Inspiration

Kepekaan Ekologis, Kepekaan Sosial

Keprihatinan mendasar kehidupan zaman now adalah bahwa orang membuat keputusan-keputusan yang dangkal terkait dengan masalah keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup! Entah itu secara personal maupun institusional, keputusan diambil secara dangkal tanpa pemikiran dan refleksi yang mendalam, bahkan melulu karena alasan-alasan yang pragmatis-ekonomis dan bisnis. Alasannya sangat personal berbasis kepentingan sesaat, tanpa dilandasi oleh prinsip spiritual dan moral! Mengapa dan kita harus bagaimana?

Referensi pihak ketiga

Keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan publik terkait dengan alam ciptaan dan lingkungan hidup akan semakin parah dan berbahaya apabila sekadar dilandasi alasan pragmatis dan kepentingan sesaat berbasis ekonomi dan bisnis. Secara personal, setiap pribadi yang mestinya dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kerajaan damai, yakni merajanya damai sejahtera sebagai wujud hadirnya Kerajaan Allah, justru tenggelam dan terseret arus kepentingan kekuasaan yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan sesaat.

Makin buruk, bila kekuasaan itu korup dan tak peduli kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD). Bahkan untuk sekadar duduk bersama berkomunikasi dan berdialog dengan hati jernih, kepala dingin, jiwa bening pun tidak mau. Di sana, kita gagal mendayagunakan bakat dan talenta serta keahlian kita untuk mengabdi kepada martabat kemanusiaan!

Di tengah isu pemanasan global dan kehancuran ekologis yang melanda planet bumi ini, kita dituntut untuk memiliki kepekaan ekologis sebagai bentuk kepekaan sosial kita terhadap alam semesta dan sesama manusia. Dalam hal ini, saya tidak akan pernah bosan mengutip seruan Paus Fransiskus yang digemakan dalam Ensiklik Laudato Si’sebab itulah visi dan landasan kuat dari sisi apa pun (teologis, sosiologis, antropologis dan ekologis).

Paus Fransiskus menulis, “Saudari (Bumi – pen) ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita. Ia “mengeluh dalam rasa sakit bersalin” (Roma 8:22). Kita lupa bahwa kita sendiri dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2:7); tubuh kita tersusun dari partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya.” (LS 2)

Seruan Paus Fransiskus tersebut tak hanya dimaksudkan untuk menyadarkan jatidiri kita manusia yang harus bersahabat dengan alam semesta dan seisinya, melainkan juga mendobrak nurani kita untuk membangun kepekaan ekologis dan kepekaan sosial di tengah rintihan Bumi yang dieksploitasi oleh penguasa yang berkelindan dengan pengusaha demi mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat dan alam.

Seiring dengan itu, Paus Fransiskus mengajak kita memiliki kepeduliaan untuk membela kaum KLMTD yang selalu menjadi obyek ketamakan dan keserakahan. Celakanya, tak sedikit di antara kita justru takut menyuarakan kebenaran itu, bahkan sok saleh bersikap hati-hati, dengan dalih jangan sampai upaya membela alam dan khususnya para petani dipolitisir oleh pihak tertentu. Ungkapan itu bagi saya tak lebih dari – maaf seribu maaf – flatus yang keluar tanpa suara, namun menimbulkan aroma tak sedap yang membuat orang-orang di sekitarnya saling memandang dengan penuh rasa curiga, “Jangan-jangan kamu yang kentut ya! Bau amat! Hih, makan apa sih lo…?”

Semoga kutipan yang kupinjam dari seruan ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus itu kian menyadarkan kita untuk membangun kepekaan ekologis dan kepekaan sosial dalam diri kita. Jangan takut untuk memilih kebenaran dan keadilan mengembangkan kepekaan ekologis dan kepekaan sosial, sebab yang kita lakukan itu sesuai dengan common sense akal sehat kemanusiaan dan kewarasan pikiran dan jiwa kita.***

Sumber gambar sampul dan ilustrasi: edizpiemme.it

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3044325304881666?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.