Inspiration

Solidaritas dalam Kebersamaan Pemulung Rongsokan

Banyak cara untuk mengungkapkan kasih sayang dan solidaritas kepada sesama untuk menandai rasa syukur kita. Salah satunya adalah dengan makan bersama para Pemulung Rongsokan di Dadabsari, Semarang. Sedikitnya, 150-an Pemulung dan anak-anak hadir pada kesempatan itu. Bagaimana dan seperti apa persisnya?

Bersama Prof Agnes dan teman-teman LBH APIK dan JPPA Semarang (Ayu dan Nur) serta Pasutri Samad (dua paling kanan). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jumat pagi menjelang siang (16/2/2018) bertepatan dengan libur nasional Tahun Baru Imlek 2018, bersama dengan Prof Agnes Widanti, Rekan-rekan LBH APIK Semarang, Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Komunitas Pemulung Sumber Nikmat; saya ikut ambil dalam aksi solidaritas dan kasih sayang. Bentuknya sederhana, kita berkumpul, saling meneguhkan, dan menikmati santap pagi menjelang siang.

Pasutri Samad yang menjadi koordinator lapangan menyambut kami dengan ramah dan bahagia. Pak Sumardi menjemputku di Pastoran Johar Wurlirang dan lalu menjemput Prof Agnes di rumah kediamannya untuk kemudian berangkat bersama menuju lokasi aksi solidaritas. Aksi makan bersama pemulung dan anjal (anak jalanan) ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi selama ini.

Setiba di lokasi, saya langsung menyalami semua ibu dan bapak Pemulung yang sudah berkumpul. Kusalami mereka satu per satu dengan cinta dan kasih sayang. Mereka pun menyambut dengan ramah dan jabat erat yang penuh berkah. Acara dibuka oleh Mbak Nur, salah satu Tim dari JPPA dan LBH APIK. Selanjutnya, Mas Samad membuka dengan ucapan terima kasih dan selamat datang. Lalu, Muhammad Rosidi membuka dengan doa.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada kesempatan itu, Mbak Nur dan Mas Samad memintaku untuk memberikan sambutan. Dalam sambutanku, pertama-tama kuhaturkan terima kasih kepada Prof Agnes dan Mas Samad bersama istri tercinta, atas kesempatan bagus untuk saling bersilaturahmi dalam bentuk makan bersama itu.

Kepada para hadirin saya katakan, betapa indah dan bahagianya bisa saling hidup rukun seperti yang kami alami. Kumpul bersama, makan bersama, minum teh bersama, dan menyanyi bersama. Inilah kebersamaan yang nyata. Semoga dengan kerukunan seperti ini, kita juga dapat hidup damai dalam bekerja, dalam semangat kebersamaan di tengah kemajemukan. “Nggih mboten?” Pungkasku sambil bertanya menunggu jawaban mereka. Ternyata dengan serentak dan lantang, mereka semua menjawab, “Nggih! Leres!

Syukur kepada Allah, jawaban mereka itu mengafirmasi dan menyetujui yang kusampaikan kepada mereka, bahwa kita semua harus hidup rukun dan damai, dalam persaudaraan dan keselarasan tanpa membeda-bedakan satu terhadap yang lain. Sesudah itu, Prof Agnes juga menyampaikan rasa terima kasihnya, dan kami pun menikmati santap bersama. Kami semua menikmati nasi sup yang disiapkan oleh Mas Samad bersama istrinya. Semua bisa makan, bahkan baru kali ini, kami kekurangan nasi. Maka, beberapa di antara kami harus bersabar menunggu nasi untuk bisa menikmati santap bersama.

Sementara mereka makan, saya meniup saksofonku, mengalunkan lagu-lagu kasih sayang dan kerukunan. Ada seorang bapak yang tiba-tiba nyeletuk, “Wah enak ya, makan kita seperti di kafe. Diiringi musik klasik. Asyik ya.” Padahal, yang saya alunkan dengan saksofon saya adalah lagu-lagu campur sari. Tetapi memang, juga saya lantunkan beberapa lagu buatan sendiri, tanpa syair, hanya melodi. Mungkin itu yang dianggap musik klasik, oleh sebab lagunya memang belum mereka kenal.

Berbeda dengan ketika saya melantunkan tembang “Tamba Ati”, mereka langsung mengikutinya dengan suara senandung mereka dalam suara sayup-sayup. Mereka tampak mengangguk-angguk mengamini tembang itu.

Sesudah makan, mereka masih menerima paket beras dan roti yang dipersiapkan oleh Mas Samad dan istrinya. Mereka sudah memegang kupon masing-masing dan lalu menukarkan kupon itu kepada Muhammad Rosidi untuk ditukar dengan seplastik beras dan roti. Antrian cukup panjang dan bahkan sedikit berdesak-desakan. Namun, semuanya berjalan dengan tertib, aman dan terkendali.

Dari kanan ke kiri: Mbak Samad, Prof Agnes, Mas Samad, saya dan Mas Muhammad Rosidi. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kepada kami, Mas Samad mengisahkan banyak hal yang dilakukannya dalam mendampingi para Pemulung Rongsokan Sumber Nikmat. Antara lain, terjadinya perubahan sikap dari yang biasa suka berhutang menjadi suka menabung atas pendampingannya. Begitulah di antara mereka hidup saling menolong tanpa membeda-bedakan. Mereka sungguh menjadi contoh kewarasan hidup bersama dalam keberagaman di tengah perjuangan sebagai warga bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Acara seperti ini kalau bisa dibuat setiap bulan bagus loh, Romo!” bisik Mas Muhammad Rosidi kepadaku. “Insya Allah Mas. Semoga ada jalan terbaik untuk bisa melakukannya. Kalau tidak setiap bulan, ya bisa diatur tiga bulan sekali. Yang seperti ini harus bekerjasama dengan banyak pihak agar berjalan dengan baik!” jawabku kepada Mas Muhammad Rosidi.

Demikian kisah inspiratif membangun solidaritas dalam kebersamaan Pemulung Rongsokan yang kualami pada Tahun Baru Imlek 2018. Terima kasih Prof Agnes. Terima kasih Mbak Nur. Terima kasih Mas Samad dan istri tercinta. Terima kasih Mas Muhammad Rosidi. Semoga peristiwa dalam kisah nyata solidaritas yang indah ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa terus dilakukan dalam kerukunan, perdamaian, dan persaudaraan. Di situlah, sisi kecil perabadan kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya, kita wujudkan!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1218776918560316?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.