Inspiration

Hidup Bahagia Itu Sederhana: Lakukanlah Dengan Saling Memberi Perhatian

Hidup bahagia itu sederhana: lakukanlah dengan saling memberi perhatian. Ada banyak cara untuk saling memberi perhatian di antara para sahabat agar hidup kita bahagia. Perhatian para sahabat pasti mendatangkan peneguhan yang membahagiakan di dalam kehidupan kita. Inilah refleksiku atas pengalaman pribadi yang baru saja terjadi. Seperti apakah?

Foto dengan kue puding oleh-oleh para sahabatku dari Girli (Pinggir Kali) Kebon Dalem. Tampak dalam foto itu, salah satu lukisanku yang sederhana “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita”. Foto wajahku yang tertempel di kue puding kuangkat dan kutempelkan di dadaku, tanda bahwa kuterima perhatian mereka dengan gembira, disaksikan Ucil, sahabatku. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada hari Sabtu (24/2/2018), saya menerima perhatian berupa kunjungan dari para sahabat yang meneguhkan hidup saya, yang membuat kami bahagia. Mereka sengaja datang untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku. Meski sudah lewat, sebab saya berulang tahun pada tanggal 14 Februari 2018 yang lalu, namun perhatian dan kunjungan itu tetap istimewa dan sangat berarti bagiku. Peribahasa mengatakan, it’s better late than never!

Hal yang sama kuterima dengan penuh syukur dan bahagia, ketika sosok pribadi yang sangat saya kagumi dan idolakan dalam hal kesucian, kerendahan hati dan keheningan mengirimkan pesan yang bagiku memuat perhatian yang sangat mendalam. Kalimat sapaannya singkat. Sangat halus, namun penuh berkat. Dalam bahasa Jawa, Beliau mengirimkan pesan begini, “Rama najan telat ngaturaken proficiat. Sugeng tanggap warsa. Mugi tansah linuberan berkah pinaringan bagas saras.” (Rama, meski terlambat, saya ucapkan proficiat. Selamat hari ulang tahun. Semoga selalu berlimpah berkat, selalu sehat dan kuat.)

Itulah ucapan perhatian yang kuterima dari Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta, yang sebelumnya juga bertugas melayani sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang. Dengan bahagia, gembira dan penuh syukur, saya pun menjawab, juga dalam bahasa Jawa, “Matur sembah nuwun Bapak Uskup paringipun berkah. Sih Dalem Gusti tansah rumentah. Berkah Dalem.” (Terima kasih banyak Bapak Uskup atas berkatnya. Kasih setia Tuhan selalu tercurah. Tuhan memberkati.)

Kue puding yang dibawa oleh para sahabatku dari Girli (Pinggir Kali) Kebon Dalem, bergambar wajahku saat daku bertugas di sana (2012-2015). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Perhatian yang membahagiakan dapat kita berikan setiap saat kepada siapa saja. Tak ada kata terlambat untuk memberikan perhatian. Perhatian seperti itu selalu meneguhkan hidup kita. Kita pun dipanggil untuk saling memperhatikan satu terhadap yang lain, sesederhana apa pun bentuk perhatian itu.

Itulah sebabnya, saya sangat mengapresiasi dan menghargai perhatian yang semalam kuterima, atau sapaan melalui pesan singkat dari Mgr. I. Suharyo, seperti yang kukutip dalam tulisan ini. Perhatian itu kuterima sebagai suatu daya kasih yang meneguhkan dan membahagiakan hidup saya yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Para sahabat yang semalam hadir memperhatikan dan meneguhkan saya datang dari pinggir kali (Girli) Semarang yang berada di Kebon Dalem. Mereka beramai-ramai memberikan perhatian kepadaku. Mereka datang memberi perhatian dengan cara mereka. Maka, saya pun membalas perhatian mereka dengan cara saya pula. Balasan perhatianku itu ternyata juga membahagiakan mereka. Minimal, itulah yang mereka ungkapkan dengan jujur.

Berhubung saya tidak mempunyai apa-apa di pastoran, maka saya menawarkan kepada mereka hidangan rohani. Saya mengajak mereka bersama-sama merayakan Ekaristi dalam integrasi dengan Ibadat Completa (doa lima waktu kami para imam, biarawan-biarawati). Asyik juga mengintegrasikan Ibadat Completa dengan Perayaan Ekaristi. Seumur hidupku, baru kali itu saya melakukannya. Ternyata sangat indah dan menyentuh hati juga.

Kubalas perhatian mereka dengan mengajak mereka mengintegrasikan Ibadat Completa dan Perayaan Ekaristi di ruang doaku di Johar Wurlirang dan memberikan hidangan rohani bagi mereka. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Diawali dengan bagian pembuka Ibadat Completa dan pendarasan-pendarasan Mazmur, dilanjutkan dengan Ibadat Sabda dan seterusnya, masuk ke dalam Liturgi Ekaristi, dan ditutup dengan menyanyikan kidung malam dan penyerahan diri, serta berkat perutusan. Itulah bentuk balasan yang perhatianku kepada mereka yang datang padaku memberikan perhatian yang meneguhkan daku.

Begitulah, pada akhirnya, kami saling memperhatikan dan saling meneguhkan satu terhadap yang lain dalam kasih dalam kebahagiaan. Kebersamaan ditutup dengan menikmati santap malam sederhana atas oleh-oleh yang mereka bawa sendiri. Kue puding yang mereka bawa pun saya potong dan bagikan kepada mereka semua satu per satu. Kepada mereka yang masih muda dan datang bersama pacarnya, potongan kue saya berikan kepada mereka berdua sebagai calon pasangan. Kebetulan ada dua pasang yang datang dalam disposisi sedang saling berpacaran di antara mereka. Mereka pun tampak bahagia menerima potongan-potongan kue puding itu. Dengan cara itu, saya pun membahagiakan mereka secara sederhana.

Demikian refleksi sederhana tentang kebahagiaan hidup yang mengalir melalui cara saling memperhatikan di antara para sahabat yang meneguhkan. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3395296194793395?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.