Inspiration

Cara Berdamai Dengan Masa Lalu Yang Menyakitkan? Jadilah Pembawa Damai; Jangan Dendam

Apa yang harus kita lakukan untuk berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan? Saat kita tersakiti, entah oleh siapa pun atau apa pun, apakah yang harus kita lakukan? Inilah dua jawaban yang saya refleksikan dari pengalaman yang saya hayati selama ini. Apa itu?

Referensi pihak ketiga dari www.sesawi.net

Pertama, jadilah pembawa damai! Menjadi pembawa damai itu tidak mudah, apalagi di saat kita berada dalam disposisi sebagai orang yang tersakiti dan terlukai. Namun, syukur kepada Allah, saya sangat terbantu dengan berpegang pada sebuah nasehat yang kebetulan selalu saya ajarkan juga, oleh sebab saya harus mewartakannya dalam banyak kesempatan.

Ajaran itu saya ambil dari dokumen yang berjudul “Nostra Aetate”. Dokumen ini berisi ajaran untuk membangun hidup yang rukun dengan siapa pun dalam cara pandang yang positif. Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang sejak 1 Mei 2008 hingga hari ini, saya terus mencoba menghayatinya dan mewartakannya. Jadilah pembawa damai, juga atas peristiwa-peristiwa atau terhadap pribadi-pribadi yang membuat diri kita tersakiti dan terlukai.

Referensi pihak ketiga dari uniqueviral.com

Kedua, jangan balas dendam. Sesakit apa pun hati dan hidup kita akibat luka yang kita terima dari orang lain, jangan pernah balas dendam. Dalam setiap kesulitan yang terjadi, khususnya dalam relasi dengan siapa pun, kita tidak boleh mengedepankan sikap dendam. Sikap dendam harus dibuang jauh-jauh bahkan dipendam dalam-dalam.

Dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah, tetapi justru semakin menambah masalah. Sekurang-kurangnya masalah bagi diri sendiri, sebab dendam justru akan merusak diri sendiri. Alih-alih mengembangkan sikap balas dendam, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di dalam kehidupan kita yang disakiti dan dilukai oleh siapa pun.

Saya sangat sependapat dengan capture kalimat-kalimat ini. Itulah sebabnya, kujadikan capture itu sebagai ilustrasi untuk artikel saya ini. Referensi pihak ketiga, dari www.pinterest.com

Maka, dua hal itu, jadilah pembawa damai dan janganlah balas dendam laksana dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan, khususnya dalam upaya berdamai dengan peristiwa atau pribadi yang menyakiti kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati!***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Nostra Aetate, khususnya artikel 5.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2399246189878683?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.