Inspiration

Waspada, Bekerja, Berdoa dan Berbagi Kasih

Hari-hari ini kita diingatkan untuk bersikap waspada terhadap tanda-tanda alam yang menimpa kehidupan masyarakat kita. Ada siklus tropis Cempaka. Ada siklus tropis Dahlia. Namanya bagus-bagus, namun dampaknya bisa membuat hidup kita tertimpa bencana. Bencana itu tampak dalam berbagai wajah. Ada angin kencang yang membuat rumah dan pepohonan roboh. Ada banjir. Ada tanah longsor.

Dalam keadaan itu, kita pun tidak (boleh) terjebak dalam sikap berpangku tangan, melainkan tetap bekerja. Secara rohani, tak sedikit yang berdoa agar cuaca ekstrem ini tidak mendatangkan banyak korban. Secara karitatif, situasi buruk akibat bencana yang terjadi, menumbuhkan semangat untuk berbagi kasih di antara kita.

Sikap waspada, namun tetap aktif bekerja dan berkarya, dilandasi dan disertai dengan doa dan berbagi kasih menjadi perpaduan indah kehidupan warga masyarakat kita di saat menghadapi bencana. DI sinilah kulihat kebenaran betapa mendalam penghayatan religiositas masyarakat kita, yang tanpa pandang bulu atau pun bersikap diskriminatif, apa pun agamanya, bergandengan tangan saling membantu siapa saja yang menjadi korban bencana alam.

Berbagai bentuk bantuan mengalir dengan cepat dan sigap. Ada yang berupa dana finansial. Ada yang berupa materi dan logistik. Bermacam-macam bentuk bantuan mengalir kepada para korban dalam waktu cepat dan singkat di tengah keadaan serba darurat.

Para romo, ulama, banser, dan masyarakat warga bergerak dan bergerak dalam kewaspadaan yang disertai tindakan memberikan pertolongan. Bantuan diberikan dalam semangat berbagi kasih dan belarasa bagi yang menderita. Bahkan orang-orang muda pun turut tergerak dalam berbagi kasih dan menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan. Syukur kepada Allah.

Sangat menarik, dan menurutku hal itu tepat benar, yang dikatakan oleh Romo Banu Kurnianto. Direktur KARINA KWI itu mengatakan dalam salah satu pesannya, “Kebencanaan ini semoga tetap menjadi kabar gembira karena dari peristiwa ini, hadir wajah-wajah asing namun bersaudara. Pengalaman perjumpaan yang membuka semangat sejati manusia, (yakni) belarasa.”

Menurut hematku, kewaspadaan terus-menerus mesti diimplementasikan dalam sikap menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Tidak gampang menebang pohon, menjaga hutan, tidak membuang sampah sembarangan, merupakan bentuk-bentuk nyata kewaspadaan ekologis yang selalu dapat kita lakukan setiap saat.

Semoga kita selalu tetap waspada, berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, yang menjadi landasan bagi karya karitatif dan berbagi kasih kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan kita. Semoga para korban bencana tetap diberi kekuatan, ketabahan dan kesehatan. Yang terluka segera beroleh kesembuhan. Yang meninggal dunia disambut dalam kebahagiaan kekal di surga. Keluarga dan sanak kerabat tetap diberi kekuatan dan penghiburan untuk menatap masa depan dengan penuh pengharapan. Amin.

Pastoran Johanes Maria Ndhuwur Kaligarang (Pastorn “Johar Wurlirang”), 02/12/2017.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1241195237717183?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.