Inspiration

Memahami BahwaIklim Adalah Kesejahteraan Umum

Membaca Ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus. kita menemukan hal yang menarik. Paus asal Argentina itu menyebut iklim sebagai salah satu sisi kesejahteraan umum (bonum commune). Mengapa dan bagaimana penalarannya?

Referensi pihak ketiga. vatican.va

Menurut Paus Fransiskus, iklim adalah milik semua dan untuk semua orang dan seluruh alam ciptaan. “Pada tingkat global, iklim merupakan suatu sistem yang kompleks, terkait dengan banyak syarat mutlak untuk kehidupan manusia.”

Paus Jesuit itu menulis, “Sebuah konsensus ilmiah yang sangat kuat menunjukkan bahwa kita saat ini sedang menyaksikan suatu pemanasan yang mencemaskan dalam sistem iklim. Dalam beberapa dekade terakhir pemanasan ini disertai dengan kenaikan konstan permukaan laut. Sulit untuk tidak menghubungkannya juga dengan bertambahnya kejadian cuaca ekstrem, terlepas dari fakta bahwa tidak dapat ditetapkan secara ilmiah penyebab masing-masing fenomena tersendiri.” (LS 23).

Dalam keadaan itu, apa yang harus kita buat? Masih dalam LS 23, Paus Fransiskus menjawab bahwa kita umat manusia dipanggil untuk mengakui perlunya perubahan dalam gaya hidup, produksi dan konsumsi, untuk memerangi pemanasan global ini atau setidaknya penyebab manusia yang menghasilkan atau memperburuknya. Memang benar bahwa ada faktor lain (seperti aktivitas gunung berapi, perubahan orbit bumi dan poros bumi, siklus matahari), namun sejumlah studi ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan global dalam beberapa dekade terakhir ini sebagian besar disebabkan oleh konsentrasi gas rumah kaca (karbon dioksida, metana, nitrogen oksida dan lain-lain) yang dikeluarkan terutama sebagai akibat aktivitas manusia. Terkonsentrasi di atmosfir, gas-gas ini mencegah panasnya sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi menghilang di angkasa.

Berdasarkan data ini, menurut pemikiran saya pribadi yang membaca ensiklik tersebut, aktivitas manusia pun turut berkontribusi bagi terjadinya pemanasan global. Dan karenanya, manusia harus menanggung risiko atas tindakannya sendiri terhadap alam semesta.

Dan dalam hal ini, sinyalemen Paus Fransiskus benar. “Masalahnya diperparah oleh model pembangunan yang didasarkan pada penggunaan intensif bahan bakar fosil, yang merupakan jantung sistem energi seluruh dunia. Faktor lain yang menentukan adalah banyaknya perubahan dalam penggunaan tanah, terutama deforestasi untuk keperluan pertanian.” (LS 23).

Catatan saya: sudah begitu, kita mengalami di dekat kita, lahan pertanian yang secara alamiah sudah dikerjakan para petani secara turun-temurun, justru akan diubah menjadi tapak-tapak pabrik semen, misalnya, seperti terjadi dalam kasus beberapa daerah di Jawa Tengah, khususnya di Pati.

Terkait dengan pemanasan bumi, Paus Fransiskus mengingatkan kita semua, bahwa pemanasan bumi memiliki efek pada siklus karbon. “Itu menciptakan lingkaran setan yang semakin memperburuk situasi, karena akan berdampak pada ketersediaan sumber daya penting seperti air minum, energi dan hasil pertanian di daerah yang lebih panas, dan akan menyebabkan kepunahan sebagian dari keanekaragaman hayati di bumi. Mencairnya es di kutub dan di pegunungan tinggi dapat menyebabkan pelepasan gas metana yang berbahaya, sedangkan pembusukan bahan organik yang tadi beku dapat meningkatkan emisi karbon dioksida.” (LS 24).

Lebih lanjut, Paus Fransiskus secara cermat menggambarkan situasi alam kita abad ini. Hilangnya hutan tropis memperparah keadaan kita. Padahal keberadaan hutan tropis amat penting dalam membantu untuk mengurangi perubahan iklim. Hancurnya hutan tropis menimbulkan polusi karbon dioksida yang akan meningkatkan pengasaman lautan dan membahayakan rantai makanan dalam air laut.

Maka, Paus Fransiskus mengingatkan, “Jika tren ini terus berlanjut, abad ini dapat menyaksikan perubahan iklim yang luar biasa dan perusakan ekosistem seperti yang belum pernah terjadi, dengan konsekuensi serius bagi kita semua. Kenaikan permukaan laut, misalnya, dapat menciptakan situasi yang sangat sulit, jika kita ingat bahwa seperempat penduduk dunia tinggal di wilayah pantai, dan bahwa kebanyakan kota besar kita terletak di daerah pesisir.”

Apa maknanya untuk kita saat ini? Membaca data dan fakta itu, saya pribadi makin diteguhkan dalam upaya membangun komitmen menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup, mulai dari hal-hal kecil yang bisa kulakukan. Gambaran yang diuraikan Paus Fransiskus membuat saya juga diteguhkan dalam mendukung dan terus mengkampanyekan pembelaan terhadap perjuangan para petani di Kawasan Gunung Kendeng yang dilakukan oleh Gunritno bersama para petani di kawasan pegunungan Kendeng.

Bagiku sendiri, yang disampaikan Paus Fransiskus membuat mata batin saya terbuka dan bisa melihat dengan jelas, persoalan yang ada di dekat kita. Maka, janganlah kita dibebani penyesalan masa depan, hanya karena kita tidak mau peduli terhadap perjuangan mereka! Yang akan menanggung akibatnya adalah anak-cucu Anda dan umat serta masyarakat kita. Ayo jangan diam! Bangkit dan bergeraklah berjuang menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup, mulai dari hal-hal kecil yang bisa Anda lakukan!***

Sumber gambar sampul dan ilustrasi: www.vatican.va

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2039901961386227?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.