mereka yang paling miskin! Dalam hal ini, Paus Fransiskus menyebut St. Fransiskus Asisi sebagai teladan yang paling menonjol. Ia tidak puas merangkul orang kusta dan memberi mereka sedekah, tetapi memilih pergi untuk tinggal bersama mereka. 

Paus Fransiskus juga mengingatkan, kita mungkin memikirkan orang miskin hanya sebagai penerima manfaat dari karya sukarela kita sesekali, atau tindakan kemurahan hati mendadak yang menenangkan hati nurani kita. Betapapun baik dan bergunanya tindakan semacam itu mungkin membuat kita peka terhadap kebutuhan orang-orang dan ketidakadilan yang sering menjadi penyebabnya, tindakan tersebut seharusnya mengarah pada perjumpaan sejati dengan orang miskin dan berbagi menjadi sebuah cara hidup. 

Dengan jelas Paus Fransiskus menulis, kita dipanggil untuk mendekati orang miskin, menjumpai mereka, bertemu pandang dengan mereka, merangkul mereka dan membiarkan mereka merasakan kehangatan kasih yang menerobos kesendirian mereka. Tangan mereka yang terulur juga merupakan undangan untuk melangkah keluar dari kepastian dan kenyamanan kita, serta menyadari nilai kemiskinan itu sendiri.

Mengacu pada Katekismus Gereja Katolik, No. 25-45, Paus asal Argentina itu juga menegaskan bahwa kemiskinan berarti memiliki kerendahan hati yang menerima keterbatasan ciptaan dan keberdosaan kita serta dengan demikian memungkinkan kita untuk mengatasi godaan merasa mahakuasa dan abadi. Kemiskinan adalah sikap batin yang menghindari memandang uang, karir dan kemewahan sebagai tujuan hidup kita dan kondisi untuk kebahagiaan kita. Kemiskinan justru menciptakan kondisi untuk dengan rela memikul tanggung jawab pribadi dan sosial kita, terlepas dari keterbatasan kita, dengan mempercayai kedekatan Allah dan dukungan rahmat-Nya. Kemiskinan, yang dipahami dengan cara ini, adalah tolok ukur yang memungkinkan kita menilai bagaimana sebaiknya mempergunakan benda-benda jasmaniah dan membangun hubungan yang tidak egois atau posesif. 

Menurut Paus Fransiskus, jika kita ingin membantu mengubah sejarah dan menggalakkan perkembangan yang sesungguhnya, kita perlu mendengar jeritan orang miskin dan berkomitmen untuk mengakhiri penelantaran mereka. 

Pengganti Benediktus XVI ini mengakui bahwa betapa sulitnya pada masa kini, bagi kita untuk melihat kemiskinan dengan jelas apa adanya. Menurut Paus Fransiskus, kemiskinan menantang kita setiap hari, dalam wajah yang ditandai dengan penderitaan, penelantaran, penindasan, kekerasan, penyiksaan dan pemenjaraan, peperangan, perampasan kebebasan dan martabat, ketidaktahuan dan buta huruf, keadaan darurat medis dan kekurangan pekerjaan, perdagangan manusia dan perbudakan, pengasingan, kemiskinan yang luar biasa dan migrasi paksa. Kemiskinan juga memiliki wajah wanita, pria dan anak-anak yang dieksploitasi oleh kepentingan mendasar, yang dihancurkan oleh persekongkolan kekuasaan dan uang. Betapa sebuah daftar yang getir dan tak berujung yang harus kita himpun adalah kita menambahkan kemiskinan yang lahir dari ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, keserakahan beberapa orang terpilih, dan ketidakpedulian yang merata! Tragisnya, di masa kita, bahkan ketika kekayaan yang mewah menumpuk di tangan beberapa orang tertentu, seringkali berkaitan dengan kegiatan-kegiatan ilegal dan eksploitasi martabat manusia yang mengerikan, ada sebuah pertumbuhan kemiskinan yang memalukan di sektor masyarakat luas di seluruh dunia kita. 

Berdasarkan realitas itu, Paus Fransiskus mengundang seluruh Gereja, serta pria dan wanita yang berkehendak baik di mana pun, untuk mengalihkan pandangan mereka pada hari ini kepada semua orang yang mengulurkan tangan mereka serta memohon bantuan dan kesetiakawanan kita. Hari ini dimaksudkan, terutama, untuk mendorong orang-orang percaya bereaksi terhadap budaya mencampakkan dan membuang, serta merangkul budaya perjumpaan. Pada saat bersamaan setiap orang, apa pun agamanya, diundang kepada keterbukaan dan berbagi dengan orang miskin melalui tanda kesetiakawanan dan persaudaraan yang nyata.

Paus Fransismus berharap agar kita semua menciptakan saat-saat perjumpaan dan persahabatan, kesetiakawanan dan bantuan nyata. Paus Fransiskus juga mengajak kita semua menyadari kebutuhan kita untuk mengatasi segala bentuk keegoisan, agar masuk ke dalam sukacita saling menerima.

Demikianlah rangkuman yang bisa saya sampaikan berdasarkan pesan tertulis dari Paus Fransiskus pada Hari Orang Miskin Sedunia I. Sekali lagi, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Sumber bahan dasar rangkuman: https://w2.vatican.va/content/francesco/en/messages/poveri/documents/papa-francesco_20170613_messaggio-i-giornatamondiale-poveri-2017.html dan http://bongsariparoki.blogspot.co.id/2017/11/pesan-bapa-suci-paus-fransiskus-untuk.html?m=1.

Sumber gambar sampul dan ilustrasi: www.bbc.co.uk

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3245226383283118?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.