Inspiration

Banyak Pribadi di Sekitar Kita, Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (4)

Hari Jumat merupakan hari keempat, saya tinggal di pastoran baru. Meski sendiri, tidaklah sendirian. Meski hari ini merupakan hari libur, namun ada beberapa hal yang kualami dan kujalani di hari keempat ini, meski sendiri, namun aku tak sendirian. Sesudah bangun tidur, saya (bersiap) merayakan Ekaristi dan adorasi singkat di hari Jumat pertama bersama para suster di Dormitori Unika Seogijapranata. Itulah kegiatanku yang utama dan pertama di hari keempat di pastoran baru.

Kegiatan yang kedua pagi hari ini adalah ini. Sesudah sarapan, saya menerima kehadiran Astrid dan Dicky dari UNDIP Semarang yang melanjutkan tugasnya mewawancaraiku sebagai narasumber untuk tugas kuliahnya. Dia datang berdua, Astrid mewawancaraiku, dan Dicky merekam dengan kameranya. Pertanyaan-pertanyaan Astrid bertema hal-hal ini: toleransi, apa itu toleransi menurutku, bagaimana toleransi diperkembangan, apa tujuannya, mengapa saya begitu getol melakukannya, siapa figur-figur yang penting dalam rangka membangun toleransi dalam kehidupan saya. dan tantangan-tantangan yang kuhadapi dalam mewujudkan toleransi.

Begitu banyak pertanyaan dan cukup mendalam dia ajukan padaku. Saya harus menjawab dengan baik dan cermat serta bijaksana. Untunglah, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tak jauh dari pengalaman yang kuhidupi selama ini, yakni terkait dengan upaya membangun peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya. Dasarnya adalah toleransi. Namun toleransi harus dimengerti secara benar sesuai dengan hakikatnya.

Hakikat toleransi adalah saling menolong, saling menanggung beban dan saling membantu. Toleransi berasal dari kata tolerare dalam bahasa Latin yang berarti membantu, menolong, mengangkat bersama. Maknanya sangat positif. Dalam arti ini, maka toleransi merupakan hal yang sangat bagus dan diperlukan sehingga setiap orang harus melakukannya demi kebaikan hidup bersama. Toleransi tak hanya terkait dengan soal agama, melainkan juga budaya dan kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam konteks kehidupan bersama, toleransi saja tidaklah cukup. Dibutuhkan lebih dari toleransi, yakni sikap saling mengerti dalam kasih (mutual understanding in love). Untuk itu, paradigma positif harus dikembangkan, Itulah yang diajarkan Gereja Katolik, khususnya, melalui Konsili Vatikan II (KV II). KV II mengajarkan melalui Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate (2-5) cara pandang positif yang harus menjadi paradigma kehidupan bersama. Cara pandang positif itu itu menjadi paradigma positif yang harus dihayati sebab diajarkan di sana bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, yang benar dan yang suci, yang terdapat dalam semua agama dan setiap budaya. Kita didorong untuk membangun kerjasama dan dialog berbasis budaya, sosial dan spiritual. Kita pun tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap siapapun. Itulah rangkuman pokok gagasan yang saya sampaikan kepada Astrid dalam wawancara tersebut sebagai kegiatan kedua pada hari keempatku di tempat baru, meski sendiri, tidaklah sendirian.

Sementara Astri dan Dicky mengakhiri wawancaranya, Pak Parmin, yang bekerja sebagai satpam di Unika Soegijapranata datang, Beliau menjemputku sebab kami akan silaturahmi dan berkenalan dengan Ketua RT 06/RW 02, tempat pastoran Johar Wurlirang berada dan dengan demikian menjadi tempat domisili saya selama saya bertugas dan tinggal di situ (lihat http://tz.ucweb.com/12_1ZbT0). Selain berkunjung ke rumah Ketua RT 06/RW 02, saya juga diajak berkunjung ke rumah salah satu warga yang disepuhkan di situ, yakni Pak Jarwo yang istrinya menderita sakit stroke (lihat http://tz.ucweb.com/12_1ZqO9). Inilah kegiatanku yang keempat hari itu.

Kegiatan selanjutnya adalah saat daku menerima tamu perdana yang mengunjungiku, yakni keluarga Ibu Taslim. Itulah yang sudah kunarasikan dan kubagikan dalam artikel yang diterbitkan UC We-Media pada link http://tz.ucweb.com/12_1ZFQd ini. Sesudah mereka pulang, saya beristirahat. Lalu malamnya, rombongan para suster dari Dormitori Unika Soegijapranata datang untuk menikmati santap malam bersama di pastoran baru yang kutempati. Suasana gembira dan penuh sukacita kami alami sebagaimana sudah kukisahkan dalam http://tz.ucweb.com/12_20Pmm ini.

Dalam semua kegiatan itu, semakin kurasakan dan kualami bahwa meski sendiri, aku tidaklah sendirian. Banyak pribadi yang sangat berarti di sekitar kita yang menjadi sahabat-sahabat dan keluarga kita dalam semangat persaudaraan dan kasih. Kegiatan-kegiatan dan pribadi-pribadi yang mewarnai hidupku pada hari keempat dari pagi hingga malam semakin membuktikan bahwa kita tidak pernah sendirian. Tuhan selalu mengutus pribadi-pribadi istimewa yang akan mewarnai dan membentuk kehidupan kita. Inilah kilas balik atas peristriwa pada hari keempat di pastoran Johar Wurlirang yang menegaskan kebenaran bahwa meski sendiri, kita tidak pernah sendirian. Karenanya, janganlah takut di saat-saat sendiri, sebab selalu ada pribadi-pribadi di sekitar kita yang sangat berarti dalam kehidupan kita.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2524880375205250?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.