Inspiration

Mewujudkan Niat Yang Baik

Dalam tradisi Kristiani, di penghujung retret atau rekoleksi, selalu ada kesempatan membangun niat yang baik. Niat yang baik itu diperjuangkan dan diwujudkan dalam kehidupan selanjutnya. Syukur kepada Allah, saya boleh menjadi saksi perjuangan itu yang terjadi dalam realitas. Seperti apa?

Referensi pihak ketiga: lifesitenews.com

Di akhir retret bersama rekan-rekan The Soegijapranata Institute (TSI) Unika Soegijapranata Semarang, dalam rangka menghayati tema menghidupi pelayanan pastoral, saya membangun niat untuk dengan penuh kasih mewujudkan pelayanan pastoral kampus dengan menghayati Ex Corde Ecclesiae (ECE) artikel 38-39.

Dalam artikel 38 disebutkan, “Pelayanan pastoral merupakan aktivitas Universitas yang bertujuan memberikan kesempatan kepada para anggota komunitas Universitas untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip moral dan religius dengan studi akademik dan aktivitas non-akademik. Dengan demikian mengintegrasikan iman dengan kehidupan. Ini merupakan unsur konstitutif Unika itu sendiri baik dalam strukturnya maupun dalam hidupnya. Komunitas Universitas yang memperhatikan peningkatan ciri Katolik Lembaga akan menyadari dimensi pastoral ini dan peka akan cara bagaimana dimensi pastoral berpengaruh pada segala kegiatan universitas.”

Dari kiri ke kanan: Bu Eny, Bu Retno, Bu Vero, Mbak Ratih, dan Bu Ferijani Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Selanjutnya, pada artikel 39 dijelaskan, “Sebagai ungkapan alami dari identitas Katolik Universitas komunitas Universitas hendaknya memberi contoh praktek dari imannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyediakan waktu bagi refleksi dan doa. Para anggota komunitas yang Katolik hendaknya mendapatkan kesempatan untuk mengasimilasikan ajaran Katolik dan mempraktekkannya dalam hidup mereka. Mereka didorong untuk ambil bagian dalam perayaan sakramen, khususnya sakramen Ekaristi sebagai ibadat komunitas yang paling sempurna.”

Berdasarkan dua artikel tersebut, sebagai Pastor Kepala Reksa Pastoral Kampus (Campus Ministry) Unika Soegijapranata, saya membangun niat dan berjuang untuk mewujudkannya melalui beberapa hal. Pertama, menggiatkan pelayanan sakramental melalui Perayaan Ekaristi Harian (Senin- Jumat) pada pukul 12.00 – 13.00 WIB. Selama ini Unika Soegijapranata sudah menjalankan Misa Jumat (seminggu sekali). Ini bagus. Sejak tanggal 18 Desember 2017, saya menambahkan Misa Harian (Senin-Jumat). Pada hari Senin-Kamis, rerata pelayanan Perayaan Ekaristi berlangsung setengah jam saja (tiga puluh menit). Sedangkan pada hari Jumat, pelayanan Perayaan Ekaristi berkisar sekitar 1 jam. Kedua, kepada rekan-rekan Tim Reksa Pastoral Kampus Unika Soegijapranata, saya mengusulkan, dinamika Perayaan Ekaristi Jumat beragam dengan warna sebagai berikut. Hari Jumat pertama Misa dan Adorasi (sudah berjalan sebelumnya, bagus sekali). Hari Jumat kedua Misa bersama rekan-rekan jurnalis yang bergabung dalam “stola-duce Semarang”. Misa Jumat ketiga diselenggarakan dalam Bahasa Inggris (English Mass). Selebihnya, pada Jumat keempat atau kelima (bila ada), Perayaan Ekaristi dilaksanakan dalam bahasa Indonesia sama seperti Hari Jumat pertama dan kedua dalam bulan. Itu pastoral sakramental yang berpusat dan bersumber pada Ekaristi sesuai artikel 38-39 ECE yang saya tempatkan sebagai niat untuk diwujudkan dengan baik.

Para peserta retret TSI mempersembahkan niat baik dan bertekad mewujudkannya. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Lalu bagaimana dengan yang beragama selain Katolik? Menurut ECE 39, pastoral bagi yang beragama lain tetap harus mendapat perhatian. Pada kalimat terakhir ECE 39 diajarkan, “Apabila komunitas akademik memiliki anggota dari Gereja lain, komunitas Gerejani atau agama lain, inisiatif untuk refleksi dan doa sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka harus dihormati.”

