Inspiration

Saling Memaafkan Ketika Salah Paham

Artikel ini sebetulya sudah saya tulis sejak beberapa waktu lalu, namun karena masalah teknis, rancangan artikel ini tidak bisa diterbitkan. Saya juga sudah menghubungi Tim UC We-media dan sudah mendapat jawaban berupa permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini karena sistem yang sedang bermasalah. Karena itu, saya coba tambahkan alinea pertama ini untuk artikel yang selengkapnya seperti tercantum berikut ini. Semoga bermanfaat.

Ada pengalaman menarik selama sekitar tiga bulan saya menjadi kontributor di UC We-media. Terjadi salah paham di antara kami, Tim UC We-media dan saya terkait dengan satu artikel yang diterbirkan di UC We-media. Namun kemudian saya mengklarifikasi, dan kami pun saling meminta maaf dan memaafkan atas kesalahpahaman dan ketidaknyamanan ini. Seperti apa persisnya?

Pemilik hak cipta

Begini, tanggal 1 September 2017 yang lalu, saya menerbitkan artikel pertama sebagai kontributor pemula di UC We- media. Saya menulis di UC We-media berkat dorongan Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC. Guru Besar di bidang sistem informasi tersebut mendesak dan mendorongku yang selama ini rajin dan hobi menulis dan menarasikan berbagai peristiwa kepada rekan-rekan jurnalis agar saya mau juga menulis untuk UC We-media.

Setelah mempertimbangkan hal itu beberapa waktu, saya pun mencobanya. Prof Ridwan membantuku dari sisi teknologi dan sistem informasi. Saya pun mulai menulis. Selama tiga bulan lebih menjadi kontributor UC We-Media untuk kategori inspirasi, peringkat sebagai kontributor naik dari pemula menjadi kontributor perak menuju emas. Selama itu, hingga Kamis (21/12/2017), tulisanku yang diterbitkan UC We-media sebanyak 240 artikel, dan 11 video. Pengikut, hingga artikel ini saya tulis baru sebanyak 109 saja sih; dan keseluruhan artikel dilihat oleh 77.966 viewers.

Berikut ini, titik awal terjadinya kesalahpamahan di antara kami dan kemudian kami saling memaafkan. Pada hari Sabtu, tanggal 16 Desember 2017, saya mengikuti upacara pengalungan “Pallium” oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Nuntius Mgr. Piero Pioppo kepada Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko di Gereja Katedral Semarang. Malamnya, sesudah mengikuti upacara tersebut, saya menarasikan peristiwa tersebut sebagai sebuah refleksi inspiratif untuk UC We-Media dengan judul “Domba-Domba Itu di Pundaknya” dan diterbitkan UC We-Media pada hari Minggu (17/12/2017) pukul 01.43.

Setelah itu, saya perhatikan ternyata, artikel ini menjadi artikel yang paling banyak dilihat dibandingkan semua artikel lain yang pernah saya tulis. Hal itu membuat saya sendiri penasaran. Saya pantau, hingga Minggu malam (17/12/2017) pukul 23.59 WiB, jumlah yang melihat artikel tersebut sebanyak 4.097. Tentu saja, secara manusiawi, hal itu membuat saya merasa senang. Secara rohani, saya mengalami semacam konsolasi (penghiburan) bahwa begitu banyak orang yang melihat (mungkin juga membaca) artikel tersebut.

Akan tetapi, pada hari Senin (18/12/2017) pagi, saat saya tiba di kantor Campus Ministry Unika Soegijapranata, lalu saya menyalakan komputer, saya melihat, ternyata artikel tersebut di-offlineoleh Tim UC We-Mediapada pukul 07.24 WIB . Ada dua alasan mengapa artikel tersebut di-offline. Pertama, mengandung unsur kesamaan lebih dari link yang lain. Kedua, hasil terjemahan secara menyeluruh dari link. Dengan kata lain, artikel tersebut dianggap mengandung unsur plagiasi dan dengan demikian pula, saya dianggap menjadi plagiat atas artikel tersebut.

Tentu saja, hal ini bagiku, menjadi seperti petir di siang bolong, meski hari itu masih pagi dan tidak hujan pula. Bagiku, plagiarisme merupakan suatu pelanggaran yang serius dari sisi mana pun dan apa pun! Saya pun menjadi sedih atas kesalahpahaman ini. Bagaimana mungkin, artikel orisinil yang saya buat dengan segala keikhlasanku, dinyatakan dalam kategori plagiasi. Namun, saya tetap mencoba bersikap tenang dan mencari tahu, mengapa kesalahpahaman ini bisa terjadi.

Pemilik hak cipta

Saya pun memberikan klarifikasi atas keadaan itu. Melalui ruang yang ada, saya memberikan jawaban klarifikasi sebagai berikut. Pertama-tama saya memohon maaf atas kesalahpamahan dan ketidaknyamanan yang terjadi. Saya bisa mengerti kesalahpahaman ini. Pasti sumbernya dari sini. Sebagai jurnalis yang sudah saya hayati selama puluhan tahun, saya biasa membuat press release atas berbagai peristiwa yang saya alami dan ikuti. Termasuk peristiwa penting pengalungan Pallium tersebut. Benar, sesudah saya menarasikan peristiwa tersebut melalui artikel UC We-media, dengan bahan yang sama dan narasi berbeda, saya lalu membuat press release seperti biasanya kepada rekan-rekan jurnalis yang saya kenal, sahabat-sahabat saya, terutama melalui milis jurnalis kami (“stola-duce”). Itulah sebabnya, berita yang serupa kemudian muncul di beberapa portal online rekan-rekan jurnalis yang saya kenal.

Inilah yang saya duga, mejadi alasan Tim UC We-media membuat kesimpulan bahwa artikel saya mengandung unsur kesamaan lebih dari link yang lain sehingga artikel tersebut dianggap hasil terjemahan secara menyeluruh dari link tersebut. Padahal kenyataannya, saya tidak menjadikan link tersebut sebagai sumber artikel saya; melainkan sebaliknya, link tersebut bersumber dari press release yang saya sampaikan kepada rekan-rekan jurnalis yang saya kenal, sahabat-sahabat saya.

Syukur kepada Allah, klarifikasi yang saya berikan dimengerti dan dipahami oleh Tim UC We-media. Tentu, dalam klarifikasi, saya pun memohon maaf kepada Tim UC We-media atas ketidaknyamanan itu. Dan sebaliknya, Tim UC We-media pun meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat kesalahpamahan tersebut. Pada akhirnya, artikel yang sempat di-offlinekarena alasan plagiarisme tersebut diterbitkan kembali oleh Tim UC We-media pada hari itu juga (Senin, 18/12/2017) pukul 16.20 WIB. Hingga artikel ini saya tulis pada hari Kamis (21/12/2017), artikel tersebut masih menjadi artikel yang paling banyak dilihat dibandingkan 240 artikel saya lainnya.

Inspirasi terpenting dari peristiwa ini bagiku adalah ini. Sikap rendah hati ikhlas saling meminta maaf dan menjelaskan duduk perkara yang terjadi, serta kerelaan untuk saling memaafkan merupakan hal yang mestinya menjadi sebentuk peradaban kasih bagi masyarakat kita. Dengan begitu, kita pun saling menghadirkan kesejahteraan batin dan mengalami hidup yang bermartabat dan semakin beriman, apa pun agama kita, dalam sikap saling menghargai dan menghormati!

Terima kasih kepada Tim UC We-media atas kerja sama yang baik selama ini. Mohon maaf untuk kesalahan dan keterbatasan saya. Tuhan memberkati.***

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3859183748614283?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.