Inspiration

Belajar Bersahabat dengan Para Kera

Di dekat pastoran baruku, Pastoran Johannes Maria Dhuwur Kaligarang – disingkat “Johar Wurlirang” ada banyak kera. Maka kucoba bersahabat dengan mereka pula. Beginilah salah satu caranya, seperti tampak dalam video ini.

Orisinil

Pagi ini (Sabtu. 02/12/2017), pagi yang cerah. Matahari bersinar memberikan kehangatan kepada semesta alam. Sesudah merayakan Ekaristi bersama para Suster di Dormitori Unika Soegijapranata dan menikmati sarapan, saya mengumpulkan kulit apel, pir, dan sisa-sa pir yang tak termakan. Semua itu kubawa pulang, untuk kuberikan kepada kera-kera yang suka bergelantungan di pepohonan dan rumpun bambu di dekat pastoran “Johar Wurlirang” itu.

Kusapa mereka dengan caraku seadanya. Sambil bersiul-siul memanggil mereka, kutawarkan “makanan”. Kuberikan yang kubawa dari susteran itu kepada mereka dengan cara kutaruh di teralis pagar. Lalu, kusapa mereka.

Pemilik hak cipta

Kera-kera pun bermunculan. Mereka datang bergelantungan. Mengambil makanan dan menikmatinya seadanya.

Aku harus bersahabat dengan mereka, sebab setiap saat aku akan berjumpa dengan mereka. Dari dalam kamarku, keberadaan mereka terlihat sangat jelas. Mereka bertengger di atas pohon. Kadang mereka bergerombol seakan “mengobrol dari hati ke hati tanpa suara”. Kadang ada yang duduk sendirian, seakan merenungi nasibnya. Baik kera besar maupun kera kecil ada di situ sebagai tetangga terdekatku. Mereka juga berjalan di atas teralis pagar. Mereka bergelantungan pada kabel listrik. Begitulah kehidupan mereka.

Hari Jumat siang (01/12/2017), Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengirimkan salam kepada mereka. Mgr. Ruby menulis dalam pesannya kepadaku, “Salam buat anggota komunitas berbuntut panjang…” Saya pun segera membuka jendela kamarku dan berseru, “Hai teman-teman, kalian dapat salam dari Mgr. Ruby…” Namun, tak satu pun yang bergeming, sebab tampaknya mereka masih bersembunyi akibat hujan semalaman dari mereka masih kedinginan di balik semak-semak dan rumpun bambu.

Pemilik hak cipta

Semoga aku bisa bersahabat dengan mereka. Paling tidak, itulah penghiburan alami yang kunikmati setiap hari. Kucoba menyapa mereka, meski mereka mungkin tak mengerti bahasaku, apalagi setiap detil perasaanku, caileee ya iyalah hahaha. Tetapi, begitulah aku harus mencobanya, sebab, merekalah tetangga-tetanggaku.

Saya tidak tahu, apakah suatu saat saya bisa mengajari dan mengajak mereka berdoa hehehe. Namun, sekurang-kurangnya, aku bisa belajar dari mereka untuk hidup merdeka bersama alam. Mereka begitu rajin, selama beberapa hari ini, selalu kudengar dan kulihat, mereka sudah bangun pagi lalu bercanda di antara mereka dengan suara-suara yang ceria. Tak ada kebencian dalam diri mereka!

Pastoran “Johar Wurlirang”, 02/12/2017, pukul 10.34 WIB.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4098357377526039?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.