Inspiration

Antara Doa Midodareni dan Mendoakan Orang Sakit, Mana Yang Harus Didahulukan?

Apa yang Anda pilih di saat ada permintaan dalam waktu yang bersamaan antara mendoakan orang sakit dan mendoakan calon mempelai dalam suatu tradisi midodareni? Tentu saja, kedua hal itu penting dalam tahapan kehidupan manusia. Lalu bagaimana cara kita harus menyikapinya secara bijaksana? Berikut ini salah satu jawaban menurut pengalamanku.

Saat Midodareni. Pemilik hak cipta

Sabtu (02/12/2017) malam Minggu, saya diminta mendoakan sepasang calon mempelai (Jerry-Astrid) dalam acara malam midodareni di sebuah rumah makan. Permintaan itu sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Tiba-tiba, mendekati acara dimulai, seseorang mengabarkan kepadaku bahwa anggota keluarganya sakit dan meminta doa baginya.

Dalam tradisi rohani Gereja Katolik, sejauh tidak ada halangan apa pun, seorang imam wajib memberikan pelayanan berupa sakramen perminyakan suci (dengan menggunakan minyak suci yang sudah diberkati hanya oleh seorang Uskup dalam sebuah ritus khusus bersama para imamnya menjelang Kamis Putih setahun sekali) kepada yang sakit. Dan untuk pelayanan tersebut, apalagi dalam situasi pasien dalam keadaan sakratul maut, maka pelayanan tidak boleh ditunda-tunda oleh karena alasan-alasan yang tidak bertanggungjawab. Secara teologis-yuridis tujuannya adalah pro cura animarum (demi keselamatan jiwa-jiwa) berlomba dengan maut yang datang menjemput!

Itulah dilema yang kuhadapi di hari Sabtu malam (02/12/2017). Idealnya, perminyakan itu bisa dilaksanakan sebelum doa midodareni, sekiranya waktu dimungkinkan. Artinya, masih ada waktu yang cukup longgar dan memadahi antara pemberian sakramen minyak suci dan upacara doa midodareni. Namun bila yang ideal itu tidak bisa dilakukan, lalu kita harus bagaimana?

Pemilik hak cipta

Inilah solusi yang saya ambil. Berhubung acara doa dalam rangka midodareni sudah diminta sebelumnya jauh hari, meskipun yang meminta doa bagi anggota keluarganya yang sakit itu sudah kukenal begitu baik sebagai sahabatku, maka dalam keadaan itu, saya masih menawar kepadanya. Tawaran pertama, mungkinkah mencari Romo lain? Ternyata dia menjawab, tidak mungkin, sebab katanya, beberapa Romo lain yang dia kenal, pada saat yang sama ada tugas lain. Menurutku, ini bertanggungjawab, apalagi hari Sabtu malam Minggu, para Romo Paroki pasti disibukkan oleh pelayanan Misa Mingguan. Kita tidak boleh menghakimi siapa pun dalam hal ini, apalagi mempersalahkan, tidak dan jangan!

Maka, kuajukan tawaran kedua, mungkinkah, pelayanan doa bagi yang sakit dilakukan sesudah midodareni? Dengan catatan, saya pun tidak akan mengikuti acara sesudah doa midodareni yang berupa pesta dan santap bersama. Atas tawaran yang kedua ini, Edita, yang meminta minyak suci untuk tantenya, menjawab: Oke! Syukur kepada Allah.

Begitulah, maka, saya pun boleh dan dimampukan untuk menjalankan tugas pelayanan tersebut sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Saya bersyukur bisa memilih dan mengambil keputusan secara bijaksana antara melayani permintaan doa untuk malam midodareni dan pelayanan pengurapan minyak suci kepada yang sedang membutuhkannya. Doa midodareni berjalan dengan baik dan lancar. Pengurapan minyak suci diberikan dengan baik dan lancar pula, Dua-duanya bisa dilayani sebaik-baiknya, itulah kebahagiaanku sebagai imam-Nya. Syukur kepada Allah. Semoga bermanfaat dan menjadi berkat.***

Pastoran “Johar Wurlirang”, 03/12/2017

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/178273387833923?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.