Inspiration

Tetap Semangat dalam Melayani, Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (5)

Perubahan tempat tinggal, warna tugas baru meski juga dengan tetap mengemban tugas yang lama, membuat kita harus beradaptasi. Dalam situasi seperti itu, kita harus tetap bersemangat dalam melayani dan mengemban tugas perutusan kita, di mana pun, kapan saja. Itulah yang kualami dan kurenungkan saat memasuki hari kelima berada di Pastoran Johannes Maria nDhuwur Sungai Kaligarang (Johar Wurlirang) (Sabtu, 02/12/2017). Bagaimana konkretnya?

Hari Sabtu pagi itu, saya bangun dengan segar dan semangat baru dalam kegembiraan bersama semesta alam. Bersama burung-burung yang berkicau, kudaraskan kidung pagi memuliakan Tuhan Yang Maha Esa. Tuhanku betapa mulia, namaMu di seluruh bumi, Keagungan-Mu ditinggikan, melambung tinggi mengatasi langit. Jika kupandang langit-Mu, karya agung tangan-Mu, bulan dan bintang dan matahari yang Kauciptakan, semarak dan mengagumkan. Betapa mulia nama-Mu Tuhan.

Dengan iringan senandung doa itu, kumelangkah menuju kapel di Dormitori Unika Soegijapranata untuk merayakan Ekaristi pagi bersama para suster. Intensi utama adalah doa bagi rekan-rekan seimamat sebagai dipesankan di Fatima, bahwa hari Sabtu sesudah Jumat Pertama kita diajak berdoa untuk para imam agar tetap semangat dalam melayani kepada umat dan masyarakat.

Sesudah sarapan pagi, saya menyapa sejumlah kera di dekat pastoran dan membawakan mereka makanan. Potongan-potongan buah pir, kulit apel dan apa saja yang saya hidangkan mereka lahap dengan gembira sambil saling bercengkerama. Mereka berlari, melompat, menggelantung pada kabel listrik, naik turun pada tiang listrik yang aman dari bahaya kecelakaan ditabrak seseorang, dan melompat kegirangan. Tentang hal ini silahkan membaca selengkapnya pada link http://tz.ucweb.com/12_22Z5R ini. Di situ, saya mengalami penghiburan tersendiri boleh menyapa mereka, sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Hal kecil itu memberiku semangat dalam pelayanan, meski sendiri, namun tidaklah sendirian. Minimal ada mereka yang bisa diajak berbicara, meski mereka tak bisa menjawabku dengan kata-kata manusiawi. Namun gerak-gerik dan reaksi mereka sudah menjadi sebentuk jawaban yang menggembirakan dan menambah semangat dalam pelayanan.

Sesudah itu, bersama dua rekanku dari Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, kami bersih-bersih dan menata kamar dan ruangan yang perlu ditata. Buku-buku yang menjadi harta kekayaanku itu kami tata pada tempatnya agar mudah kujangkau pada saat daku membutuhkannya. Semua kami kerjakan dengan gembira dan dalam semangat saling melayani pula. Itu kami lakukan hingga makan siang.

Sesudah makan siang, saya beristirahat sejenak, untuk mempersiapkan diri melayani umat. Sabtu malam, saya terjadwal mendoakan calon mempelai yang mohon doa restu dalam ritual malam midodareni. Maka, saya pun mempersiapkan sebaik-baiknya tugas pelayanan itu. Itulah bagian dari pengalaman nyata, tetap semangat melayani, meski sendiri, tidaklah sendirian.

Sementara saya sedang mempersiapkan diri, tiba-tiba saya mendapatkan permohonan untuk memberikan pelayanan bagi orang sakit yang membutuhkan perminyakan suci. Menurut informasi dari Edita, yang meminta pelayanan tersebut buat tantenya, pelayanan masih bisa diberikan malam hari atau bahkan esok hari (Minggu, 03/12/2017). Namun kemudian kuputuskan untuk memberikan pelayanan itu malam hari sesudah acara doa midodareni. Mengenai hal ini serta pertimbangan-pertimbangan pastoral yang terkait dengannya sudah kutulis di UC We-Media dan diterbitkan pada link http://tz.ucweb.com/12_29FEY ini.

Berikut saya tuliskan detil pengalaman tersebut yang belum kuuraikan dalam link itu. Ketika, Pak Yayan, Bu Laksmi dan Maggie menjemputku untuk acara midodareni, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak bisa mengikuti acara midodareni hingga selesai, sebab ada umat yang minta perminyakan suci untuk anggota keluarganya. Saya sudah menyampaikan kepada yang bersangkutan, agar menjemputku di tempat acara midodareni diselenggarakan, sehingga dia juga tidak perlu repot menjemputku di pastoran “Johannes Maria Dhuwur Kaligarang”. Demikian juga, Pak Yayan dan keluarganya juga tidak perlu repot mengantarku ke pastoran yang sama, tempat mereka menjemputku dalam rangka doa midodareni tersebut. Ini merupakan sebuah win-win solution dalam rangka pelayanan,

Acara doa dalam rangka malam midodareni pun berjalan lancar. Keluarga dan calon mempelai terlayani dengan baik. Bahkan, sementara menunggu Edita yang akan menjemputku di tempat midodareni diselenggarakan, aku masih bisa menikmati santap malam. Saya pun berpamitan, meski acara belum selesai. Keluarga mempelai pun maklum. Sebagai orang Katolik, mereka sangat memahami keadaan tersebut bahwa doa untuk orang sakit, apalagi dengan perminyakan suci, harus diutamakan.

