Inspiration

Selamat Tahun Baru China, Kenanganku Melayani Masyarakat Tionghoa Yang Beragama Katolik

Menyambut Tahun Baru Imlek 2018 (atau Tahun Baru China 2565), tiba-tiba saya teringat akan kenangan indah saat bertugas di Gereja Katolik Katedral, Tanah Mas, dan Kebon Dalem Semarang. Kenangan itu secara khusus terkait dengan pengalaman melayani masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik. Seperti apakah pengalaman itu?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Setiap Tahun Baru, mereka saling mengucapkan, “Happy Chinesse New Year!” Begitulah ucapan tersebut dalam bahasa Inggris, dan bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kita bisa mengatakan “Selamat Tahun Baru China!”

Mereka yang menggunakan bahasa Mandarin akan saling mengucapkan kalimat-kalimat ini. “Xin Nian Kuai Le! Ini adalah ucapan pertama yang harus disampaikan, yang berarti “Selamat Tahun Baru!” Baru kemudian, sesudah itu kita mengucapkan kalimat, “Gong Xi Fa Cai!“. Artinya, semoga kemakmuran terjadilah! Lalu bisa juga ditambah dengan kalimat “Wan Shi Ru Yi!” yang berarti semoga segala harapanmu terpenuhi. Bisa juga ditambah dengan ucapan, “Shen Ti Jian Kang!” yang berarti semoga selalu sehat.

Itulah kenangan yang melintas dalam angan ingatanku setiap kali memasuki Tahun Baru China. Sungguh mengasyikkan, kendati pada awalnya, saya sangat “tertatih-tatih” untuk mengucapkannya. Tidak mudah dan harus berkali-kali mengulanginya, bahkan harus siap dengan contekan untuk membacanya, agar tidak salah ucap.

Sambil belajar, saya juga mencoba mengenal sejarah. Di Indonesia, Tahun Baru ini juga sering disebut Hari Raya Imlek, yang pada tahun 2018 ini dirayakan pada Hari Jumat, 16 Februari.

Adalah Presiden Abdurrahman Wahid yang secara luar biasa istimewa membuka kesempatan bagi masyarakat Tionghoa (di) Indonesia untuk merayakan Imlek secara terbuka dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Lalu, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional untuk menegaskan Keputusan Gus Dur.

Sebagaimana dilansir dalam Tajuk Rencana Harian Kompas (15/2/2018), KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur, sebagai Presiden Republik Indonesia pada masanya, telah berhasil “membumikan kemajemukan Indonesia dan membuka ruang ekspresi bagi tampilnya liong dan barongsai dalam perayaan Imlek.” (Tajuk Rencana Kompas, 15/2/2018, halaman 6).

Seperti sudah saya sebut di awal tulisan ini, sejak bertugas di Semarang, saya kebetulan sangat intensif melayani masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik (di Katedral, di Tanah Mas, dan di Kompleks Pecinan Kebon Dalem). Bahkan, dalam rangka pelayanan tersebut dan dalam rangka mendampingi serta menghormati mereka, saya pun belajar bahasa Mandarin. Minimal, saya bisa membaca tulisan dalam huruf pin yin.

Bahkan ketika bertugas di Kebon Dalem, pada tahun pertama saya menawarkan kepada Umat Katolik Tionghoa untuk merayakan Ekaristi dalam bahasa Mandarin, sebulan sekali. Beberapa orang yang dikenal sebagai Laoshi (Guru), mendampingi, melatih dan memberikan les privat kepadaku. Terima kasih kepada mereka yang membantu saya dengan setia.

Di sini, saya mendapat kenangan lain lagi. Sejauh saya belajar bahasa, inilah bahasa tersulit yang pernah kukenal sebab ada lima intonasi nada yang bila dipergunakan untuk mengucapkan satu kata, artinya bisa sangat berbeda. Intonasi kata yang sama memiliki arti dan makna yang berbeda satu dengan lainnya. Padahal satu kata yang sama, namun nadanya berbeda, tinggi datar, naik, turun naik, turun dan ringan memiliki arti yang berbeda. Contohnya, kata ma dengan nada tinggi datar berarti mama. Sedangkan dalam nada naik berarti jerami. Sementara bila diucapkan dengan nada turun naik justru berarti kuda. Bila kata ma diucapkan dengan nada turun berarti marah. Tetapi, kalau diucapkan dengan nada ringan akan memiliki arti apakah. Sulit bukan? Namun itulah kenangan indah yang selalu kuingat.

Salah satu diktat saat aku mengikuti kursus bahasa Mandarin yang masih kusimpan sampai saat ini. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Belum lagi saat kita membaca huruf-huruf yang terbaca dengan ucapan saling tukar. Misalnya, huruf d terbaca t dan sebaliknya, huruf k terbaca g dan sebaliknya, huruf b terbaca p dan sebaliknya. Masih ada lagi, huruf j dibaca c. Rumit namun mengasyikkan oleh sebab membutuhkan kecermatan dan ketangkasan laksana bermain kungfu, kita harus sigap bila tidak ingin keliru. Sekali keliru, terdengar di telinga, akan menimbulkan arti yang berbeda.

Perpaduan antara nada dan ucapan itulah yang sangat sulit, sekaligus mengasyikkan saat kita mau mempelajarinya dengan cermat dan bahagia. Lebih gampang bila kita menyanyikannya, sehingga sekurang-kurangnya, intonasi nada sedikit lebih ringan dibandingkan bila hanya dibaca semata.

Itulah, sedikit kenanganku melayani masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik di Semarang, pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. (Pengalaman saat saya bertugas di Sumatera Utara, berbeda lagi. Sebagian besar dari mereka menggunakan bahasa Hokkian.)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Akhirnya, menyambut Tahun Baru China 2565, saya ucapkan: Selamat Tahun Baru 2065. “Xin Nian Kuai Le! Gong Xi Fa Cai! Wan Shi Ru Yi! Shen Ti Jian Kang! Zhu Iesu Baoyou Nimen! Xiexie! Wo ai nimen! ***

Sumber: refleksi pengalaman dan pribadi, dalam belajar bahasa Mandarin salah satunya bersama Laoshi Eddy Siswoyo

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/920063719800929?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.