Nah, saya membayangkan, niat baik itu bisa diwujudkan apabila mimpi membuat Lonceng Kebangsaan bisa segera diwujudkan. Lonceng Kebangsaan menjadi penanda penghayatan spirit Mgr. Albertus Soegijapranata yang selaras dengan ECE 38-39, mewariskan spirit 100% Katolik, 100% Patriotik. Sesudah kemerdekaan, spirit itu menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia. Di Unika Soegijapranata, mengingat bahwa keberagaman agama dan kebangsaan mewarnai komunitas Universitas, maka, spirit 100% Katolik, 100% Indonesia saya kembangkan menjadi 100% religius (apa pun agamanya), 100% nasionalis (apa pun kebangsaannya).

Dalam konteks itulah Lonceng Kebangsaan bisa dihadirkan. Lonceng diwujudkan dalam bentuk jam elektronik yang setiap jam tertentu menggemakan nada tertentu dan terdengar di seluruh area kampus. Misalnya, pada pukul 10.00 WIB bergema nada lagu “Bagimu Negeri” untuk mengenang detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada pukul 11.45 bisa digemakan nada lagu “Tamba Ati” (atau yang sejenis) sebagai penanda persiapan “ishoma” (istirahat, sholat dan makan siang) bagi yang beragama Islam bersiap menjalankan sholat Luhur (Dzuhur), sementara bagi yang beragama Katolik bersiap diri untuk mengikuti Misa Harian. Pada pukul 12.00 WIB bergema nada lagu “Ave Maria” penanda ajakan Doa Angelus dan dimulainya Misa Hariani bagi yang beragama Katolik. Bagi yang beragama Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu menyelenggarakan refleksi dan doa sesuai dengan agama dan keyakinannya. Selanjutnya, pada pukul 15.00 WIB bisa digemakan nada lagu “Kerahiman Ilahi” sebagai penanda doa Kerahiman Ilahi bagi yang beragama Katolik, dan yang beragama Islam menjadi penanda untuk menjalankan sholat Ashar. Lalu, pada pukul 18.00 bisa digemakan nada yang bertema “Maria” untuk penanda Doa Angelus bagi yang beragama Katolik, sekaligus bisa menjadi penanda pula bahwa yang beragama Islam bersiap diri menjalankan Ibadat Sholat Maghrib.

Itu sekadar contoh saja dari bunyi nada Lonceng Kebangsaan dan Religiositas. Prinsipnya, lonceng itu menghadirkan spirit Mgr. Albertus Soegijapranata yang menjadi patron Unika Soegijapranata khususnya spirit 100% religius (apa pun agamanya) dan 100% nasional (apa pun kebangsaannya).

Itulah niat baik lain yang saya mimpikan sesudah retret agar bisa segera diwujudkan dengan baik. Bila niat itu bisa terwujud, minimal semangat ECE 38-39 dapat diwujudkan dari sisi pelayanan pastoral. Untuk mewujudkan niat baik menghadirkan Lonceng Kebangsaan masih membutuhkan perjuangan dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak yang berkompeten di bidang elektronik. Untuk itu, melalui tulisan ini, saya memohon doa restu dan dukungan agar niat baik tersebut bisa diwujudkan.

Bersama Romo Prof Dr Paul SJ mendalami Ex Corde Ecclesiae dalam retret Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Akhirnya, syukur kepada Allah, pada hari Senin (5/2/2016), saya juga menyaksikan perwujudan niat yang baik yang disharingkan oleh Rikarda Ratih, salah satu anggota dan peserta retret TSI. Mbak Ratih berniat, sepulang retret, akan mengajak rekan-rekan Tim Perpustakaan untuk mengikuti Misa Harian di Kapel Unika. Luar biasa, selamat dan terima kasih, Mbak Ratih dan rekan-rekan Tim Perpustakaan yang beragama Katolik sudah mewujudkan niat baik itu. Meski hujan deras turun sebelum, selama dan sesudah Misa Harian, mereka tetap berbondong-bondong hadir dan mengikuti Misa Harian di Kapel St. Ignatius Unika Seogijapranata.

Menyaksikan hal itu, saya sangat terharu dan bersyukur. Secara publik, saya mengucapkan terima kasih atas upaya untuk mewujudkan niat baik itu. Sesuai dengan agama dan keyakinan kita masing-masing, kita pun dipanggil untuk selalu mewujudkan niat baik dalam kehidupan kita bersama. Terutama, mari kita wujudkan niat baik untuk membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermatabat dan beriman, apa pun agama kita; di mana pun kita berada.***

Sumber: Pengalaman pribadi dan Ex Corde Ecclesiae (Paus Yohanes Paulus II, Vatikan: 15 Agustus 1990).

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1322208423787214?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.