Inspiration

Membangun dan Mengembangkan Politik Hati Nurani

UC We-media memberi sapaan dan saran kepada saya untuk lebih banyak menulis artikel dengan kategori politik. Sejak awal, saya sendiri mendaftarkan diri untuk menulis artikel dengan kategori inspirasi. Saya memang seorang pastor. Dengan tugas utama melayani secara rohani dan sakramental, maka, kami para pastor juga disebut rohaniwan. Reksa pastoral kami ada di wilayah kehidupan dan kesejahteraan spiritual. Lalu mengapa tulisan ini saya beri judul membangun dan mengembangkan politik hati nurani? Apakah lantaran itu, lalu pastor yang adalah seorang rohaniwan akan terlibat dalam urusan politk?

Referensi pihak ketiga

Tentu saja, dalam konteks urusan politik praktis, seorang pastor yang adalah seorang rohaniwan tidak boleh dan dilarang keras untuk terlibat dalam ranah politik praktis. Artinya, seorang pastor tidak boleh ikut serta dalam kepengurusan ormas dan orsospol (organisasi masa dan organisasi sosial yang bersifat politik praktis). Yang saya maksudkan dengan ormas dan orsospol adalah ormas dan orsospol yang orientasinya merebut kekuasaan. Pastor tidak boleh menjadi pengurus partai, tidak boleh menjadi caleg, cawalkot, cabup, cagum, apalagi capres maupun menjadi calon wakil untuk kepemimpinan politik kekuasaan tersebut.

Namun, secara moral dan etika, seorang pastor tidak bisa tinggal diam dalam ranah politik hati nurani. Dalam konteks ini, pikiran saya tertuju pada senior dan idola saya, yakni mendiang Romo YB Mangunwijaya Pr atau akrab disapa Romo Mangun. Sejak saya masih belajar di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, saya mengenal sosok pribadi Romo Mangun. Saya membaca karya-karyanya, novelnya, esainya, dan cerpennya.

Referensi pihak ketiga

Bagi saya, Romo Mangun adalah sosok pastor dan rohaniwan yang sangat gigih membangun dan mengembangkan politik hati nurani. Beliau bahkan memperjuangkannya dalam tataran praksis di akar rumput dengan membela kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD) untuk memberi contoh nyata pentingnya membangun dan mengembangkan politik hati nurani.

Apa itu politk hati nurani? Politik hati nurani, sejauh saya menangkap dari gagasan dan praksis Romo Mangun adalah politik yang tidak berorientasi pada kekuasaan, apalagi dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kursi kekuasaan. Politik hati nurani adalah politik yang dihayati dalam kejujuran untuk benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, bukan untuk kekuasaan.

Memasuki tahun politik 2018 dan masih akan berlanjut hingga tahun 2019, sangat relevan dan signifikan menggemakan kembali gagasan tentang politik hati nurani. Terutama kepada para calon bupati, wali kota, gubernur, dan presiden (dan pasangannya) yang akan terlibat dalam konstelasi pilkada 2018 dan pileg maupun pilpres 2019, saya serukan, kembalilah kepada hati nurani yang jernih dan bersih untuk tidak sekadar merebut dan meraih kekuasaan – apalagi dengan menghalalkan segala cara terutama melalui politik uang atau pun politik pemecah belah atas dasar apa pun dengan ujaran-ujaran kebencian!

Alih-alih merebut kekuasaan dengan cara seperti itu, kembangkan, kembangkanlah politik hati nurani dengan mengedepankan dan mengutamakan kejujuran, ketulusan, kesopanan, dan kesantunan untuk menyejahterakan rakyat! Kepada segenap sesama warga bangsa Indonesia, saya juga mengajak, ayo, kita pergunakan hati nurani kita untuk memilih calon-calon yang memang bersih, jujur, dan peduli kepada keutuhan bangsa.

Foto atas lukisan wajah Romo Mangun di Wisma Salam Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kadang-kadang kita dihadapkan pada dilema dalam memilih satu di antara dua calon. Dalam konteks politik hati nurani, dalam situasi demikian, saya akan bertanya kepada diri saya sendiri: Manakah pilih terbaik di antara yang kurang baik? Atau, manakan pilih terbaik di antara yang baik? Misalnya, kita merasakan dengan nurani kati, ada dua calon pemimpin yang akan kita pilih. Yang satu memiliki problem terkait dengan masalah lingkungan hidup dan indikasi koruptif. Sedangkan yang lain memiliki potensi problem terkait dengan kerukunan bangsa dan kemanusiaan. Tentu, dalam konteks ini, kita bisa memilih yang terbaik di antara yang kurang baik dalam kerangka yang lebih besar. Semua dikembalikan kepada hati nurani kita!

Jadi, membangun dan mengembangkan politik hati nurani bisa menyentuh dua subyek. Subyek pertama adalah pihak yang akan berkuasa, para pelaku politik dan kekuasaan. Subyek kedua adalah rakyat. Pihak pertama ditantang untuk mengembangkan kejujuran dalam konstelasi politik kekuasaan bukan untuk meraih merebut kekuasaan melainkan demi mengabdi dan melayani kesejahteraan masyarakat terutama mereka yang masuk dalam kategori KLMTD. Pihak kedua, yang kita, rakyat, dipanggil untuk menggunakan hati nurani memilih yang terbaik bagi masa depan kehidupan bangsa dan kesejahteraan bersama. Sekali salah pilih, lima tahun ke depan kita menanggung sendiri akibat dari kesalahan kita!

Selamat memasuki tahun politik dengan mengembangkan dan membangun politik hati nurani. Semua demi menjaga keindahan Pancasila, keutuhan NKRI, kekayaan Bhinneka Tunggal Ika dan terimplementasikannya UUD 1945.***

Sumber: Refleksi Pribadi dan Politik Hati Nurani YB Mangunwijaya (Grafiti: 1997, editor Ignatius Haryanto).

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3148565362324752?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.