Inspiration

Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (1)

Kadang kita mengalami saat-saat hidup sendiri, tiada orang lain di dekat kita secara fisik, lahir maupun batin. Saat-saat seperti itu, bagi orang tertentu bisa membuat hidupnya menjadi sulit dan sepi. Maka, muncullah pengalaman kesepian! Padahal, ada ungkapan, alone but not lonely! Mungkin, secara fisik, lahiriah, kita sendiri, melainkan kita tidaklah merasa sendirian. Dan karenanya, juga tidak merasa kesepian. Justru saat-saat sendiri bisa menjadi saat-saat untuk mengalami dan menikmati keheningan yang indah dan suci. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pemilik hak cipta

Tidak sedikit orang zaman now tidak tahan mengalami kesendirian, apalagi menikmati keheningan. Keheningan yang mestinya merupakan kesempatan untuk mengalami kehadiran dan kebersamaan dengan Tuhan Yang Maha Esa yang sekaligus Maha Kasih, justru mendatangkan ketercekaman, bahkan kesepian.

Kehidupan zaman now yang ditandai oleh kemajuan teknologi dan sistem informasi pun bisa membuat orang terperangkap dan terjerat oleh ketercekaman pada saat hidup sendiri. Padahal mestinya, keberadaannya yang sendiri itu bisa terkoneksi dengan pihak lain melalui sarana-prasarana teknologi dan sistem informasi yang serba cepat dan canggih.

Di sinilah, saya ingin berbagi pengalaman, betapa meskipun saya sendiri, melainkan tidak pernah merasa sendirian. Sejak tanggal 28 November 2017 malam, saya mengalaminya dengan jelas. Sesudah menempuh perjalanan jasmani dan rohani sebagai sebuah peregrinasi dari pastoran Girlan (pinggir jalan) Ungaran menuju pastoran “Johar Wurlirang” (Johannes Maria nDhuwur Kaligarang), malam itu tiba-tiba saya berada dalam keadaan sungguh-sungguh sendiri. Umat dan para sahabat yang mengantarku sudah kembali ke rumah masing-masing. Tak ada lagi deru drumband, nyanyian, musik etnik Dayak, rebana (baik dari teman-teman SMK Kanisius Ungaran maupun dari PMII Gus Dur UIN Walisongo), tak pula ada alunan seruling, apalagi saksofon.

Pemilik hak cipta

Disertai rintik hujan dan suara air dari Sungai Kaligarang di bawah sana, yang lekukan sungainya, dan kilap warna coklatnya tampak dari pastoran baruku, kukunci pintu-pintu pastoran. Tak ada orang lain kecuali saya dan Tuhan yang kurasakan kehadiran-Nya menyertai diriku yang rapuh, lemah, dan berdosa ini. Semua lampu yang tak diperlukan kumatikan. Lalu saya rebah di atas kasus yang masih berplastik dengan alas tikar yang kubentangkan, yakni tikar yang dibawa oleh Paseduluran Umat Peduli Imam Projo (PUPIP) Ungaran dalam rangka “slup-slupan” rumah baru itu. Syukur kepada Allah, selalu dan biasa, di mana pun, asal badanku sudah rebah, maka aku pun langsung blek-seg alias tidur pulas.

Pagi-pagi benar seiring matahari terbit, kicau burung di samping kamar tidurku gemeracap ditingkah jeritan kera-kera yang bercanda menyambut fajar dan hari baru. Kubuka gorden dan jendela, angin pun berebut masuk tanpa kupersilahkan. Bau harum tanah basah yang berpadu dengan aroma dedaunan entah pohon besar apa aku tak tahu namanya yang berdiri kokoh di samping kamarku agak jauh di bawah itu (yang biasa dipergunakan tempat kera-kera bercengkerama) menyeruak menembus hidungku.

Lalu kunikmati fajar baru dan pagi yang indah meski sendiri, namun daku tak sendirian. Minimal, ada banyak kera dan burung-burung, serta pepohonan yang tumbuh subur di sekitar pastoranku. Itu sudah membawa berkah sehingga meski sendiri, toh daku tak merasa sendirian. Di saat bangun itulah, baru kurasakan sedikit rasa nyeri dan ngilu pegel linu di beberapa sendi tubuhku. Namun, dengan peregangan sejenak, semua itu seakan sirna, apalagi sesudah terguyur oleh air panas yang mancur dari shower di kamar mandi. Keadaan menjadi pulih dan segar.

