Inspiration

Pancaran Keindahan, Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (2)

Pada malam pertama di pastoran baru “Johar Wurlirang”, saya masih mengalami kehadiran banyak rekan, umat dan sahabat yang mengantarku dalam perjalanan peregrinasi dari pastoran Girlan Ungaran ke pastoran Johar Wurlirang, meski kehadiran itu hanya sampai pada pukul 22.00 WIB (lihat seri di http://tz.ucweb.com/12_25yr4 sebelum ini.) Lalu bagaimana dengan malam yang kedua? Apa yang terjadi? Inilah catatan reflektifku.

Pemilik hak cipta

Malam kedua di tempat baruku (Rabu, 29/11/2017) dipenuhi taburan pernak-pernik keindahan di saat sendiri namun tidaklah sendirian. Pada malam kedua, sejak pulang dari kampus di sore hari, saya memang sudah langsung sendiri lagi. Tidak ada perjumpaan dengan umat atau sahabat lama yang hadir. Kendati demikian, dalam keadaan sendiri itu, terpancarlah pernak-pernik keindahan.

Keindahan pertama kulihat dalam diri beberapa anggota panitia peresmian pastoran baru ini; sebab sore menjelang malam kedua berada di pastoran baru ini, hadir beberapa anggota panitia yang mempersiapkan beberapa hal terkait dengan peresmian dan pemberkatan pastoran baru ini yang akan dilaksanakan esok harinya (Kamis, 30/11/2017). Maka, sepulang dari kampus, saya menyapa mereka sebentar. Tanpa mengurangi rasa hormat pada keindahan itu, saya pun masuk kamar, untuk beristirahat sejenak. (Sambil tiduran, agak ngantuk-ngantuk, saya menuliskan sesuatu dengan perangkat androidku.)

Keindahan kedua terpancar di saat saya “harus” menikmati makan malam. Itulah makan malam perdanaku di tempat baru bersama dengan para sahabat baruku, yakni para Suster yang melayani di Dormitori Unika Soegijapranata. Saat makan malam tiba, para suster dari Dormitori Unika memanggil-manggil saya melalui ponsel. Mereka mengingatkan bahwa saya “harus” makan malam. Sebetulnya, soal makan dan minum tidaklah terlalu penting bagiku. Namun, demi menghargai tawaran dan desakan para suster, bahkan ada utusan seorang suster yang menjemputku ke pastoran untuk makan malam di susteran; maka saya pun berangkat juga berjalan kaki menuju susteran. Perjalanan sekitar seratusan meter dari kamarku menuju ke ruang makan susteran. Untung hujan tidak turun. Kalau pun hujan turun, toh ada payung.

Saat itu, sejenak, saya menyapa beberapa rekan OMK Campus Ministry yang masih berlatih koor di garasi pastoran. Saya pun melangkah menuju ruang makan susteran. Beberapa suster memasak sayur membuat sup khusus buat saya. Semangkuk dibuat, semangkuk dihidangkan padaku, dan harus kuhabiskan sendiri. Dan itu sudah membuat perutku menjadi sangat kenyang.

Para suster mendesakku agar saya makan nasi. (Ah, jadi kayak anak kecil saja, makan nasi pun harus dipaksa. Namun begitulah kurasakan kebaikan dan keindahan mereka.) Maka untuk melegakan mereka yang sudah sangat berbaik hati kepadaku, kuambil saja nasi dan kucampurkan langsung ke dalam bekas kuah sup plus sesendok sambal…. jadilah nasi kuah pedas dan sedap! Dan itu membuat perutku semakin membengkak, apa boleh buat! Belum lagi, secangkir kopi yang mereka hidangkan, harus kusyukuri sebagai buah-buah rahmat iman bahwa meski sendiri, sungguh, kita tidak pernah akan sendirian. Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kasih selalu hadir menyertai kita dalam situasi apa pun, melalui siapa pun yang ada di sekitar kita. Tinggallah dan tergantung apakah mata batin kita mampu melihat dan menangkap kehadiran-Nya atau tidak.

