Inspiration

Teladan Kejujuran dan Kebaikan Sopir Taksi Express

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dari sisi saya pribadi, saya sudah menulis pengalaman ini dalam artikel yang dimuat di laman ini (UC We Media tz.ucweb.com, berjudul “Tuhan Tak Pernah Cuek, Percayalah!”, 2018/02/11 03:43 untuk kategori Inspirasi). Dalam artikel ini, ijinkan saya menulis sisi kejujuran dan kebaikan Sopir Taksi Express tersebut. Mengapa?

Pertama, sesudah peristiwa itu saya renungkan, saya merasa sangat berhutang budi kepada Sopir Taksi Express yang jujur dan baik hati itu. Saya tidak tahu, dengan cara apa saya harus membalas kejujuran dan kebaikan hatinya. Saya tidak lagi bisa menghubungi beliau lagi.

Referensi pihak ketiga Sumber: kompasiana.com

Kedua, tulisan ini sekaligus menjadi ungkapan syukurku kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan terima kasihku kepada Sopir Taksi Express (kusebut seperti ini untuk menghormati dan menghargai beliau yang bahkan tidak kuketahui namanya, namun, sungguh, beliau adalah Sopir Taksi Express yang layak mendapatkan penghargaan atas kejujuran dan kebaikannya itu).

Ketiga, ijinkan saya menarasikan kebaikannya dalam perspektif saya. Pada hari Sabtu (10/2/2018), saya mengakhiri keterlibatannya dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa yang diselenggarakan oleh Prof Dr Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Kepresidenan untuk Dialog dan Peradaban Kerukunan Bangsa. Sesudah bersama seluruh peserta Musyawarah Besar itu menyerahkan hasil rekomendasi kepada Presiden Joko Widodo di Istana Presiden di Bogor, saya melanjutkan perjalanan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Malam itu, saya harus terbang ke Semarang, sebab esok harinya di Hari Minggu, ada jadwal pelayanan yang harus dilaksanakan sesuai dengan janjian yang sudah lama disepakati dengan kelompok Paguyuban Belarasa Kebon Dalem, Semarang. Saya juga berjanjian untuk menerima rombongan tamu dari Surabaya dalam rangka acara kerukunan umat pula yang bertajuk “Warkop Anak Bangsa, Muda, Berbhinneka, Berkarya bagi Indonesia”. Itulah sebabnya, saya harus kembali ke Semarang malam itu.

Dari Grand Sahid Jaya Hotel di kawasan Soedirman Jakarta, saya naik taksi yang mangkal di depan Grand Sahid Jaya menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Saat itulah, ponsel saya tertinggal di jok belakang taksi tersebut, tempat saya duduk. Padahal, di dalam tempat ponsel itu juga terdapat kartu identitas saya dan kartu lainnya. Bisa dibayangkan dan begitulah kenyataannya, karena saya tidak bisa menunjukkan kartu identitas yang turut tertinggal di taksi bersama ponselku itu, maka, petugas check-in mengatakan tidak bisa mengurus proses keberangkatanku.

Padahal, waktu terus melaju menuju saat-saat keberangkatan yang kian dekat. Dalam keadaan kritis itu, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Seketika Tuhan menjawab doanya. Bahkan, sementara saya sedang berdoa, petugas security menepuk bahuku dan mengatakan bahwa saya ditunggu sopir taksi di depan. Sontak seketika, saya berlari keluar. Dan benar, Sopir Taksi yang jujur dan baik hati itu kembali ke bandara hanya demi mengantarkan ponsel saya yang tertinggal di dalam taksinya. 

Nah, luar biasa jujur dan baik hati Sopir Taksi itu bukan? Ia sungguh jujur dan baik hati. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikannya itu. Mestinya, Sopir Taksi Express yang mangkal di depan Grand Sahid Hotel Jaya kawasan Soedirman Jakarta pada pukul 19.20-an itu mendapatkan penghargaan atas kebaikan dan kejujurannya.

Saat beliau mengembalikan ponsel saya, saya hanya bisa memberikan rangkulan, pelukan dan ciuman serta sedikit rupiah saja. Mestinya, beliau layak mendapatkan lebih banyak lagi, bahkan tak terhitung banyaknya imbalan jasa kebaikan dan kejujurannya. Saat ini saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan yang Maha Baik, memberikan limpahan berkat kepadanya sehingga beliau selalu dijaga dalam kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan. Hanya itu yang saat ini bisa kulakukan untuk membalas kebaikan Sopir Taksi Express yang baik hati itu.

Akhirnya, saya putuskan untuk menulis kisah itu secara lebih detil melalui UC We Media ini. Siapa tahu, Sopir Taksi Express yang jujur dan baik hati itu bisa mendapat penghargaan atas kejujuran dan kebaikannya entah oleh siapa pun yang masih peduli tentang kejujuran dan kebaikan. Sejauh masih kuingat, Sopir Taksi tersebut mengenak kopiah. Di spion tengah depan atas tergantung tasbih. Saat bisa berjumpa saya dan mengembalikan ponsel saya di bandara, beliau juga mengucapkan syukur alhamdulillah. Dari data-data itu, saya menyimpulkan, beliau adalah seorang yang beragama Islam yang jujur dan baik hati. Beliau sudah memberikan contoh bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin kepada saya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah, semoga narasi ini bermanfaat dan terutama bagi pihak-pihak terkait yang bisa membantu memberikan penghargaan kepada beliau sebagai Sopir Taksi Express yang jujur dan baik hati. Terima kasih Saudaraku, Panjenengan telah menyelamatkan aku dari berbagai kesulitan simultan dan beruntun dengan mengantarkan ponselku yang tertinggal di taksi yangPanjenengan kendarai. Seandainya tidak, pasti saya tidak bisa pulang, seluruh rencana jadwal pelayanan saya pun terbengkelai. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1828996088497080?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.