Maka, saya pun segera berangkat bersama Edita dan sopirnya menuju ke panti jompo tempat tantenya dirawat. Ternyata, jarakanya lumayan jauh juga. Bayangkan, perjalanan dari kawasan Jl. Pemuda Semarang menuju daerah Manyaran, tempat panti jompo itu berada.

Berhubung saya baru saja mengalami perpindahan rumah, saya tidak bisa menemukan tempat minyak suci yang biasa saya pergunakan. Dalam keadaan itu, saya memutuskan untuk mampir ke Gereja Katedral Semarang terlebih dahulu dengan maksud meminta minyak suci di situ. Saya mengetuk dan menyela Romo Luhur yang sedang menerima tamu, meminta minyak suci. Dengan bantuan Sonya (sekretaris pastoran) dan Bondan (misdinar) saya memperoleh minyak suci yang dimaksudkan. Kutuang minyak suci di atas selembar kapas putih untuk kepentingan sekali perminyakan suci, sehingga baik saya maupun Edita tidak perlu lagi kembali ke Katedral mengembalikan perlengkapan minyak suci.

Dari Katedral Semarang, kami langsung meluncur menuju panti jompo di Manyaran, tempat tantenya Edita dirawat. Ternyata, Ibu Regina, tante dari Edita, sudah menunggu di ruang tamu. Dia duduk tegap, menatap dan menyambut kehadiranku dengan ramah. “Selamat malam romo!” katanya dengan suara tegas. Kami saling bersalaman. Suaranya masih jelas dan sangat tegas. Tatapan matanya sangat tajam namun disertai senyum di bibirnya. Kami bersalaman. Sebelum perminyakan suci, kami berbicara empat mata di situ. Beliau menerima sakramen rekonsiliasi tobat pengampunan.

Luar biasa Ibu Regina. Dia bilang, “Orang tidak percaya bahwa usia saya sudah 100 tahun lebih. 105 tahun!” Sementara kata Edita, usianya baru sekitar 96 tahunan. Mana yang benar, bagi saya tidak penting. Bahwa ibu itu masih mengingat segala sesuatunya dengan baik dan jelas, kecuali dalam hal usia yang berbeda antara penuturannya dan penuturan keponakannya, itu tak terlalu penting bagiku.

Yang penting, saya bisa datang melayani Ibu Regina yang membutuhkan pertolongan dan pelayanan sakramen-sakramen rekonsilasi dan perminyakan suci. Itu saja! Toh, beliau dengan jelas mengatakan semua aktivitasnya dan itu benar. Empat puluh tahun hidupnya dihabiskan dalam pelayanan sebagai direktris sebuah rumah sakit. Bahkan beliau termasuk yang turut merintis keberadaan rumah sakit tersebut sejak masa mudanya hingga masa pensiunnya. Dia juga bilang, sebelum sakit, dan sakit itu terjadi gara-gara dia kepleset di kamar mandi, setiap pagi beliau selalu “wondling” tak hanya jalan kaki tetapi setengah berlari. Itulah sebabnya, beliau tampak begitu sehat dan kuat!

“Dulu saya memakai kacamata, sekarang tidak, dan saya masih bisa membaca dengan jelas tanpa kacamata!” jelasnya. “Terima kasih Romo berkenan datang melayani saya. Ini pasti kehendak Tuhan! Ini sudah diatur oleh Tuhan! Saya merasa lebih baik sekarang. Hanya gara-gara terpleset di kamar mandi, saya menjadi seperti ini.”

Perjumpaanku dengan Ibu Regina, yang tetap semangat dalam menjalani kehidupannya, bahkan sebelum juga bersemangat menjalankan tugas sebagai direktris perawat suatu rumah sakit, memberikan inspirasi untuk tetap semangat pula dalam melayani, meski sendiri, namun tidaklah sendirian. Luar biasa semangatnya, dan semangat pelayanannya yang secara tidak langsung dia hayati di hari-hari tuanya. Dia memilih sendiri untuk tinggal di panti jompo dengan maksud agar tidak merepotkan keluarganya! Bagiku, ini pun merupakan sebentuk teladan semangat melayani, meski sendiri, namun tidaklah sendirian. Istimewa sekali pengalaman beliau itu dan itu memberiku pula isnpirasi dan dorongan tetap melayani dengan penuh semangat!

Demikianlah, kita pun dipanggil untuk selalu tetap bersemangat dalam melayani meski kadang kita sendiri, namun, kita tidaklah sendirian. Ada begitu banyak orang baik dan pribadi-pribadi yang istimewa yang akan selalu memberi kita kekuatan dan dukungan agar kita tetap semangat dalam melayani, meski kita sendiri, namun yakinlah, bahwa kita tidak sendirian. (bersambung).

Gambar sampul: Keluarga Yayan, Laksmi dan Maggie yang menjemputku dalam rangka midodareni. Sumber foto: Dok Pribadi. Pemilik hak cipta.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/957891745123961?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.