Doa pagi dan ofisi harian pun membuatku tak sendirian, meski kudaraskan sendiri. Mengapa? Sebab doa-doa yang tersedia bukanlah doa pribadiku, melainkan bersama seluruh warga Gereja seluas dunia sepanjang masa. Maka, juga atas nama segenap umat dan masyarakat, doa-doa itu kudaraskan, sehingga meski kudaraskan sendiri, toh aku pun tak merasa sendirian, sebab secara rohani aku berdoa atas nama dan bersama umat dan masyarakat.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr

Sesudah itu, aku bersiap berangkat menuju Kampus Ungu untuk menjalankan aktivitasku seperti biasa, di hari Rabu. Sempat meraih gelas dan menuang sebungkus sereal, namun ternyata air yang kualirkan dari dispenser bukanlah air panas, meski kabel sudah tertancap di jalur listrik, namun dispenser belum dalam posisi “on'”. Dibuang sayang, dan itu akan menjadi suatu penghinaan bagi mereka yang berkekurangan bila kita membuang makanan atau minuman sembarangan; maka kuaduk dan kuaduk lalu kuminum serasa meneguk sereal dingin, buat pengganjal perut!

Setiba di kampus, kusapa Mas Dadut yang sudah duduk di ruangan sekretariat rektorat dan universitas. Kami bersalaman. Lalu, pagi itu, saya membuat segelas kopi dengan air panas yang sudah tersedia. Dan segelas kopi panas itu kubawa menuju ruanganku – Ruang Pastor Kepala Campus Ministry – yang berada di lantai IV Gedung Mikael. Kutancapkan kabel-kabel saklar, kunyalakan komputer dan mulailah daku mempersiapkan hal-hal yang harus kupersiapkan terkait dengan tugas pelayananku.

Pada pukul 10.00 WIB, Mbak Ratih mengetuk pintu ruanganku, mengajak rapat. Kutuntaskan terlebih dahulu hal yang kukerjakan, tetapi lalu Mas Pandit menjemputku, dan kami melangkah turun bersama menuju Ruang Merah Rektorat untuk mengadakan persiapan adven dan berkoordinasi dengan para koordinator gedung dalam urusan reksa pastoral kampus Unika Soegijapranata. Puncak dari pertemuan itu adalah doa pemberkatan korona adven yang sudah dipersiapkan oleh para koordinator gedung sebagai penanda persiapan menuju masa adven menjelang natal 2017.

Pemilik hak cipta

Acara selesai, saya kembali ke ruanganku lagi untuk melanjutkan hal-hal yang harus kukerjakan dan kuselesaikan. Itu terjadi hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Saya turun untuk menikmati santap siang di ruang rektorat universitas. Di sana masih ada Bu Tina – Wakil Rektor III yang sudah lebih dahulu menikmati santap siangnya. Namun beliau masih bersedia menunggu dan menemaniku untuk santap siangku. Bahkan, tak lama sesudah itu, Prof Ridwan, Rektor kami, turut bergabung sekadar menemani, meski beliau tidak makan siang. Di situlah, aku merasa tidak sendiri, apalagi sendirian, oleh sebab banyak kawan dan rekan yang turut hadir meneguhkan kebersamaan. Mereka bertanya tentang perjalanan peregrinasi yang kulakukan sore hingga malam sebelumnya, semua kurasakan dan kutangkap dalam cara pandang yang positif dan apresiatif.

Itulah secuil kisah pengalaman dari malam pertama saya tinggal di pastoran baru, meski sendiri, namun toh tidak merasa sendirian. Ternyata yang kutuliskan ini sudah terlalu panjang, maka ijinkan kuakhiri dulu pada seri bagian ini. Biarlah tulisan ini menjadi seri pertama dari artikel yang akan kulanjutkan nanti pada seri-seri berikutnya, terkait dengan tema meski sendiri, tidaklah sendirian. (bersambung).***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2353932154815154?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.