Inspiration

Belajar Hidup Rukun, Damai dan Bersaudara dari Anggota Tubuh Kita Sendiri

Mau mengalami kerukunan dan persaudaraan yang sejati? Belajarlah dari tubuh kita sendiri! Loh, memangnya seperti apa dan bagaimana?

Orisinil. Sumber dari www.HeartoftheNation.org

Pertama, mungkin kita mengalami bahwa anggota tubuh kita tidak lengkap. Jangan putus asa, jangan khawatir dan jangan kecewa. Saya banyak belajar dari tokoh yang saya kagumi seperti tampak dalam youtube yang terlampir dalam tulisan ini. Ia bisa rukun berdamai dengan hati, jiwa, pikiran dan seluruh hidupnya, sehingga menjadi orang yang berhasil, diberkati, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Dialah salah satu idola saya dalam hal bermusik dan bernyanyi. Dia adalah José Antonio Meléndez Rodríguez yang lahir pada tanggal 9 Januari 1962. Saya sangat mengagumi dia, sebab walau pun tidak mempunyai lengan, tangan, dan jemari baik kiri maupun kanan, namun dia seorang gitaris yang hebat dengan kakinya. Ia seorang musisi, motivator dan gitaris yang luar biasa istimewa. Saya bersyukur boleh menyanyikan salah satu langunya yang berjudul “You Are My God” dalam salah satu album bersama untuk fundraising pembangunan rumah pendidikan calon imam projo Semarang di Tahun Orientasi Rohani Sanjaya, Jangli, Semarang.

Pada tanggal 15 September 1987, Tony bermain gitar dengan kakinya, dan bernyanyi dengan suara emasnya di hadapan Bapa Suci Johanes Paulus II di Los Angeles. Pemimpin Umat Katolik sedunia asal Polandia kala itu, tampak terpesona dalam kekaguman melihat dan berjumpa Tony yang tanpa lengan, tangan dan jemari baik kiri maupun kanan, namun tetap optimis dan penuh pengharapan menjadi sosok yang berhasil meraih kemenangan hidup jasmani maupun rohani. Kita bisa membaca riwayat hidupnya di www.tonymelendez.com/English/Biography.html secara lebih detail. Kita juga bisa menikmati permainan gitar dengan kakinya serta suara emasnya di youtube.

Kedua, belajar dari pengalaman Tony, mari kita perhatikan anggota tubuh kita. Dari bawah, ada telapak kaki, kaki yang lengkap dengan jari-jarinya. Naik sedikit ada betis, lutut, dan paha. Lalu ada perut, dada, leher dan kepala. Di kepala ada mata, hidung, mulut dan telinga.

Referensi pihak ketiga

Sejenak mari kita angkat kedua tangan kita. Perhatikanlah tangan kanan. Syukur kepada Allah, tangan kanan (dan perhatikan pula tangan kiri) kita lengkap dengan lima jari. Ada ibu jari, ada jari telunjuk, ada jari tengah, ada jari manis dan kelingking. Puji Tuhan, lengkap! Andaikan ada yang tidak lengkap pun, syukur kepada Allah, sebab ketidaklengkapan anggota tubuh kita, pasti akan menjadi jalan kesaksian tentang kehidupan yang indah seperti dilakukan oleh Tony Meléndez.

Ketiga, menyadari keadaan anggota tubuh kita ternyata sangat penting tak hanya dalam rangka berdamai dengan diri sendiri, melainkan juga dalam rangka membangun hidup rukun dalam keberagaman. Tubuh kita menjadi sebuah perumpamaan terbaik untuk menghayati kerukunan dalam keberagaman.

Bayangkan, betapa tersiksa hidup kita, bila anggota tubuh kita tidak terdiri dari bermacam-macam anggota. Ada kepala, mata, hidung, telinga, mulut, leher, lengan, tangan, jemari dan seterusnya. Bayangkanlah, apa yang terjadi kalau seluruh tubuh kita hanya terdiri dari kepala saja! Tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa perut! Lalu tubuh kita pun tidak akan bahagia.

Syukurlah, tubuh kita terdiri dari berbagai macam anggota yang beragam dan hidup dalam kerukunan, persatuan dan persaudaraan, bahkan terjadi secara natural. Belajar dari realitas anggota tubuh kita yang beragam ini, kita pun bisa membangun kerukunan dan persaudaraan sejati dalam keberagaman. Keberagaman adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga tulisan sederhana dan kesaksian hidup José Antonio Meléndez Rodríguez yang kutampilkan ini bermanfaat bagi kita. Mari kita belajar hidup rukun dan bersaudara, berdamai satu terhadap yang lain, sama seperti anggota-anggota tubuh kita yang selalu saling bekerjasama satu terhadap yang lain. Bahkan, kendati kita mengalami keterbatasan, kekurangan dan cacat secara fisik pun, semoga jiwa, hati dan pikiran kita tidak cacat oleh hasrat untuk saling bertikai dan berkelahi serta saling menghina hanya karena kita berbeda. Perbedaan dalam keberagaman justru menjadi kesempatan bagi kita untuk membangun kehidupan yang rukun dan bersaudara.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1522075245686652?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.