Pemilik hak cipta

Makan malam di susteran selesai. Saya segera kembali ke pastoran. Di sinilah kujumpai dan kualami keindahan lain dalam sendiri, namun tidaklah sendirian. Beberapa rekan OMK dan Pengurus Campus Ministry masih berada di garasi sambil menyanyikan beberapa lagu, walau sebenarnya latihan koor untuk persiapan peresmian dan pemberkatan pastoran sudah selesai. Lagi, saya menyapa mereka sejenak. Biasa, kugoda Aldo yang menyatakan diri sebagai my public enemy oleh sebab kami sering saling mengejek bukan dalam rasa benci tetapi dalam rasa persahabatan. Dia juga yang sering membuatkanku secangkir kopi di ruang Campus Ministry. Semangat mereka untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam pelayanan karena harus bertugas koor dalam rangka peresmian dan pemberkatan pastoran baru itu merupakan keindahan bagiku, yang kulihat dan kunikmati malam itu, di tempat baru.

Maka, suasana makan malam untuk pertama kalinya bersama para suster, dan perjumpaan-perjumpaan dengan panitia peresmian pastoran serta rekan-rekan OMK dan Pengurus Campus Ministry di malam kedua itu kusebut sebagai keindahan di saat sendiri, meski tidaklah sendirian. Keindahan dalam kebaikan. Keindahan dalam kebersamaan. Keindahan dalam saling menyapa dan meneguhkan.

Sesudah itu, saya masuk ke dalam kamar, di lantai paling atas. Lantainya hanya dua sih, tetapi bila dihitung dari garasi lalu menjadi tiga lantai, sebab dari garasi ke lantai 1 harus melewati dua tikungan kelompok anak tangga, dan dari situ menuju ke kamar saya, masih harus melewati dua tikungan/tahapan kelompok anak tangga lagi. Urutan bangunan pastoran itu adalah ada garasi di lantai 1; di atas garasi teras, ada ruang rapat, kantor, kapel, ruang makan dan ruang tamu di lantai 2, dan ada kamar-kamar kami (enam kamar) dan ruang teve di lantai 3. Itulah sebabnya, kuhitung dari kamarku menuju ke ruang makan susteran di Dormintori Unika kira-kira ya seratusan meter jaraknya.

Setiap kali berada di kamar, di situlah saya mengalami keindahan berada sendiri namun tidak sendirian. Inilah keindahan yang paling utama yang kurasakan di tempatku yang baru pada hari-hari ini, sejak malam pertama, kedua dan malam-malam selanjutnya. Setiap kali masuk kamar, lalu mata memandang ke luar melalui kaca jendela, jiwaku langsung masuk ke dalam keheningan semesta. Kubiarkan gorden-gorden itu terbuka agar mataku bisa menatap dedaunan yang hijau, bukit-bukit di seberang yang juga menghadirkan kehijauan, kadang-kadang tampak kabut-kabut tipis yang mencumbu mesra pucuk-pucuk pepohonan dan dedaunan. Saat malam mulai tiba, dan kegelapan jatuh merengkuh semesta, dari kejauhan tampak kerlap-kerlip lampu gemerlap di antara pucuk-pucuk bambu di samping kamarku. Sengaja, meja kerja kutata menghadap ke sana sehingga sekali pandang, semua tampak terbentang.

Daun-daun pisang yang masih aman belum dirusak kawanan kera melambai-lambai seakan hendak berucap, selamat tinggal sore, selamat datang malam. Kegelapan tak harus membuat diri kita tercekam ketakutan, sebab justru akan segera bersinarlah terang dalam berbagai warna. Dan di kedalaman jiwaku di lubuk keheningan di sana

kupandang Sang Terang yang cahayanya tak terkalahkan oleh segala warna-warni cahaya yang berbendar di antara dan bersamanya.

Sebaliknya, di pagi hari, lambaian dedaunan itu selalu mengajakku untuk bersyukur menyambut fajar dan hari baru. Desir angin, daun-daun rumpun bambu bergesekan, lembut. Mereka seakan mengidungkan nyanyian pagi bersama sesekali terdengar kicauan burung. Keindahan demi keindahan kualami. Desir angin, gesekan daun-daun bambu, lambaian daun-daun pohon pisang, memancarkan keindahan demi keindahan.

Meski sendiri, tidaklah sendirian, kunikmati saja hamparan keindahan, juga di malam-malam yang sebetulnya terasa mencekam, namun tak membuatku tenggelam dalam ketakutan-ketakutan yang suram dan apalagi seram. Itulah yang membuatku bisa menikmati keindahan malam dan membuat hati ini terasa tentram. (bersambung)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1832923415827331?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.