Inspiration

Lupa Itu Sungguh Tak Terduga, dengan Rendah Hati, Saya Mohon Maaf

Yang namanya lupa, itu memang sungguh tak terduga. Barangkali Anda pernah mengalaminya. Bagaimana rasanya? Apalagi terkait dengan sebuah karya pelayanan yang bersifat publik. Dengan segala rasa sesal dan permohonan maaf, saya bagikan pengalamanku yang terjadi hari ini. Dengan menulis dan berbagi kisah ini, saya tidak hendak mempersalahkan siapapun, selain diri saya sendiri. Maka dengan segala kerendahan hati, melalui tulisan ini, saya ingin memohon maaf kepada paramitra dan memohon doa dari Anda.

Pemilik hak cipta

Ini adalah pengalaman sekali selama tiga belas tahun saya melayani mimbar agama Katolik di sebuah radio swasta di Semarang. Selama tiga belas tahun, mereka mempercayakan tugas ini kepadaku setiap hari Minggu pertama dalam bulan, pukul 10.30-11.00 WIB. Namun, hari ini, menjadi sejarah yang kusesali seumur hidupku, meski melalui Mas Daniel, mereka sudah memaafkan daku!

Lupa itu datang secara tiba-tiba! Hari Sabtu pagi, saat kami sarapan di susteran Dormitori Unika, saya sudah bercerita kepada para suster tentang pelayanan mimbar agama Katolik dalm siaran radio tersebut. Itu sudah kulakukan selama tiga belas tahun tanpa jeda. Andaikan aku tidak bisa siara langsung, minimal sehari sebelumnya, saya sudah rekaman untuk kepentingan itu di studio mereka.

Namun hari ini sungguh-sungguh sial yang mendatangkan sesal. Aku sudah berencana untuk siaran secara langsung. Bahan sudah kupersiapkan. Namun, sesudah Misa Minggu bersama para suster dan beberapa mahasiswi yang tinggal di asrama (dormitori), lalu kami menikmati sarapan bersama, lupa itu datang menerpa!

Kebetulan sesudah sarapan usai, kami kedatangan tamu, yakni rombongan keluarga Ibu Yuli sekeluarga. Bersama suaminya tercinta dan kedua putri-putranya tersayang (Vita dan Bima), mereka datang ke susteran. Mereka pun dipersilahkan menikmati soto, menu sarapan kami. Terjadilah pembicaraan ke sana ke mari. Juga sharing dari salah seorang suster tentang keadaan asrama baru-baru ini.’

Sesudah itu, kami semua berjalan kaki menuju pastoran. Bu Yuli hendak memasang cover bed di kamar yang akan ditempati oleh Romo V Yudho W Pr. Sementara Bu Yuli mempersiapkan segala sesuatu di kamar Romo Yudho, saya mengobrol dengan suami Bu Yuli dan kedua anaknya, sambil melihat film kartun di televisi. Itu saya tawarkan kepada Bima dan Vita, sebab mereka harus “kecewa” oleh sebab tidak berhasil berjumpa dengan “teman-teman baruku” yakni para kawanan kera. Padahal, Bima sudah membawa roti bakar, hendak dihadiahkan kepada mereka.

Sesudah mereka pulang, saya masuk ke dalam kamar hendak menulis sesuatu. Saat itulah, aku membaca beberapa pesan, yang antara lain berisi ucapan, “Selamat menjalankan tugas siaran radio!” Ups…., mati aku… pikirku. Pesan itu sudah terkirim sejak pukul 09.14. WIB, namun saat itu, saya tidak membuka ponselku. Andaikan saat itu aku membuka ponselku, pasti pesan itu menjadi penanda sangat berharga yang mengingatkan kealphaanku. Namun apa boleh buat, semuanya sudah lewat.

Maka, aku pun segera berkabar kepada Mas Daniel, salah seorang crew di radio tersebut, yang tiga belas tahun silam menjemputku di Katedral Semarang, dan meminta agar aku mau mengisi siaran radio mimbar agama Katolik. Hingga sebelum hari ini, semua kujalankan dengan baik dan setia. Namun apa daya, hari ini, di tempatku yang baru, dengan segala proses adaptasiku, ternyata lupa menimpa saya! Saya alpa menjalankan tugas pelayanan saya! Maka dengan segera, saya mengirimkan pesan permohonan ampun dan maaf kepada Mas Daniel. Mas Daniel langsung menjawab, “Dimaafkan Romo…” dengan disertai fitur tertawa, bukan tertawa mengejek di perasaanku, melainkan tertawa mengampuni dengan segala belas kasihannya kepadaku.

Pemilik hak cipta

Itulah pengalaman lupa seumur hidupku, dalam tiga belas tahun ini, lupa satu kali dan tidak menjalankan tugas pelayanan siaran radio mimbar agama Katolik sebagaimana seharusnya. Kepada Radio Gajah Mada FM 102.4 melalui Mas Daniel, saya sudah meminta ampun dan maaf. Mereka mengampuni dan memaafkan daku. Terima kasih dan syukur kepada Allah.

Maka, pada kesempatan yang baik ini, melalui tulisan ini, secara terbuka, saya juga memohon maaf kepada paramitra setia yang selama ini pun setia mendengarkan siaran radio mimbar agama Katolik, baik recorded maupun live. Saya mohon maaf. Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa! Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa! Mohon pengampunan saudari-saudara sekalian paramitra setia di mana berada!

Aku berdoa, ini menjadi pengalaman pertama dan terakhirku dalam hal lupa menjalankan tugas pelayananku ini. Tuhan memberkati! Moshi… moshi…***

Pastoran Johar Wurlirang, -3/12/2017, pukul 19.59 WIB.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/794607568244538?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.