Inspiration

Mengenang Masa Kecil Saat Belajar dalam Tembang Dolanan Anak-Anak

Tulisan ini merupakan catatan reflektifku – semoga inspiratif pula – atas obrolan kami di seputar hari guru. Bersama dengan dua seniman lukis Kabupaten Semarang, yakni Soetikno MA dan Basuki, kami mengobrol tentang hari guru. Dalam obrolan di sanggar seni milik Soetikno MA itu (Jumat malam, 24/11/2017), tiba-tiba kami ingat sebuah tembang dolanan di masa kecil, saat kami masih belajar. Tembang itu ternyata begitu universal, sebab meski masa kecil kami berada di daerah yang berbeda, ternyata kami pun mengenal lagu yang sama. Seperti apa tembang itu?

Syair lagunya dirumuskan dalam bahasa Jawa. Syair lagu itu selengkapnya berbunyi demikian. “Pitik walik jambul, sega golong mambu enthong, mangga sami kondhur, weteng kula sampun kothong. Enake e… sega liwet jangan terong. Teronge bunder-bunder, bocah sregep mesti pinter. Teronge ijo-ijo, bocah kesed mesti bodho.” Menurut Soetikno MA dan Basuki, lagu itu dibuat oleh seseorang yang bernama Ki Hadi Sukatno.

Basuki, pelukis dari Ungaran. Pemilik hak cipta

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi syair lagu tersebut bisa dituliskan sebagai berikut. Ada ayam disebut “pitik walik jambul”. Ada nasi “golong: yang masih masih beraroma “enthong”, alat untuk mengambil nasi ke dalam piring. Mari kita pulang, sebab perut kita sudah kosong. Namun enak sekali saat kita melihat nasi liwet dan sayur terong. Teronya bulat-bundar, anak yang rajin belajar menjadi pintar. Terongnya warna hijau, anak yang malas pasti bodoh.

Soetikno MA dan saya. Pemilik hak cipta

Bagi kami bertiga, lagu itu mengingatkan masa kecil kami. Di masa kecil, lagu itu dinyanyikan di saat-saat kami hendak mengakhiri masa pembelajaran kami bersama guru di sekolah. Saat pulang sudah tiba. Maka, kami menyanyikan lagu itu sambil saling mengingatkan agar kami, anak-anak tetap rajin belajar agar menjadi pintar. Anak-anak tidak boleh malas, sebab kemalasan akan menyebabkan kebodohan.

Dengan gembira, kami pun menyanyikan lagu itu. Bahkan, Basuki menyanyi sambil berkacak pinggang, dan meliuk-liuk senang. Kami tertawa bahagia. Tembang dolanan itu benar-benar menginspirasi kehidupan kami untuk selalu bahagia, meski kami tak lagi muda. Tembang itu juga bisa menginspirasi para guru zaman now, untuk bisa menyanyikannya kembali bersama anak-anak di kelas, pada jam pelajaran terakhir, menjelang jam pelajaran usai.

Sambil menyanyikan lagu itu, anak-anak pun bisa terinspirasi untuk tetap rajin belajar agar menjadi anak yang pintar. Lagu itu juga mengingatkan, agar anak-anak (dan kirannya juga mengingatkan para guru) agar tidak terjebak dalam kemalasan, sehingga menjadi anak yang bodoh, atau menjadi guru yang ketinggalan zaman.

Begitulah kami mengenang masa kecil kami, menyambut hari guru pada hari ini (Sabtu, 25/11/2017) dalam tembang dolanan itu. Tiada terasa, hari sudah malam, maka saya pun berpamitan pulang. Sepanjang jalan, dari sanggar seni milik Soetikno MA, saya bernyanyi sendiri sampai pastoran Ungaran. Kunyanyikan sendiri tembang itu… “Pitik walik jambul, sega golong mambu enthong. Mangga sami kondur, weteng kula sampun konthong.¬†Enake e… sega liwet jangan terong. Teronge bunder-bunder, bocah sregep mesti pinter. Teronge ijo-ijo, bocah kesed mesti bodho.” Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi kita semua untuk selalu menjadi pintar di tengah tantangan zaman¬†now, dan jangan biarkan diri kita menjadi malas dan bodoh!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2605199005652794?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.